‘Astagfirullah haladzim... Mas Rangga....’ pekik Alana dalam hati dengan getar hebat di tangannya hingga tanpa sadar dia menjatuhkan ponselnya dan membuat layarnya retak seketika hingga membuat ponselnya mati seketika.
‘Ya Allah, Mas....’ gugu Alana dengan perasaan terguncang dan sebagai akibatnya ia memeluk Arka dengan cukup erat untuk beberapa saat hingga membuat Arka melenguh dan bergerak-gerak tak nyaman.
‘Siapa perempuan itu? Apa dia yang bernama Tasya? Apa ini rencana Mama Rossa memaksa Mas Rangga menginap? Untuk mempertemukan mereka? Atau memang Mas Rangga sendiri yang bertemu dengan perempuan itu di luar? Lagi pula ada Papa, mana mungkin Mas Rangga berani berbuat begitu di rumah Papanya? Padahal dia sendiri yang minta aku berpura-pura di depan mereka berdua....’
‘Ya Allah.... Astagfirullah....’ Berkali-kali Alana menghela napas panjang dan tak henti-hentinya ia beristigfar untuk menenangkan dirinya, namun tetap saja air mata mengalir di pipinya.
‘Ya Allah kenapa pula aku nangis gini? Toh, emang Mas Rangga benci sama aku dan aku cuma kerja di sini sebagai pengasuh Arka ‘kan? Ya, bener. Apalagi yang aku harepin dari Mas Rangga. Alana, please nggak usah cengeng!’ pekik Alana dalam hati untuk menguatkan hatinya.
Hingga untuk beberapa saat ia hanya bisa terdiam dan mencoba untuk menenangkan dirinya seraya berusaha menidurkan Arka kembali, namun demikian, seolah Arka memahami perasaan Alana, bocah laki-laki itu malah terbangun dan berceloteh pada Alana.
‘Ya, aku bertahan hanya demi Arka, bukan demi apa pun. Dan setidaknya juga demi Ibu,’ imbuh Alana seraya memeluk Arka dan menciumi batita itu dengan gemas.
Dan melihat keceriaan Arka pagi itu membuat Alana melupakan kesedihan dalam hatinya untuk sejenak. Apalagi seharian itu Arka yang telah dimandikan oleh Alana, tak henti-hentinya mengajak Alana bermain, entah di halaman rumah, taman, bahkan bermain air di kolam ikan sambil sarapan pagi.
“Arka kenapa nggak mau bobo siang? Yuk, bobo ya, Sayang. Nanti kecapek’an loh, kalau main terus seharian,” ajak Alana dengan suara membujuk Arka yang sedang bermain air di tepian air kolam.
“Ndak! Ikanna ucu...! Mau tangkap ikan!” pekik Arka berceloteh kegirangan mengabaikan ajakan Alana.
“Hei, yang lucu itu Arka, bukan ikannya. Sini, ya. Mulai berani ngebantah Nana, ya? Entar Nana tinggalin ke rumah nenek nih?” sahut Alana berpura-pura mengancam Arka yang langsung membuat anak kecil itu terkejut menatap Alana.
“Neneeeekk... Mau ke Neneeeeekkk...!” pekik Arka berlarian menghambur ke pelukan Alana dan membuat Alana tertawa geli.
“Iya, nanti kita ke rumah Nenek kalau Arka udah bobo siang, ya?” sahut Alana mencubit sayang hidung mungil Arka dan membuat Arka berteriak semakin bersemangat.
Seharian itu, melihat tingkah Arka yang selalu ceria dan menggemaskan, membuat Alana benar-benar melupakan apa yang telah terjadi pagi itu hingga panggilan Mbok Darmi membuyarkan segala keceriaannya.
“Non, maaf, Non. Apa hape Non Lana mati? Barusan Den Mas telepon hape Mbok, karena hape Non nggak bisa-bisa dihubungi. Terus, katanya Den Mas nggak bisa pulang malam ini karena harus ke luar kota sampai besok,” papar mbok Darmi dengan wajah tak enak hati.
‘Keluar kita? Lagi? Oke,’ pikir Alana seraya menghela napas panjang.
Alana terdiam untuk beberapa saat lamanya, hingga mbok Darmi melanjutkan penjelasannya, “Oh, iya, sebenarnya tadi sepertinya Den Mas mau ngomong langsung sama Non, tapi karena Mbok lagi beberes di lantai dua jadi Den Mas nitip pesen aja karena sepertinya lagi buru-buru gitu, Non,” imbuh wanita paruh baya itu dengan wajah tetap tak hati.
“Nggak apa-apa, Mbok. Terima kasih udah ngabarin, hape saya mati tadi, kayaknya sih, rusak,” sahut Alana dengan senyum mengembang di wajahnya yang cantik.
“Oh ya, Mbok, ini saya mau pergi ke rumah ibu saya. Mbok bisa saya tinggal sendirian? Apa kau ikut?” tanya Alana seraya menggendong Arka yang mulai berteriak-teriak dengan senangnya.
“Wah, bisa Non. Nggak apa-apa Mbok tunggu sampai Non balik ke rumah aja. Arka seneng banget ya, mau main ke rumah Nenek?” sahut mbok Darmi yang ikut tertawa gemas melihat tingkah Arka.
Dan tak butuh waktu berjam-jam lamanya, akhirnya Alana kini sampai di rumah ibunya. Bu Mita dan mbok Sumi menyambut kedatangan mereka dengan wajah penuh haru dan kerinduan.
“Kamu, kok sendirian, mana suamimu?” tanya Bu Mita setelah mereka akhirnya berhasil menidurkan Arka selepas anak itu mandi sore.
“Mas Rangga kerja, Bu. Kebetulan dia lagi ngurusin proyek yang di luar kota sampai besok, jadi Lana ajak Arka main ke mari. Arka juga kangen sama Ibu,” sahut Alana seraya menata baju-baju Arka yang berantakan di atas tempat tidur ibunya.
Bu Mita menghela napas panjang dan menggenggam tangan Alana yang sibuk dengan baju-baju kecil itu, “Lana, apa ada masalah yang terjadi di antara kalian?”
Pertanyaan wanita paruh baya itu membuat Alana mendongakkan kepalanya menatap ibunya yang sayu dan penuh kekhawatiran.
“Masalah pasti ada, Bu. Tetapi, bagi Alana itu hal kecil aja. Ya, biasalah, Ibu nggak usah khawatir gitu dong. Wajar sih, Bu,” sahut Alana dengan lembut dan menggenggam tangan ibunya dan menciumi punggung tangan itu dengan sayang.
“Ya, benar. Pernikahan dengan cinta saja pasti ada aja masalah, apalagi pernikahanmu yang terburu-buru dan Ibu yang memaksakanmu....”
Alana menggelengkan kepalanya tipis-tipis untuk menghentikan ucapan Ibunya yang mulai berkaca-kaca, “Ibu.... Ini hanya masalah Alana yang belum terbiasa dengan adanya laki-laki dalam hidup Lana, Bu. Ya, pasti Lana kaget dan bingung harus gimana. Tapi, Lana belajar, Bu. Dan Lana akan terus belajar menjadi istri Mas Rangga, sekaligus ibu bagi Arka,” papar Alana membelai lembut wajah ibunya.
“Syukur Alhamdulillah kalau begitu, Ibu benar-benar khawatir,” ucap Bu Mita yang akhirnya meneteskan air mata yang sejak tadi mengambang di kedua matanya yang telah sayu.
Dan melihat hal itu, Alana segera memeluk Ibunya dengan erat dan sayang, “Ibu, Lana udah dewasa. Ibu tenang aja, ya. Doakan Lana agar Lana bisa menjalani dan melewati semua ini dengan baik, ya, Bu,” ucap Alana yang langsung dijawab dengan anggukan ibunya beberapa kali.
“Ibu selalu doain Lana, Sayang, selalu... Maafkan Ibu....” sahut Bu Mita terbata-bata karena menahan isaknya.
“Nggak, Bu. Sudah, Lana nggak apa-apa kok. Ini Lana main karena Arka kangen sama Neneknya, kalau setiap Alana kemari Ibu selalu nangis, Lana nggak mau ke sini lagi loh nanti,” ancam Alana dengan suara lembut yang membuat ibunya menahan tangis sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali dan hal itu membuat Alana terkekeh geli.
“Ibu kalau gini mirip banget sama Arka. Ternyata tingkah Arka yang lagi gini itu menurun dari neneknya, ya,” ucap Alana yang membuat keduanya tertawa bersama.
Malam itu Alana membiarkan Arka tidur bersama Ibunya karena ia melihat bagaimana Ibunya yang ternyata menahan rindu pada Arka. Namun demikian, Ibunya tak pernah mau jika diajak tinggal bersama dengannya.
‘Tapi, benar juga. Kalau Ibu tinggal sama aku, Ibu akan tahu semua permasalahan kami dan aku nggak tega ngeliat Ibu tertekan terus dengan sikap Mas Rangga yang Ibu nggak tahu,’ pikir Alana seraya merebahkan dirinya di kamarnya yang telah lama ia tinggalkan.
Dan tanpa sadar ia merasakan kerinduan yang mendalam pada tempat itu hingga tanpa sadar ia terlelap dengan gampangnya, hingga sebuah suara yang terus memanggil-manggilnya, membuatnya tersentak dari tidurnya dengan terkejut, lebih-lebih sosok yang tak seharusnya ada di kamarnya.
“Mas Rangga! Kenapa Mas ada di sini?”