Minggu-minggu berikutnya dipenuhi pekerjaan dan urusan rumah. Cinta mengirim naskah versi akhir kepada editor dan menerima beberapa catatan kecil. Ia menyelesaikannya satu per satu. Patrick mengirim pesan sesekali, tetapi mereka tidak berbicara setiap hari. Cinta merasa ritme itu nyaman.
Pada satu malam, mereka menelepon sesuai waktu yang disepakati. Patrick bertanya bagaimana naskahnya. Cinta bercerita tentang bagian penutup dan rasa puas karena tokohnya membuat keputusan sendiri. Patrick mendengarkan dan bertanya apakah ia ingin membaca ketika sudah selesai. Cinta berkata mungkin nanti, setelah ia membacanya ulang. Patrick menerima jawaban itu.
Mereka berbicara tentang kencan kedua. Cinta memilih makan malam sederhana di restoran kecil yang pernah ia kunjungi. Ia mengusulkan berangkat dan pulang masing-masing. Patrick setuju. Ia bertanya apakah Cinta ingin ia memesan meja. Cinta mengatakan ia akan memesan, lalu mengirim waktu. Patrick menyimpan jadwal itu.
***
Sehari sebelum pertemuan, Cinta menyelesaikan pekerjaan lebih lambat dari perkiraan. Ia mengirim pesan kepada Patrick bahwa ia mungkin perlu memindahkan waktu setengah jam. Patrick membalas bahwa itu tidak masalah. Ia menawarkan membatalkan jika Cinta lelah. Cinta menilai dirinya sendiri dan memutuskan masih ingin bertemu, hanya sedikit lebih lambat.
Saat mereka tiba di restoran, Patrick menunggu di luar dan tidak mencoba masuk ke unit Cinta untuk menjemputnya. Mereka menyapa dan masuk bersama. Cinta memilih meja dan memesan makanan. Percakapan mengalir dari naskah ke kenangan masa kecil, lalu ke hal-hal yang ingin mereka lakukan tahun ini.
Patrick bertanya apakah Cinta ingin menganggap mereka sedang berpacaran. Cinta berhenti sejenak, lalu berkata belum. Ia sedang mencoba berkencan dan ingin mengenalinya dalam ritme yang ia pilih. Patrick tampak kecewa sebentar, tetapi menjawab bahwa ia mengerti dan tidak ingin meminta label sebelum Cinta siap.
Cinta menghargai kejujurannya tentang kecewa, sekaligus memperhatikan bahwa ia tidak menjadikan perasaan itu tekanan. Ia mengatakan mereka boleh membicarakan status lagi suatu hari nanti, tetapi saat ini ia ingin tetap berjalan satu kencan demi satu kencan. Patrick setuju.
Mereka mengakhiri malam dengan berjalan ke kendaraan masing-masing. Patrick bertanya apakah ia boleh memeluk Cinta. Cinta mempertimbangkan dan menjawab ya, singkat saja. Mereka berpelukan lalu berpisah. Cinta pulang dengan perasaan hangat namun tetap tenang. Ia yang memilih sentuhan itu dan ia bisa memilih berbeda lain kali.
Di rumah, ia mengirim pesan bahwa ia sudah tiba. Patrick membalas bahwa ia juga sudah sampai. Cinta menutup ponsel dan menghapus make-up. Ia tidak membuat kesimpulan besar. Ia hanya menandai kencan kedua di kalender dan menyimpan satu hal yang ia syukuri: malam itu ia merasa menjadi dirinya sendiri.
Di telepon, Cinta dan Patrick juga membicarakan batas komunikasi. Cinta tidak ingin pesan masuk sepanjang hari, terutama saat ia menulis. Patrick mengatakan ia sering ingin berbagi hal kecil, tetapi bisa mengirimnya setelah jam kerja atau menunggu jika Cinta sedang sibuk. Cinta berkata ia akan membalas saat senggang dan tidak menganggap keterlambatan sebagai permainan.
Mereka membahas apakah hubungan tersebut eksklusif. Cinta belum ingin menentukan itu sebelum berkencan lebih lama. Patrick menjawab bahwa ia berharap hubungan mereka menjadi eksklusif, tetapi ia tidak akan meminta Cinta menjawab malam itu. Cinta berterima kasih karena ia menyampaikan keinginan tanpa mengubahnya menjadi ultimatum.
Ia berkata ia akan memberi jawaban jika sudah tahu. Patrick setuju dan menambahkan ia juga akan jujur jika kebutuhannya berbeda. Keduanya mengakui hubungan sehat bukan hanya Cinta menetapkan batas; Patrick pun boleh menyampaikan kebutuhannya, selama keputusan dibuat tanpa tekanan atau ancaman.
***
Pada hari kencan kedua, Cinta menutup laptop tepat waktu dan berganti pakaian. Ia memeriksa kunci serta membawa uang dan ponsel. Ia mengirim pesan bahwa ia sedang berangkat. Patrick menjawab ia juga akan berangkat dan tidak menjemput di rumahnya.
Di restoran mereka berbicara tentang naskah dan kota. Patrick bertanya apakah Cinta ingin kembali mengajar suatu hari nanti. Cinta belum tahu; ia ingin menuntaskan proyek sekarang dan mengevaluasi setelahnya. Patrick mendengarkan tanpa menyarankan bagaimana ia seharusnya mengatur karier.
Ketika Patrick mengatakan ia merindukan masa ketika mereka bertetangga, Cinta bertanya apakah ia merindukan kebiasaan masuk melalui jendela. Patrick menjawab tidak, dan berkata ia merindukan percakapan mereka, bukan cara yang melanggar batas. Cinta mengatakan ia senang mendengarnya.
Mereka menetapkan bahwa untuk sementara tetap berkencan pelan, tanpa janji tinggal bersama. Patrick bertanya apakah Cinta ingin ia datang ke rumah minggu depan. Cinta menjawab belum tahu dan akan mengundang jika ingin. Patrick tidak meminta tanggal. Mereka menyelesaikan makan malam dan pulang terpisah.
Cinta bertanya kepada Patrick apakah ia bisa menerima bahwa ia akan tetap tinggal sendiri dan tidak ingin berbagi kunci. Patrick menjawab ya. Ia berkata jika suatu saat ia merasa kebutuhan itu berubah, ia akan membicarakannya; ia tidak akan diam-diam mencoba memperoleh akses. Cinta mengatakan ia juga akan menyampaikan jika batasnya berubah.
Mereka menyepakati cara menghubungi: bila ingin bertemu, salah satu bertanya lebih dulu dan menunggu jawaban. Tidak ada kunjungan kejutan. Jika salah satu tidak bisa, mereka memberi kabar tanpa menganggapnya sebagai penolakan terhadap hubungan. Cinta merasa kesepakatan itu praktis, bukan peraturan yang membebani.
Ia menanyakan apakah Patrick masih ingin menyampaikan perasaannya setiap kali mereka bertemu. Patrick tertawa kecil dan berkata tidak; ia ingin menunjukkan rasa sayang lewat kebersamaan dan perhatian, bukan pengulangan pengakuan. Cinta mengatakan ia nyaman mendengar kata sayang jika terasa alami, tetapi tidak ingin kata-kata itu dipakai untuk menekan jawaban.
Mereka duduk beberapa menit setelah makan. Cinta menyadari bahwa ia tidak merasa harus mengatakan ‘aku juga’ pada saat itu. Ia mengatakan ia menikmati malam dan ingin pulang. Patrick mengucapkan terima kasih dan mereka berpisah. Ia pulang dengan perasaan bahwa obrolan mereka memberi dasar yang jelas untuk bertemu lagi.
Di rumah, Cinta mengirim pesan bahwa ia sudah tiba. Patrick membalas bahwa ia juga. Ia menaruh ponsel dan menyiapkan pakaian untuk esok. Ia bisa tertarik dan tetap bergerak sesuai iramanya sendiri.