“Kamu tidak apa-apa, Amara?” Pertanyaan mas Aziel seketika menyadarkanku dari kenyataan setelah beberapa saat tatapan kami bertemu dalam posisi yang sangat membuat canggung.
“Ah ya, Mas. Maaf, aku begitu sangat ceroboh.” Aku salah tingkah saat itu juga dengan membuang muka. “Terima kasih, Mas. Aku akan kembali ke kamar.” Sambungku lalu berjalan cepat menuju ke arah kamar.
‘Astaga, cerobohnya aku bisa sampai terjatuh seperti tadi!?’ aku terus memaki diri sendiri dengan jantung yang tak bisa berdebar dengan kencang.
Setelah sampai di dalam kamar, aku menyadarkan tubuhku sejenak di pintu kamar untuk merilekskan diri setelah kejadian memalukan di luar dugaan seperti tadi. Setelah aku merasa lebih baik kemudian aku melangkah ke wastafel kamar mandi dan membasuh wajahku di sana. Cipratan air begitu terasa sejuk di wajahku dan dapat mendinginkan otakku yang terasa tegang. Aku tatap pantulan diriku dalam cermin lalu menepuk sedikit pipiku. Rasanya lebih baik dari sebelumnya.
“Sadarlah Amara, kau hanya merasa tegang akhir-akhir jadi jangan anggap terlalu berlebihan perasaanmu dan juga debaran jantungmu itu ketika bersama dengan Aziel Gibran. Dia adalah kakak iparmu, seseorang yang akan membantumu untuk membalas perbuatan dua manusia pengkhianat yang telah menyakitimu,” aku bermonolog.
Besok aku akan kembali ke duniaku yang sebenarnya, di mana apa yang sudah terjadi akan di mulai. Mas Radit sudah menalakku, itu artinya mulai besok aku tidak akan tinggal di rumah kami. Walaupun ada hakku di dalam rumah itu, namun aku akan memilih tidak akan terburu-buru membawa apa pun yang menjadi hakku di sana kecuali diriku sendiri. Harta gono gini itu akan aku dapatkan setelah perceraian kami akan sampai di persidangan nanti.
Setelah semua hal ini terjadi padaku, aku kini menjadi berpikir kenapa Tuhan belum memberikan kami kepercayaan seorang anak setelah tiga tahun pernikahan. Ada hikmah dibalik semua kejadian yang menimpa kita. Itulah yang terjadi padaku saat ini dan aku mensyukurinya. Tuhan telah membuka mataku jika mas Radit memang bukanlah pria yang tepat untukku. Aku sudah bisa menerima kenyataan pengkhianatan mas Radit padaku, tetapi aku tidak akan pergi begitu saja sebelum memberikan efek jera pada mas Raditya dan juga mbak Laura. Itu adalah janjiku.
...
“Kamu yakin akan baik-baik saja?” Mas Aziel bertanya cemas setelah kami sampai kembali ke ibu kota, di mana aku kini mengantarkan mas Aziel pulang kembali ke rumahnya.
Aku tersenyum meyakinkan dan berkata. “Aku baik-baik saja, Mas. Aku akan menyelesaikan urusanku di rumah lalu mencari rumah kontrakan untuk sementara aku tinggali,” jawabku.
“Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Aku juga akan menyelesaikan urusanku di sini. Hubungi aku secepatnya nanti,” mas Aziel mengingatkan dan aku mengangguk mengerti sebagai jawabannya.
Untuk pertama kalinya aku kembali ke rumah di mana rumah itu menjadi saksi saat aku menjadi istri dari Raditya Hermansyah, pria yang mulai kemarin sudah berganti gelar menjadi mantan suami. Aku akan mengambil pakaianku dan surat berharga lainnya di rumah itu kemudian mencari rumah kontrakan. Matahari sudah semakin terik, menandakan waktu sudah semakin siang. Aku sengaja memilih waktu sekarang karena aku untuk saat ini aku enggan bertemu dengan mas Radit.
Namun, tanpa aku duga saat aku baru saja sampai di muka halaman aku melihat mobil milik ayah di depan garasi. Firasat buruk mulai melingkupiku. Aku tahu cepat atau lambat aku akan berurusan dengan ayah dan ibu setelah apa yang terjadi, tetapi aku tak menyangka mereka akan secepat itu meresponsnya hingga sampai bertandang ke rumahku seperti ini. Jika ayah dan ibu ada di rumah, besar kemungkinan mas Radit dan mbak Laura pun ada di sana.
Setelah mengumpulkan kekuatanku kembali, aku mulai masuk ke dalam rumah. Tepat seperti dugaanku di sana sudah berkumpul ayah dan ibu, dan dua orang pengkhianat itu. Mereka berempat berkumpul layaknya sebuah keluarga di ruang tengah rumah seakan tak pernah terjadi apa-apa. Melihat kedatanganku seketika itu pun pandangan mereka beralih padaku.
“Assalamualaikum,” aku memberikan salam.
Lama tak ada di antara dari mereka berempat yang menyahut hingga akhirnya ayahlah yang membalas salam dariku, “Walaikumsalam.”
“Ayah, Ibu apa kabar? Sejak kapan datang?” Aku menghampiri keduanya tanpa memperdulikan sama sekali kehadiran mbak Laura ataupun mas Radit.
Aku bersikap seolah tak melihat tatapan tajam dingin ayah padaku, juga tatapan kebencian ibu Mega padaku, dengan tetap bersikap biasa aku menghampiri mereka untuk menyalami keduanya seperti yang biasa aku lakukan. Namun belum sempat tangan ini menyentuh tangan ayah, sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipiku hingga suaranya seolah membuatku tuli untuk beberapa saat.
Plakk!!
“Anak kurang ajar!! Kelakuanmu sungguh tidak pantas untuk disebut wanita bermartabat!!” maki ayah keras.
Aku mematung saat itu juga, berusaha memahami situasi yang cukup membuatku syok ini. Sempat aku melihat senyum kemenangan tersungging di bibir mbak Laura. Sedangkan mas Radit yang duduk di sebelahnya hanya diam tak menunjukkan reaksi apa pun.
“Berani sekali kamu berselingkuh dengan pria lain saat dirimu sudah menjadi istri dari pria terhormat seperti Raditya, Amara?! Dan lebih memalukan kamu berselingkuh dengan suami dari kakakmu sendiri! Apa kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, hah?!” maki ayah keras penuh emosi.
“Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu jika putri keduamu ini kelakuannya semakin lama semakin mirip seperti Mutiara!” Ibu Mega ikut memaki membuatku merasa emosi seketika.
“Kalian boleh menghinaku tetapi tidak akan aku biarkan siapa pun menghina mendiang ibuku Mutiara, sekalipun itu adalah kamu, Ibu!” tukasku keras dengan berani pada wanita setengah baya yang merupakan ibu tiriku.
“Apa?! Kamu berani membentakku, Amara?!” Ibu Mega melotot merasa tak terima, dia hendak melayangkan tamparan padaku, namun ayah lebih dulu dengan cepat menangkap tangan istri pertamanya itu.
“Cukup! Biarkan aku yang menangani Amara, kamu tak perlu ikut campur, Mega!” larang ayah dengan tegas memperingati. Ibu Mega mendengus kesal. Dia melipat tangannya ke d**a dengan angkuh.
“Dengar Amara, sepertinya kamu menjadi besar kepala dan serakah karena lupa diri! Setelah apa yang kamu lakukan pada kakakmu dan suamimu. Apa kamu menyadarinya kesalahanmu?!” hardik ayah menatapku dengan tatapan tajam.
“Sepertinya pertanyaan itu lebih pantas untuk putri pertama Ayah yang selalu Ayah banggakan itu.” Aku menyahut seraya tersenyum sinis melirik Laura Bramawijaya yang masih duduk tenang dengan sikap angkuhnya.
“Apa?!” Ayah semakin melebarkan kedua matanya menatapku tajam.
“Ya, aku hanya melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan padaku dan Mas Aziel. Jadi tidak ada yang salah, bukan?” jawabku enteng mencoba bersikap tenang meskipun d**a ini terasa seperti meledak karena dilingkupi emosi.
“Heh, jangan berusaha membodohi Ayah! Kamulah yang lebih dulu menggoda suamiku bukan aku!” Mbak Laura mencoba menyangkal.
“Terserah, aku tak peduli. Sekeras apa pun aku membela diri, Ayah akan lebih percaya pada Mbak Laura daripada aku,” sahutku santai.
“Bagus! Kalau kamu tahu diri!” Mbak Laura menyela.
“Tentu saja aku tahu diri, dan itu sejak dulu. Namun, tak jadi masalah karena mulai sekarang aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan.” Aku beralih mengalihkan pandanganku pada Mas Radit yang melihatku, lalu aku tersenyum sinis. “Dan yang terpenting aku kini sudah menjadi wanita bebas jadi tidak akan jadi masalah aku akan mencari kebahagiaanku sendiri,” ucapku penuh penekanan.
“Kau maksudmu, Amara?!” hardik ayah dengan suara lantang.
“Apa Mbak Laura dan Mas Radit belum menceritakannya pada Ayah ataupun Ibu Mega?” Aku menatap satu persatu bergantian ayahku dan ibu tiriku. “Astaga, melihat reaksi kalian, sepertinya memang mereka belum mengatakan hal itu pada Ayah Ibu,” desisku sinis.
“Katakan saja tidak perlu berbelit-belit!” cercah Ibu Mega menatapku penuh kebencian.
“Setelah masa iddahku selesai, aku dan Mas Aziel berencana akan menikah,” ucapku penuh percaya diri.