Beberapa hari setelah mereka sepakat menjadi pasangan, Patrick mengirim pesan menanyakan apakah ia boleh berkunjung pada Sabtu. Cinta memeriksa jadwal dan mengundangnya untuk minum teh pukul empat, dengan rencana ia pulang pukul enam. Patrick menyetujui waktu tersebut. Cinta menyiapkan ruang tamu, tetapi tidak merasa harus mengubah rumah agar tampak sempurna.
Sabtu sore, bel berbunyi. Cinta melihat siapa yang datang melalui lubang pintu, lalu membuka setelah mengenali Patrick. Ia tersenyum dan mempersilakannya masuk. Patrick tidak mencoba membuka pintu sendiri atau melangkah sebelum ia mengundang. Ia membawa kue kecil dan bertanya apakah Cinta ingin menerimanya. Cinta berkata boleh.
Mereka minum teh dan berbicara tentang pekerjaan. Patrick memuji ruang kerja Cinta, lalu bertanya tentang buku-buku di rak. Ia tidak menyentuh barang atau membuka pintu kamar. Ketika Cinta mengatakan ia ingin menunjukkan naskah yang selesai, Patrick menunggu sampai ia mengambilnya. Ia tidak bergerak mengikuti Cinta tanpa diminta.
***
Waktu menunjukkan hampir pukul enam. Cinta menutup buku dan berkata kunjungan hari itu selesai. Patrick melihat jam dan segera berdiri. Ia tidak meminta tambahan waktu atau berkata baru sebentar. Cinta mengantarnya ke pintu. Patrick berterima kasih atas teh dan pulang.
Setelah pintu tertutup, Cinta tidak merasa perlu memeriksa setiap sudut atau meminta maaf karena mengakhiri kunjungan tepat waktu. Ia merasa rumahnya tetap miliknya. Ia mengirim pesan kepada Patrick bahwa ia senang bertemu dan berharap ia tiba dengan aman. Patrick membalas ia juga senang dan sudah sampai di rumah.
Anna menelepon malam itu. Cinta memberitahunya bahwa ia dan Patrick sepakat menjadi pasangan. Anna bertanya apakah Cinta merasa yakin. Cinta menjawab ia yakin ingin mencoba, tetapi tidak mengklaim tahu masa depan. Anna mengucapkan selamat dan tidak menanyakan kapan mereka akan menikah. Cinta tertawa dan mengganti topik ke rencana makan siang.
Ia menulis di jurnal bahwa hubungan baru tidak menghapus kewaspadaan, tetapi juga tidak harus dikendalikan oleh ketakutan. Ia bisa menikmati kedekatan dengan batas yang jelas. Ia meletakkan jurnal dan menyiapkan sarapan untuk esok. Rumah tetap terasa seperti rumahnya sendiri.
Cinta menentukan batas kunjungan sebelum Patrick tiba. Ia mengirim pesan tentang waktu, durasi, dan bahwa ia ingin mereka minum teh di ruang tengah saja. Patrick menjawab bahwa itu sesuai. Cinta menyiapkan cangkir dan memastikan ia tidak perlu mengubah susunan rumah demi membuatnya terkesan.
Patrick mengetuk dan menunggu. Cinta membuka pintu, mengundangnya masuk, lalu ia melepas sepatu setelah ditanya. Ia bertanya sebelum mengambil cangkir dan duduk di tempat yang Cinta tunjuk. Mereka berbincang tentang musik dan pekerjaan. Cinta menunjukkan naskah hanya setelah ia menawarkan.
Patrick mengatakan ia bangga Cinta menyelesaikan revisi. Cinta berterima kasih dan berkata ia belum tahu kapan naskah diterbitkan. Patrick tidak membuat rencana merayakan atas namanya. Ia bertanya apakah Cinta ingin membaca bagian favorit. Cinta memilih satu halaman dan membacanya keras-keras.
Ketika jam kunjungan hampir berakhir, Cinta menyebut waktunya. Patrick menutup cangkir dan berdiri tanpa meminta tinggal lebih lama. Ia berterima kasih, lalu bertanya apakah boleh memeluknya. Cinta menjawab ya. Mereka berpelukan singkat dan Patrick pulang.
***
Setelah pintu tertutup, Cinta berjalan ke ruang kerja dan duduk. Ia merasa rumahnya tetap miliknya, bahkan setelah berbagi waktu dengan pasangan. Ia tidak memberikan kunci, dan Patrick tidak meminta. Ia menyimpan cangkir, lalu menulis catatan tentang hal-hal yang membuat kunjungan terasa nyaman.
Anna menelepon dan Cinta memberi tahu bahwa ia dan Patrick sepakat menjadi pasangan. Anna mengucapkan selamat dan bertanya apakah Cinta ingin mendengar pendapatnya. Cinta menjawab hanya ingin berbagi kabar. Anna tidak mengubahnya menjadi pembicaraan tentang masa depan. Mereka berbincang tentang makan siang dan menutup telepon.
Cinta sadar hubungan baru tidak berarti ia harus membuang kewaspadaan. Ia dapat memberi ruang bagi kedekatan dan tetap menetapkan aturan rumah. Ia tidak sedang menghukum Patrick dengan batas; ia sedang menjalani hidupnya dengan cara yang membuatnya nyaman.
Cinta menyiapkan makanan ringan untuk kunjungan Patrick, tetapi tidak menata seluruh rumah demi menyenangkan. Ia memberi tahu dirinya bahwa jika Patrick datang, ia tetap boleh menolak menunjukkan ruangan tertentu. Rumahnya tidak berubah menjadi tempat umum karena ia punya pasangan.
Saat Patrick datang, ia bertanya apakah boleh menaruh jaket di kursi. Cinta menunjuk tempatnya. Mereka duduk dan berbicara tentang hari kerja. Patrick melihat buku di meja dan bertanya apakah itu naskah baru. Cinta menjawab iya, tetapi ia belum siap membagikan. Patrick berkata tidak masalah.
Mereka sempat berbeda pendapat tentang sebuah film. Patrick berargumen panjang, lalu menyadari ia mulai berbicara terlalu keras. Ia berhenti dan bertanya apakah Cinta ingin melanjutkan topik. Cinta menjawab boleh, tetapi ia ingin menyampaikan pendapatnya tanpa dipotong. Patrick mendengarkan sampai selesai. Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai tanda bahwa mereka tidak cocok.
Ketika waktunya hampir habis, Cinta mengingatkan bahwa ia ingin sendirian setelah pukul enam. Patrick melihat jam dan mulai merapikan barang. Ia tidak merajuk. Cinta merasa kunjungan itu menyenangkan karena akhir pertemuan dihormati sama seperti awalnya.
Setelah Patrick pulang, Cinta menulis kepada dirinya sendiri bahwa kenyamanan bukan ketiadaan batas. Ia merasa nyaman justru karena batas ada dan dipatuhi. Ia menyimpan catatan dan menelepon Anna untuk berbagi kabar.
Patrick bertanya sebelum mengambil makanan dari meja dan menunggu saat Cinta menjawab. Sikap kecil itu membuat kunjungan terasa setara. Mereka berpamitan sesuai waktu, dan Cinta merasa nyaman dengan batas yang dipatuhi.
Setelah Patrick pulang, ia menyimpan cangkir dan mengecek pintu. Ia merasa tenang, bukan karena menganggap tidak akan ada masalah, tetapi karena aturan rumah dijalankan. Ia bisa mengundang Patrick kembali jika ingin dan menolak jika tidak.
Ia mengirim pesan kepada Patrick bahwa kunjungannya menyenangkan. Patrick menjawab ia juga senang. Percakapan berakhir sederhana, tanpa klaim bahwa mereka harus selalu bertemu. Cinta melanjutkan malam dengan membaca.
Pikiran itu membuat napasnya lebih teratur. Ia dapat melihat persoalan ini sebagai bagian dari proses, bukan sebagai alasan untuk kembali pada kebiasaan yang merugikannya.