Seorang pria gagah berparas rupawan dengan wajah blasterannya yang menonjol tampak masuk ke sebuah mobil mewah di sebuah tempat parkir, di mana seseorang telah menunggu di sana.
“Selamat siang, Tuan muda.” Pria bersetelan jas rapi di dalam mobil itu menyapa dengan sikap formalnya pada pria bernama Aziel Gibran yang baru saja masuk ke dalam mobil.
“Kau mendapatkan semua laporan yang aku minta darimu, Faeza?” Aziel bertanya memastikan.
“Seperti yang Anda minta, saya sudah menyiapkannya untuk Anda semua di sini.” Pria bernama Faeza itu memberikan sebuah dokumen pada Aziel. Aziel pun langsung memeriksanya.
Setelah beberapa saat membaca isi dalam dokumen yang dibawa Faeza ekspresi wajahnya berubah. Wajah tampan khas blasterannya tampak lebih serius saat membaca beberapa lembar isi dokumen yang ada di tangannya.
“Sky Group akan mendirikan anak perusahaan di Jakarta?” Aziel bertanya.
“Benar, Tuan. Seperti yang sudah saya sampaikan beberapa waktu lalu pada Anda, jika Tuan besar Cruz akan mendirikan perusahaan di Indonesia untuk memperluas pasar global di Asia Tenggara, dan beliau ingin Anda sendiri yang mengelolanya,” terang Faeza.
Aziel memijat pelipisnya sendiri dengan diiringi tarikan nafasnya yang kasar. “Kenapa pria tua itu selalu memaksakan sesuatu tanpa mendengar pendapatku terlebih dahulu? Astaga, saat ini aku belum bisa fokus untuk hal seperti ini,” tolak Aziel merasa keberatan. “Tolong sampaikan padanya untuk menunda proyek ini. Karena aku masih memiliki banyak urusan yang harus aku lakukan,” tegas Aziel.
“T-tapi, Tuan? Bagaimana kalau Tuan besar Cruz marah besar? Beliau sudah mempercayakan sepenuhnya pada saya untuk membujuk Anda.”
“Apa maksudmu kau takut jika pria tua itu akan membuat ulah lagi karena aku selalu menolak keinginannya?” Aziel menebak dan pria jangkung bernama Faeza itu hanya terdiam, namun sorot matanya jelas menunjukkan kecemasan.
“Kau tenang saja, untuk hal itu aku akan mengatasinya sendiri di sini. Seperti yang kau tahu, sampai hari ini aku masih bisa bertahan tanpa embel-embel apa pun dari keluarga Cruz. Jadi kau tak perlu khawatir akan hal itu,” Aziel berkata meyakinkan.
“Baik, Tuan. Saya mengerti,” Faeza menundukkan kepalanya sedikit dengan patuh.
“Lalu, apa kau mendapatkan informasi tentang Raditya Hermansyah?” Aziel bertanya mengalihkan topik.
“Ya, saya sudah menyelidiki sejak kemarin mengenai Raditya Hermansyah, dia dan istri Anda, Ehem!” Faeza berdehem menepis rasa sedikit canggungnya, “maksud saya, Laura Bramawijaya sejak kemarin bertandang ke rumah keluarga besar Bramawijaya secara bersama-sama. Tak hanya itu, Raditya juga telah menyewa pengacara terbaik untuk mengurus perceraiannya dengan Amara Bramawijaya,” terang Faeza menjelaskan.
Aziel tersenyum sinis menanggapi. “Sudah aku duga, pria serakah itu bergerak cepat untuk menutupi kesalahannya di depan Bramawijaya,” Aziel berkomentar sinis.
“Kau terus awasi, baik itu Laura ataupun Raditya. Aku ingin tahu rencana apa saja yang akan dilakukannya setelah aku memberikan sedikit kejutan untuk mereka .” Kali ini Aziel menyeringai, aura gelap dalam dirinya mulai terlihat. Faeza yang melihatnya, hanya bisa menelan salivanya sendiri dengan susah payah. “Akan aku berikan mereka sedikit pelajaran karena telah berani mengusik wanitaku,” ujarnya serius.
“Baik, Tuan muda saya mengerti.”
“Bagus. Mengenai masalah pria tua itu biar aku yang mengatasinya dari sini. Kau cukup fokus dengan Raditya dan Laura,” perintah Aziel.
“Saya mengerti, Tuan. Tapi, maaf Tuan muda. Saya juga ingin menyampaikan satu hal penting pada Anda,” tutur Faeza serius.
“Lagi?” Aziel mengerutkan kening menatap pria bertubuh jangkung yang duduk di hadapannya. “Tentang apa?” sambungnya ingin tahu.
“Ini mengenai keinginan Nyonya Anisa, beliau mengatakan sangat merindukan Anda dan meminta saya untuk menyampaikannya secara langsung pada Anda,” jelas Faeza memberitahu.
Deg!
Aziel terhenyak, baginya hanya mendengar nama Anisa selalu saja membuat hatinya lemah. Dia tahu apa keinginan dari wanita yang paling penting itu dalam hidupnya. Namun, keinginannya telah kuat untuk tetap bertahan. Aziel tak ingin menjadi lemah hanya karena hal itu, selama beberapa tahun ini dia sudah berhasil lepas dari segala hal yang selalu mengatur dirinya dari kehidupan sebelumnya. Dan Aziel yakin, dia akan sanggup terus bertahan hingga sampai nanti dia kembali dengan membawa kemenangannya sendiri.
“Katakan pada beliau, aku akan menemuinya setelah tiba waktunya nanti. Tidak untuk sekarang, karena aku masih berjuang di sini.” Tegas Aziel datar, kemudian setelah itu dia keluar dari dalam mobil dan melangkah pergi menjauh dari tempat tersebut seperti tak terjadi apa-apa.
...
Malamnya saat Aziel kembali ke rumahnya, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika dia melihat beberapa barang miliknya dan seluruh pakaiannya sudah berserakan di teras rumah. Tak perlu banyak berpikir, Aziel sudah bisa menebak siapa yang melakukannya. Masih dengan ekspresi datarnya Aziel mulai memunguti pakaian dan barang miliknya yang berserakan.
“Bagus! Pria tak malu ini sudah kembali rupanya!” tegur sebuah suara nyaring yang tentu tak asing terdengar bagi Aziel.
Kini tepat di ambang pintu luar seorang wanita cantik dengan penampilan seksinya berkacak pinggang menatap angkuh pada pria yang masih secara hukum adalah suaminya itu.
“Mulai hari kamu pergi dari rumah ini, Mas! Dan bersiaplah dirimu menjadi gelandangan! Aku tak sudi jadi istrimu lagi, Aziel Gibran!” ucap Laura lantang.
Tak ada kata yang terucap sebagai penyangkalan, Aziel hanya mengangkat sudut bibirnya ke atas dan menatap sekilas Laura yang membusungkan d**a dengan angkuh di hadapannya. Melihat sikap Aziel yang tak merespons sedikit pun membuat Laura semakin merasa emosi.
“Kamu pikir hanya kamu yang bisa menikah dengan adik jalangku itu, Mas? Lihat saja, aku juga bisa menikah dengan Mas Radit! Dan perlu kamu tahu, Mas Radit jauh lebih baik segala-galanya darimu! Tak hanya dalam segi ekonomi, dia juga lebih bisa memuaskan aku daripada kamu yang pasif itu!!” maki Laura tanpa rasa malu.
“Bagus, nikmatilah pilihanmu itu, Laura. Aku tak akan menghalangimu,” sahut Aziel datar tanpa ekspresi. Setelah selesai mengumpulkan pakaiannya dan menaruhnya ke dalam koper, Aziel melangkah pergi keluar rumah.
“Aku menyesal mengenalmu dan menjadi istrimu, Mas! Benar-benar menyesal! Namun, aku kini merasa bahagia karena setelah resmi bercerai denganmu, Mas Radit akan menikahiku dan aku sudah mendapatkan restu itu dari ayah dan ibuku!” Laura berkata keras, tetapi ucapannya itu sama sekali tak direspons oleh Aziel. Pria itu tetap pergi membawa koper berisi pakaian dan barang-barang miliknya dengan langkah penuh percaya dirinya, tanpa keraguan sedikit pun.
Laura yang melihat sosok gagah itu menghilang dari pandangannya hanya terdiam dengan menahan kedongkolan. Dulu memang dia tergila-gila dengan Aziel Gibran, hingga dia tak peduli dengan status sosial Aziel dan tetap memilihnya sebagai suami. Tetapi tidak sekarang dan Laura benar-benar menyesal. Kini dia sudah mendapatkan pengganti Aziel yang lebih segalanya dari pria yang masih menjadi suaminya itu.
“Akan aku buktikan padamu, Mas Aziel. Aku juga akan hidup bahagia setelah menikah dengan Mas Radit nanti!” desis Laura penuh percaya diri.