Beberapa hari berikutnya, Cinta dan Patrick bertukar pesan tentang hal-hal biasa. Patrick mengirim tautan artikel tentang penulis yang mereka sukai, sementara Cinta mengirim foto catatan lama yang berhasil ia selamatkan. Mereka berbincang singkat dan berhenti ketika salah satu sibuk. Tidak ada yang mengharuskan percakapan berlangsung sepanjang malam.
Satu kali, Patrick bertanya apakah ia boleh menelepon. Cinta sedang bekerja, jadi ia menjawab tidak sekarang dan menawarkan waktu lain jika ia ingin. Patrick menjawab bahwa ia bisa menunggu dan tidak perlu menelepon hari itu. Cinta merasa ia sedang belajar bahwa menerima ‘tidak’ juga bagian dari persahabatan.
Mereka bertemu di kedai pada akhir pekan setelah Cinta mengusulkan waktunya. Ia memilih meja terbuka dan memberi tahu Patrick bahwa ia punya satu jam sebelum harus pulang. Patrick datang tanpa membawa hadiah atau membuat rencana tambahan. Mereka membicarakan pekerjaan, buku, dan makanan. Cinta menyadari betapa lebih mudah berbicara ketika ia tidak harus menangkis sindiran tentang Charles.
Di tengah percakapan, Patrick meminta maaf lagi karena dahulu menganggap ia tahu apa yang terbaik bagi Cinta. Cinta menjawab bahwa ia menghargai pengakuan itu, tetapi ia ingin melihat perubahan melalui waktu. Patrick setuju. Ia tidak meminta Cinta melupakan atau mengatakan bahwa semuanya sudah dimaafkan.
***
Saat satu jam hampir habis, Cinta mengingatkan bahwa ia perlu pulang. Patrick menawarkan mengantar, tetapi Cinta mengatakan ia akan berjalan ke halte sendiri. Patrick menerima jawabannya dan tidak mengikuti. Mereka berpamitan di depan kedai. Cinta pulang dengan perasaan cukup nyaman, namun tetap tidak mengubah pertemuan itu menjadi janji lain.
Di rumah, ia memikirkan bagaimana hubungan persahabatan mereka akan berkembang. Ia tidak ingin mengatur semua percakapan seperti kontrak. Ia hanya ingin tetap jujur tentang batasnya dan memperhatikan jika Patrick menghormatinya. Bila ia mulai merasa tidak nyaman, ia bisa mengambil jarak. Bila ia menikmati kebersamaan, ia bisa bertemu lagi tanpa mengartikan apa pun sebagai romansa.
Ia mengirim pesan kepada Anna bahwa pertemuan dengan Patrick berjalan baik. Anna bertanya apakah Cinta ingin membahasnya. Cinta menjawab tidak ada hal khusus; mereka hanya mengobrol. Anna mengatakan baik dan mengalihkan pembicaraan ke rencana akhir pekan mereka. Cinta senang karena tidak ada yang mengubah setiap pertemuannya menjadi pertanda hubungan baru.
Malam itu, ia membuka kotak terakhir dan menemukan beberapa foto lama. Ia memilih menyimpan dua foto dirinya sendiri dan membuang salinan yang rusak. Keputusan itu tidak berkaitan dengan Daniel atau Charles. Ia hanya memilih barang mana yang masih ingin ia simpan. Ia menaruh foto di laci dan merapikan ruangan.
Sebelum tidur, Patrick mengirim pesan bahwa ia sudah sampai rumah. Cinta membalas dengan emoji sederhana. Ia tidak merasa harus melanjutkan percakapan. Patrick pun tidak mengirim pesan lain. Ia mematikan layar dan membaca satu bab buku. Persahabatan yang baru dipulihkan itu masih kecil, tetapi setidaknya kali ini ia tidak dipaksa menjadi sesuatu yang belum ia pilih.
Pada pertemuan mereka, Cinta menyebut satu hal yang ingin ia pertahankan jika mereka terus berteman: mereka perlu dapat membicarakan topik biasa tanpa Patrick menyelipkan penilaian soal siapa yang cocok untuk Cinta. Patrick bertanya apakah ada contoh. Cinta menyebut komentar lamanya tentang Charles. Patrick meminta maaf dan mengatakan ia dulu berbicara seolah perasaannya sendiri memberinya sudut pandang lebih baik.
Cinta mengatakan ia tidak meminta Patrick menyangkal perasaannya, tetapi ia tidak ingin menjadi objek yang perlu dimenangkan. Patrick menerima itu. Ia bertanya apa yang Cinta inginkan dari persahabatan mereka sekarang. Cinta menjawab ia ingin bertemu sesekali, berbicara jujur, dan menjaga rumah serta waktu pribadi masing-masing.
Patrick menyebut ia masih mencintai Cinta, tetapi akan mencoba tidak menjadikan hal itu pusat percakapan. Cinta mengatakan ia sudah tahu perasaannya dan tidak ingin diingatkan setiap kali mereka bertemu. Patrick menyetujui. Mereka sepakat membiarkan persahabatan berjalan pelan dan memberi tahu jika salah satu merasa perlu jeda.
Setelah pulang, Cinta tidak segera memutuskan apakah percakapan itu berhasil. Ia mengingat bagaimana Patrick menanggapi batas dan apakah ia mendengar tanpa membantah. Ia merasa cukup nyaman, tetapi tetap ingin melihat perilaku berikutnya. Ia tidak menganggap persahabatan sebagai ujian yang harus lulus sekali untuk selamanya.
Ia mengirim pesan kepada Anna bahwa mereka berbicara dengan baik. Anna bertanya apakah Cinta ingin ia ikut menjaga jarak atau tetap bersikap biasa. Cinta menjawab biasa saja, tetapi Anna tidak perlu menjadi perantara. Anna setuju. Cinta senang bahwa seluruh teman-temannya dapat mempertahankan hubungan sendiri tanpa ikut mengatur perasaannya.
Satu minggu kemudian, Patrick terlambat membalas pesan Cinta tentang jadwal bertemu. Cinta sempat merasa cemas bahwa ia marah karena pertemuan terakhir berakhir tepat waktu. Ia menahan diri untuk tidak mengirim pesan berulang. Beberapa jam kemudian Patrick menjelaskan ia berada dalam rapat dan meminta maaf karena tidak memberi kabar. Cinta menjawab bahwa tidak apa-apa, ia hanya ingin memastikan jadwal.
Patrick berkata ia sempat ingin menyindir bahwa Cinta selalu menentukan waktu, tetapi ia menyadari pikiran itu bukan alasan untuk menekan. Ia memilih menyampaikan perasaannya tanpa menyalahkan. Cinta mengapresiasi kejujuran itu, tetapi mengatakan ia tetap akan mengatur waktunya sendiri. Mereka sepakat jika jadwal tidak cocok, mereka bisa memilih hari lain.
Percakapan tersebut memberi Cinta contoh nyata bahwa menghormati batas bukan berarti Patrick tidak pernah merasa kecewa. Yang penting, ia tidak mengubah kecewa menjadi hukuman atau tuntutan. Cinta juga tidak perlu menghapus perasaannya agar Patrick nyaman. Mereka dapat berbeda pendapat dan tetap berbicara.
Sebelum pulang dari kedai, Patrick bertanya apakah Cinta ingin merencanakan pertemuan berikutnya. Cinta menjawab belum tahu, karena jadwal kerjanya padat. Patrick menerima jawaban itu dan berkata mereka bisa menentukan nanti. Cinta menikmati kesempatan untuk tidak menetapkan tanggal hanya demi menghindari ketidaknyamanan.
Mereka berpamitan tanpa menyepakati tanggal baru. Cinta pulang dan merasa ringan karena ia tidak menjanjikan waktu yang belum ia miliki.
Cinta pulang tanpa merasa harus mengirim pesan panjang untuk menjelaskan apa arti pertemuan itu. Ia cukup mengatakan ia senang berbicara. Patrick membalas dengan nada yang sama.
Beberapa hari kemudian Cinta meminta bantuan Patrick untuk menyiapkan makan malam pada waktu yang disepakati. Ia punya tenggat dan ingin makan sesuatu yang hangat, tetapi tidak ingin dibantu mengerjakan dokumen. Patrick bertanya apakah Cinta ingin ia memasak di unitnya atau mengantar makanan. Cinta memilih ia datang memasak, pukul enam sampai tujuh, lalu pulang. Patrick setuju.
Ia tiba tepat waktu dan mengetuk. Cinta membuka pintu serta mempersilakannya masuk ke dapur. Patrick membawa bahan makanan yang sebelumnya mereka sepakati, bertanya sebelum memakai alat, lalu memasak. Cinta tetap bekerja di meja ruang tengah. Mereka berbicara sesekali, tanpa mengubah tugas itu menjadi kencan.
Pukul tujuh, makanan selesai. Cinta mengucapkan terima kasih dan berkata ia akan membereskan sisanya sendiri. Patrick mencuci alat yang ia gunakan, berpamitan, lalu pulang. Ia tidak meminta tinggal atau menginap. Cinta menikmati makan malam dan kembali bekerja setelahnya. Bantuan itu berlangsung sesuai batas yang ia minta.