Cinta menaruh sebuah buku catatan di meja setelah sarapan. Semalam ia bermimpi berada di rumah lama Daniel, mendengar suara percakapan dari ruangan lain tanpa bisa melihat siapa yang bicara. Mimpi itu tidak memberinya pesan khusus. Ia hanya bangun dengan rasa sesak yang memudar setelah ia duduk, minum air, dan melihat bahwa ia berada di unit sewanya sekarang. Ia memilih menulis sebentar sebelum membuka laptop.
Ia menuliskan surat yang tidak akan dikirim kepada orang tua Daniel. Ia berterima kasih karena mereka pernah mendukungnya ketika ia mengurus perceraian. Ia juga mengakui bahwa ia kecewa mereka sempat ingin membuka percakapan lagi, meski akhirnya menerima batas yang dimintanya. Ia tidak menyebut mereka jahat, tidak pula merapikan perasaannya agar tampak santun. Ia menulis bahwa dirinya belum mau bertemu dan tidak ingin mereka menjadi perantara.
Setelah menulis beberapa halaman, Cinta berhenti. Ia membaca ulang surat itu dan menyadari bahwa ia ingin menyimpan tulisan tersebut sebagai cara memahami pikirannya sendiri, bukan menggunakannya untuk memancing balasan. Ia melipat halaman itu dan memasukkannya ke bagian belakang buku catatan. Ia tidak mengirim foto atau salinan kepada siapa pun. Keputusan tersebut memberinya ruang untuk mengatakan hal-hal yang mungkin tidak perlu didengar orang lain.
Ia kemudian kembali pada pekerjaannya. Naskahnya memiliki satu adegan yang belum selesai: tokoh utama akan menghadiri acara keluarga orang yang pernah membantunya. Cinta membaca bagian sebelumnya dan melihat bahwa tokoh itu terlalu cepat menyetujui undangan demi menghindari rasa bersalah. Ia mengubah adegan tersebut. Tokoh itu meminta waktu, memeriksa keinginannya sendiri, lalu menolak dengan kalimat sederhana. Orang-orang di sekitarnya tidak serta-merta memahami, tetapi ia tetap menjalani hari tanpa menjadikan penolakan sebagai pertengkaran besar.
Menjelang siang, Cinta mengirim bagian revisi kepada editor dan mengatakan bahwa ia ingin membaca ulang beberapa bagian sebelum menyerahkan naskah lengkap. Editor menyetujui jadwal itu. Cinta merasa lega, bukan karena semua persoalan telah selesai, melainkan karena urusan kerja kembali bisa dibicarakan sebagai pekerjaan. Ia menutup dokumen dan makan siang tanpa laptop di hadapannya.
Sore hari, Anna datang setelah bertanya lebih dulu. Cinta menyambutnya dan bercerita tentang surat yang ia tulis. Anna tidak meminta membacanya. Ia bertanya apakah Cinta ingin membicarakan isinya atau justru mengalihkan perhatian. Cinta memilih bercerita singkat, kemudian meminta mereka membahas film yang ingin ditonton. Anna mengikuti pilihannya.
Mereka menonton film komedi lama yang pernah mereka lihat bersama. Beberapa lelucon sudah mereka hafal, tetapi itu justru membuat mereka tertawa. Ketika ponsel Cinta menyala dengan pemberitahuan surel, ia melirik layar dan melihat pengirimnya adalah pengacara. Ia membuka pesan setelah film selesai. Isinya hanya konfirmasi bahwa orang tua Daniel tidak akan menghubungi atau datang. Tidak ada permintaan baru yang harus ia jawab.
Cinta menyimpan pesan itu, lalu kembali ke ruang tengah. Anna bertanya apakah semuanya baik-baik saja. ‘Iya, cuma konfirmasi yang sudah kita harapkan,’ katanya. Ia tidak menguraikan detail karena tidak ada hal baru. Mereka menyelesaikan film, berbagi sisa makanan, lalu Anna pulang dengan janji akan mengirim rekomendasi buku.
Setelah sendirian, Cinta menyimpan buku catatan di laci meja. Ia memikirkan rasa terima kasih dan kecewa yang bisa hadir bersamaan. Ia tidak harus memutuskan bahwa orang tua Daniel sepenuhnya baik atau buruk. Ia cukup menentukan hubungan seperti apa yang sanggup ia jalani sekarang. Mereka telah menerima jawabannya; untuk sementara, itu sudah cukup.
Ia menyiapkan jadwal esok hari: satu jam untuk menyunting, mencuci pakaian, dan membeli bahan makanan. Ia sengaja menyisakan sore kosong. Jika ia ingin menelepon Charles, ia akan melakukannya karena ingin, bukan karena perlu segera melaporkan semua yang terjadi. Jika ia ingin sendiri, pilihan itu juga sah.
Sebelum tidur, Cinta membaca kembali catatan di buku kecilnya: ‘Aku boleh berterima kasih dari jauh.’ Kalimat itu bukan kesimpulan untuk selamanya. Ia hanya menggambarkan kebutuhannya saat ini. Ia mematikan lampu dan tidur tanpa merasa harus mengirim surat yang ditulisnya. Untuk pertama kalinya, sebuah pesan tidak perlu menjadi pintu yang ia buka hanya karena seseorang mengetuk.
Menjelang sore ia menerima pesan dari editor yang mengabarkan bahwa revisinya sudah dibaca. Beberapa bagian terasa kuat, sementara satu bab perlu penyesuaian kecil agar alurnya tidak terburu-buru. Cinta menyimpan catatan itu dan berterima kasih. Ia senang menerima masukan yang jelas tentang tulisannya, sesuatu yang dapat ia kerjakan tanpa merasa dirinya sedang dinilai sebagai pribadi.
Ia membetulkan satu kalimat, lalu mengirim pesan kepada Charles bahwa ia ingin tetap jujur tentang prosesnya. Charles menjawab bahwa ia menghargai itu dan tidak membutuhkan kepastian lebih cepat. Cinta merasa lega mendengarnya, tetapi ia mengingatkan dirinya bahwa kesesuaian hubungan akan terlihat dari percakapan berulang, bukan hanya satu jawaban baik. Ia menutup obrolan dengan ucapan selamat malam dan melanjutkan membaca.
Saat malam tiba, ia mengambil buku catatan dan membaca lagi surat yang tidak dikirim. Ada satu bagian yang ingin ia ubah karena terdengar terlalu keras, tetapi setelah membaca ulang ia membiarkannya. Surat itu tidak ditujukan untuk membangun hubungan atau memenangkan perdebatan. Isinya adalah apa yang ia rasakan ketika bebas memilih kata-katanya sendiri. Ia tidak perlu menjadikannya lebih nyaman bagi penerima yang bahkan tidak akan membacanya.
Ia menutup buku dan menaruhnya di laci. Sesudah itu ia memeriksa jadwal kerja dan menambahkan waktu istirahat di antara dua tugas. Ia tahu mungkin akan ada hari ketika keluarga Daniel kembali menjadi pikirannya, atau ketika kabar lama membuatnya kesal. Ia tidak berjanji bahwa semua itu akan hilang. Ia hanya dapat menjaga batas yang sudah diterima dan meminta bantuan profesional melalui pengacaranya jika jalur komunikasi resmi kembali terganggu.
Cinta mencuci cangkir, menata kembali buku, lalu menutup hari dengan membaca. Ia tahu mungkin akan mengingat surat itu lagi, tetapi tidak perlu mengirim atau menjelaskan apa pun. Keputusan untuk menjaga jarak sudah cukup jelas. Esok ia akan kembali pada pekerjaannya dan hal-hal yang ia pilih sendiri.