“Kok malah nanya? Seharusnya aku yang tanya sama kamu, kenapa kamu malah nginep di sini? Bukannya di rumah?” omel Rangga seraya duduk di tepian kasur.
“Suami pulang bukannya di sambut apa kek, malah nanya kenapa ada di sini?” lanjut Rangga seraya menatap Alana lurus-lurus.
“Ya, maksud Lana bukannya Mas Rangga harusnya masih di luar kota? Dan katanya baru pulang besok? Makanya....”
“Makanya apa?” sela Rangga menegaskan dan wajahnya bergerak maju menghadap Alana, “Makanya kamu menginap di sini seenaknya tanpa izinku lebih dulu?” imbuhnya dengan suara mendesis berbisik.
“Jadi, kalau aku ke luar kota sampai seminggu, apa kamu akan nginep di sini sampai seminggu juga? Begitu? Bukannya jaga rumah....” lanjut Rangga dengan suara menggerutu namun semakin lama semakin diam melihat Alana yang hanya menunduk diam.
Rangga menghela napas dengan berat dan diam tanpa berbicara lagi selama beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangi Alana.
“Ganti baju dan pakai kerudungmu, ikut aku,” perintahnya sebelum akhirnya keluar kamar dengan tergesa-gesa.
Dan Alana baru menyadari keadaan dirinya yang hanya mengenakan baju rumahan tanpa lengan dan berleher kotak. Alana segera mendekap dirinya sendiri dengan perasaan yang sangat malu. Memeluk kedua lengannya yang kuning langsat yang kini terpapar telanjang di hadapan seorang laki-laki. Bahkan dengan potongan leher yang rendah.
‘Astagfirullahaldzim.... Ya Allah... Alana bego! Kenapa aku sampai nggak sadar kalau aku pakai daster yang ini? Ya Allah... Sumpah... Malu-maluin banget!’ pekik Alana dalam hati dengan kesal dan bergegas berganti dengan baju gamis serta kerudung panjangnya.
Selama proses itu tak henti-hentinya Alana menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi dan ini benar-benar membuatnya sangat malu di hadapan Rangga. Bahkan ketika ia kini harus duduk bersebelahan dengan Rangga di dalam mobil, membuatnya semakin canggung, sampai ia tak ingat dengan sabuk pengaman yang harus ia kenakan.
Rangga yang melihat tingkah Alana yang diam tanpa berbicara dan memandang wajahnya, segera mendekatkan dirinya pada Alana untuk memasangkan sabuk pengaman untuk Alana. Sontak hal itu membuat Alana tersentak kaget dan mau tak mau membuatnya mendongak dan menatap wajah Rangga yang cukup dekat dengannya.
Untuk sesaat mereka saling menatap satu sama lain, seolah tersihir akan sesuatu, hingga Alana merasakan panas merambat di kedua pipi, telinga hingga ke wajahnya yang sontak membuatnya memalingkan wajahnya dari pandangan Rangga. Menyadari hal itu Rangga pun segera memasangkan sabuk pengaman itu dan berdeham untuk menghilangkan rasa canggungnya.
‘Sumpah! Kenapa aku jadi deg-degan nggak karuan gini! Ya Allah... Astagfirullah... Ya Allah... Malu, sumpah...! Aaah...kenapa harus malu. Toh, Mas Rangga juga nggak suka lihatnya. Apa-apaan sih, Alana! Jangan mikir yang macem-macem! Dia punya perempuan lain yang dia cintai! Dia nggak akan tergoda! Tenang saja!’ jerit Alana dalam hati.
“Kita mau ke mana, Mas?” tanya Alana yang akhirnya memberanikan diri membuka suara setelah beberapa saat lamanya mereka berkendara dalam diam.
“Aku lapar,” sahut Rangga dengan singkat, tanpa ada tambahan gerutu yang sering ia perdengarkan di hadapan Alana.
Alana pun hanya mengangguk dengan canggung sebagai jawaban atas pernyataan Rangga. Lagi-lagi mereka hanya saling diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya setelah hampir satu jam di jalanan mereka tak menemukan warung makan bahkan restoran yang buka, Alana kembali memberanikan diri membuka suara.
“Udah hampir tengah malem, kayaknya udah nggak ada yang buka,” ucap Alana seraya celingukan melihat ke sepanjang jalanan yang ada di kiri kanan jalan.
“Sebenarnya...tadi sore Ibu masak ikan pepes dan opor ayam....”
“Aku ingin makan di luar,” sela Rangga makin mempercepat mengemudikan mobilnya, namun dalam sekejap mata Rangga membanting setir dan mengerem mendadak hingga membuat Alana memekik terkejut dan ketakutan.
“Mas, sebenernya ada apa?” desak Alana yang akhirnya mulai tak tahan dengan sikap Rangga.
“Kamu yang kenapa! Lihat, apa maksudmu ini?” sergah Rangga membalikkan ucapan Alana seraya memperlihatkan layar ponselnya kepada Alana yang terbuka tentang pesan dari Alana.
Alana tercenung tak mengerti hingga ia membaca tulisan yang terakhir ia kirimkan pada Rangga.
“Apa maksudmu dengan menanyakan kapan berakhirnya kontrak pernikahan kita? Kau pikir ini pernikahan kontrak yang bisa saja sewaktu-waktu selesai begitu? Kerjaanku udah bikin aku pusing kamu lagi malah bikin ulah begini,” omel Rangga yang ia coba tahan sejak ia datang.
Tanpa memedulikan segala gerutu Rangga, Alana segera merebut ponsel di tangan Rangga dan mencari pesan terakhir Rangga, ‘Foto, mana foto itu? Nggak ada! Di hapus! Siapa yang menghapusnya? Apa Mas Rangga yang menghapusnya?’ pikir Alana bertanya-tanya.
“Semua kerjaanku jadi kacau, belum lagi kamu nggak bisa aku hubungi, Mbok Darmi bilang kamu malah nginep di rumah Ibu, makanya aku langsung aja ke mari. Jangan bilang kamu udah ngomong sama Ibu? Eh, kamu udah bikin aku pusing, malah enak-enakan tidur. Sekarang makanya aku ajak keluar buat ngomongin ini. Emang bisa kamu ngomong begini di rumah Ibu? Kamu pikir apa Ibu nggak akan dengerin? Belum lagi....”
Rangga terdiam saat menatap Alana yang terlihat kebingungan sendiri seolah ia kehilangan sesuatu saat menatap ponsel Rangga.
“Alana kamu dengerin nggak sih?” tegur Rangga dengan suara menahan kesal.
“Mas, ini...Mas kirim pesan apa? Kok di hapus?” tanya Alana mengabaikan semua ucapan Rangga dan membuat Rangga semakin kesal. Ia merebut ponsel itu dari tangan Alana dan melemparkan ponsel itu di hadapannya setelah ia melihat kembali isi percakapan itu.
“Nggak tahu! Mungkin kepencet saat aku tidur. Udah, nggak usah ngalihin pembicaraan. Sekarang jawab pertanyaanku. Apa maksudmu bertanya kapan berakhirnya kontrak?” sela Rangga dengan menatap Alana lurus-lurus.
Alana menghela napas dengan kasar, “Aku cuma ngikutin apa yang Mas bilang aja. Mas bilang ‘kan aku hanya istri pengganti, kerja sebagai pengasuh Arka. Jadi, wajar dong kalau aku nanya kapan kontraknya selesai? Soalnya ....”
“Soalnya apa? Apa karena kau punya pacar makanya buru-buru pengen selesai kontrak? Iya?” desak Rangga yang sontak membuat Alana membeliak terkejut dan kesal bukan main.
“Apa-apaan sih, Mas? Kenapa jadi ke mana-mana? Ini ‘kan kita lagi ngomongin masalah kapan selesainya kontrak pernikahan kita, kenapa jadi ke urusan pribadiku?” sergah Alana tak bisa memungkiri rasa kesalnya.
Rangga menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan, “Terus apa alasan logis mu minta kepastian itu kalau kamu nggak kebelet mau kawin dengan pacarmu?” ledek Rangga dengan nada menyindir.
Keterlaluan kamu, Mas,” sela Alana dengan suara gemetar menahan isak tangisnya.
“Loh, bener dong? Apa lagi yang jadi alasan bagi istri yang tiba-tiba berpikir mengakhiri pernikahan jika dia nggak ada laki-laki lain? Kita udah sama-sama dewasa, Lana. Nggak usah malu kalau kamu sebenarnya memang punya laki-laki lain yang kamu cintai,” desak Rangga tetap mempertahankan pendapatnya seolah itu sebuah kebenaran.
“Ngaca, Mas. Bukannya Mas yang udah tidur dengan perempuan lain, kenapa sekarang Mas malah ngurusin kehidupan pribadiku? Seharusnya kalau memang, Mas benci banget sama aku buat apa nikahin aku, Mas. Apalagi Mas juga udah punya pacar. Harusnya... Mas NIKAHIN DIA BUKAN AKU!”