Sebelum hari Sabtu, Cinta menyelesaikan beberapa pekerjaan dan menyiapkan pakaian yang nyaman. Ia tidak merencanakan percakapan panjang tentang masa depan. Ia ingin melihat apakah mereka dapat menghabiskan waktu bersama tanpa kembali pada pola lama. Ia mengirim pesan kepada Patrick untuk mengonfirmasi waktu dan tempat. Patrick membalas sesuai kesepakatan.
Anna bertanya apakah Cinta ingin ditemani memilih pakaian. Cinta tertawa dan menjawab ia sudah memilih. Mereka membicarakan kencan itu sebentar, tetapi Anna tidak bertanya apakah Cinta sudah memaafkan Patrick. Cinta mengatakan ia ingin memperhatikan bagaimana perasaannya setelah bertemu. Anna menyetujui bahwa ia tidak perlu menentukan lebih dulu.
***
Sabtu sore, Cinta tiba di pameran lebih awal. Ia membeli tiket sendiri dan menunggu di lobi. Patrick datang dengan tiketnya, lalu bertanya apakah ia ingin berjalan bersama atau menunggu sebentar. Cinta memilih langsung masuk. Mereka melihat karya-karya yang dipajang dan berbincang tentang hal yang mereka sukai.
Patrick tidak memegang tangan Cinta atau membuat gestur yang menganggap mereka sudah menjadi pasangan. Cinta memperhatikan hal itu dan merasa nyaman. Ketika ia ingin membaca label lebih lama, Patrick menunggu. Saat Cinta ingin pindah ke ruangan berikutnya, mereka berjalan bersama. Tidak ada yang harus memimpin setiap langkah.
Di satu karya, Cinta menyampaikan pendapat yang berbeda dari Patrick. Ia sempat menunggu apakah Patrick akan mengejek atau menekankan bahwa ia salah. Patrick hanya bertanya bagian mana yang paling ia sukai. Percakapan mereka berjalan ringan. Cinta merasa bukan karena ia harus menjaga suasana hati Patrick.
Setelah pameran, mereka makan di kedai yang Cinta pilih. Patrick bertanya apa yang ingin ia pesan dan tidak memilihkan. Mereka berbicara tentang pekerjaan, buku, lalu tentang bagaimana mereka ingin menjalani kencan. Cinta mengatakan ia ingin bertemu lagi hanya jika ia sendiri merasa ingin. Patrick menjawab ia berharap ada kencan kedua, tetapi tidak mengharapkannya sebagai kewajiban.
Cinta menyukai kejujuran itu. Ia juga berkata bahwa jika ada hal yang membuatnya tidak nyaman, ia akan menyampaikannya dan ingin didengar tanpa perdebatan. Patrick menyetujui. Ia tidak berkata bahwa ia tidak akan pernah membuat kesalahan; ia hanya berjanji akan mendengarkan dan menyesuaikan tindakan.
Mereka mengakhiri malam sesuai waktu yang Cinta tentukan. Patrick bertanya apakah ia ingin berjalan ke halte bersama. Cinta menjawab iya, lalu mereka berjalan berdampingan. Di persimpangan, mereka berpisah. Tidak ada ciuman atau janji. Cinta pulang dengan pikiran jernih dan rasa ingin tahu tentang pertemuan berikutnya.
Sebelum berangkat, Cinta memutuskan bahwa ia tidak perlu mengenakan pakaian yang menurutnya akan membuat Patrick menyukainya. Ia memilih gaun sederhana yang nyaman untuk berjalan. Ia menyimpan tiket di ponsel dan membawa uang sendiri. Persiapan itu bukan karena tidak percaya kepada Patrick; ia ingin tetap dapat mengatur waktunya dan pulang sesuai rencana.
Di pameran, mereka berhenti di depan lukisan yang menggambarkan ruang kosong. Patrick bertanya apa yang Cinta lihat. Ia menjawab melihat kemungkinan, bukan kesepian. Mereka berbicara tentang bagaimana sebuah gambar dapat memiliki arti berbeda bagi orang yang berbeda. Cinta menikmati percakapan tanpa harus setuju.
Mereka melihat seluruh pameran dengan tempo lambat. Cinta membaca keterangan karya lebih lama, dan Patrick menunggu. Ketika ia merasa lelah, ia mengusulkan duduk sebentar. Patrick mengambil air setelah bertanya apakah ia mau. Hal-hal kecil tersebut membuat Cinta merasa diperhatikan tanpa diatur.
***
Di restoran, mereka berbicara tentang masa sekolah dan pekerjaan pertama. Patrick mengaku bahwa ia dahulu merasa harus selalu tampak yakin di hadapan Cinta, sehingga sering berbicara lebih keras daripada yang ia pikirkan. Cinta mengatakan ia tidak membutuhkan seseorang yang selalu yakin. Ia lebih nyaman dengan orang yang bisa berkata tidak tahu atau salah.
Patrick bertanya apakah ia pernah membuat Cinta merasa takut saat mereka berteman. Cinta menjawab bahwa ada saat ia tidak nyaman, terutama ketika Patrick masuk melalui jendela dan menganggapnya lucu. Ia menjelaskan bahwa meski mereka dekat, ia tidak memberi izin untuk masuk tanpa mengetuk. Patrick meminta maaf dan mengatakan kebiasaan itu sudah ia hentikan. Cinta menekankan ia ingin perilaku itu tetap berubah, bukan hanya selama mereka berkencan.
Patrick menjawab bahwa ia memahami dan tidak akan mengulanginya. Cinta menilai jawabannya, namun tidak menjadikannya bukti final. Mereka mengalihkan percakapan ke naskah dan rencana kerja. Kencan itu tidak berubah menjadi sidang tentang masa lalu, tetapi masalah tersebut juga tidak disapu.
Mereka berjalan ke halte. Cinta menentukan waktu untuk pulang dan Patrick mengikutinya. Ia merasa lega karena dirinya dapat menikmati malam sambil tetap memperhatikan batas. Ketika sampai di rumah, ia menulis kesan sebelum membaca pesan Patrick. Ia ingin pendapat pertamanya berasal dari dirinya sendiri.
Di pameran, mereka berbicara tentang karya yang mereka lihat. Ada satu instalasi yang membuat Cinta merasa kurang nyaman karena ruangnya sempit. Ia mengatakan ingin melewatinya. Patrick tidak bertanya berkali-kali apakah ia baik-baik saja; ia cukup mengikutinya ke ruang berikutnya. Cinta merasa keputusan kecilnya dihormati.
Mereka duduk di bangku dan berbagi pendapat tentang sebuah lukisan. Patrick memiliki tafsir berbeda. Cinta menjelaskan apa yang ia lihat, dan Patrick mendengarkan. Ia tidak mengubah perbedaan itu menjadi gurauan tentang betapa keras kepalanya Cinta. Ia merasa bisa menunjukkan dirinya tanpa mengukur reaksi Patrick.
Ketika ia mulai lelah, ia berkata ingin makan lebih awal. Patrick menyesuaikan waktu tanpa mengeluh. Mereka berjalan ke restoran yang telah dipilih Cinta. Di sana Patrick bertanya apakah ia boleh duduk di sampingnya atau ia lebih nyaman berhadapan. Cinta memilih berhadapan. Patrick mengambil tempat itu.
Mereka membahas keluarga dan pekerjaan. Patrick bertanya apakah Cinta ingin ia tahu lebih banyak tentang kejadian dengan Daniel. Cinta menjawab belum. Patrick berkata ia tidak akan bertanya lagi kecuali Cinta sendiri membuka topik. Cinta menyukai bahwa ia tidak menjadikan rasa penasaran sebagai hak.
Saat makan selesai, Patrick bertanya apakah Cinta ingin berjalan ke halte atau langsung pulang. Ia memilih pulang langsung. Mereka berpisah di depan restoran. Cinta sadar ia menikmati malam itu bukan karena Patrick melakukan hal besar, tetapi karena ia tidak merasa harus mengelola suasana hati atau membaca kode tersembunyi.