Aroma di apartemen Stefani berbau tidak sedap. Seperti campuran cairan pembersih lantai dan kopi basi. Aroma itu bercampur dengan udara malam yang lembap, menciptakan atmosfer pengap yang membuat daɗa Stefani terasa sesak setiap kali dia menarik napas. Dia duduk di lantai kayu yang dingin, memeluk lututnya erat-erat. Di hadapannya, di atas meja kecil yang catnya mulai mengelupas, tergeletak sebuah kartu nama hitam polos.
Jam dinding di atas kompor kecil menunjukkan pukul 23.15. Jarum detik berdetak dengan irama yang lambat dan menyiksa. Stefani menatap angka emas yang tercetak di tengah kartu itu. Logikanya berteriak padanya untuk membuang benda itu ke tempat sampah. Pria yang memberikan kartu ini adalah mimpi buruk yang berjalan. Dia arogan, kejam, dan baru saja menghancurkan harga dirinya di depan ratusan orang hanya beberapa jam yang lalu.
Tapi kemudian suara telepon dari apartemen kamar sebelah yang terdengar samar telah membuyarkan lamunannya, dan di dalam ingatan, suara perawat yang memberitahu tentang pemindahan ibunya ke ruang perawatan umum besok pagi.
Suara itu mengiris pikiran Stefani, menghancurkan setiap argumen logis yang tersisa di kepala. Dia tidak punya pilihan. Dia tidak punya uang. Dia tidak punya waktu.
Dengan tangan yang gemetar Stefani mengambil ponselnya. Jari-jarinya terasa kaku dan dingin saat dia mengetik satu per satu nomor emas yang ada di kartu itu. Dia menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel ke telinganya.
Ponsel itu berdering hanya satu kali.
Tidak ada sapaan. Tidak ada suara bising di latar belakang. Hanya ada keheningan yang berat, diikuti oleh suara napas yang tenang dan ritmis di seberang sana. Stefani bisa membayangkan pria itu duduk di ruangan yang sunyi, mungkin menatap langit-langit atau menatap jendela, menunggu.
"Professor," suara Stefani keluar, parau dan bergetar. Dia mencoba menarik napas untuk menstabilkan nadanya. "Saya... saya menelepon nomor ini."
"Kau membuat keputusan yang tepat, Stefani."
Suara Alexander Audrey bergema di telinga Stefani. Nadanya rendah, serak, dan sangat dekat, seolah pria itu sedang berdiri tepat di belakangnya dan berbisik langsung ke kulit lehernya. Tidak ada nada kemenangan di suaranya. Tidak ada rasa puas. Hanya ada kepastian mutlak, seolah dia sudah tahu Stefani akan menelepon sejak detik pertama dia memberikan kartu itu.
"Sekarang, dengarkan aku baik-baik," lanjut Alexander, suaranya datar namun memerintah. "Ada mobil hitam yang akan menjemputmu di depan gedung dalam lima menit. Jangan bawa tas. Jangan bawa barang-barangmu. Dan tinggalkan ponselmu di meja setelah kau turun dari mobil. Jangan membuatku menunggu."
"Professor, saya butuh penjelasan dulu, apa yang harus saya.."
"Empat menit, Stefani."
Sambungan terputus. Stefani menatap layar ponselnya yang kini gelap. Jantungnya berdetak begitu keras hingga dia bisa merasakan denyutannya di pelipis. Empat menit. Dia tidak punya waktu untuk berpikir. Dia tidak punya waktu untuk takut. Dia hanya berdiri, mengambil mantel tebalnya, dan berjalan keluar dari apartemen yang bau itu, meninggalkan ponselnya yang masih menyala di atas meja kopi.
Di depan gedung apartemennya, sebuah mobil hitam mengkilap sudah menunggu. Kaca jendelanya gelap total, memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Seorang pria berjas hitam berdiri di samping pintu belakang, membukakan pintu untuk Stefani dengan gerakan yang efisien dan tanpa suara. Stefani masuk ke dalam. Interior mobil itu berbau kulit mahal dan udara dingin yang beraroma mint. Sopir itu, seorang pria berotot dengan wajah datar, hanya mengangguk singkat di kaca spion sebelum mobil meluncur mulus ke jalanan malam.
Perjalanan itu terasa seperti melintasi dua dunia yang berbeda. Stefani menatap ke luar jendela, menyaksikan jalanan Brooklyn yang kasar, penuh dengan toko-toko kecil bercahaya neon dan suara klakson taksi, perlahan memudar. Mereka menyeberangi jembatan, dan pemandangan berubah menjadi jalanan Tribeca yang sepi, bersih, dan diapit oleh gedung-gedung loteng eksklusif yang megah.
Perut Stefani mual. Campuran rasa takut dan antisipasi yang aneh berputar di dalam dadanya. Dia sedang diangkut menjauh dari kehidupannya yang nyata, masuk ke dalam dimensi pria yang dia benci.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Sopir membukakan pintu. Stefani melangkah keluar, kakinya terasa seperti berjalan di atas kapas. Dia masuk ke dalam lobi yang sunyi dan langsung diantar ke lift pribadi. Lift itu meluncur naik dengan kecepatan yang membuat telinganya berdenging.
Ketika pintu lift terbuka, Stefani langsung disambut oleh pemandangan yang membuat napasnya tercekat.
Penthouse itu luas, mungkin seluas ratusan meter persegi. Lantainya terbuat dari kayu gelap yang mengkilap, dan langit-langitnya sangat tinggi. Dinding di sepanjang ruangan terbuat dari kaca raksasa tanpa tiang, menampilkan pemandangan kaki langit Manhattan yang berkilauan di malam hari. Lampu-lampu gedung pencakar langit berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Tidak ada karpet tebal, tidak ada hiasan dinding yang ramai, tidak ada foto keluarga. Ruangan itu minimalis, dingin, maskulin, dan berbau sangat mahal.
Alexander berdiri di dekat jendela raksasa itu.
Dia tidak lagi mengenakan setelan jas abu-abu yang dia pakai di kampus. Sekarang dia hanya mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan kulit lehernya yang pucat. Lengan bajanya digulung hingga siku, menampilkan lengan bawah yang kekar dengan urat-urat yang menonjol saat dia memegang sebuah gelas kristal.
Dia menoleh saat mendengar langkah kaki Stefani. Mata biru-abunya menatap gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu membuat Stefani merasa telanjang, seolah Alexander sedang memindai setiap inci tubuhnya.
"Kau terlihat seperti anak kecil yang tersesat di museum seni, Stefani," ucap Alexander. Suaranya tenang, bergema di ruangan yang luas dan sunyi itu. Dia berjalan perlahan menuju Stefani, langkah kakinya tidak menimbulkan suara. Di tangannya ada gelas kristal kedua yang berisi cairan berwarna amber. Dia menyodorkan gelas itu ke arah Stefani. "Minum. Kau terlihat pucat."
Stefani menatap gelas itu, lalu menatap mata Alexander. Dia menarik napas pelan dan menggeleng. "Tidak, terima kasih. Saya tidak minum alkohol."
Alexander tidak memaksa. Dia tidak terlihat tersinggung atau marah. Dia hanya menurunkan tangannya dan meletakkan gelas itu di atas meja kaca di dekat sofa.
"Pilihan yang bijak. Kau butuh pikiran yang jernih untuk apa yang akan kita diskusikan malam ini. Duduklah."
Stefani berjalan menuju sofa kulit hitam yang sangat empuk dan duduk di tepiannya. Punggungnya tegak, tangannya saling meremas di atas pangkuannya. Alexander duduk di kursi tunggal di hadapannya, menyilangkan kakinya dengan santai. Dia menatap Stefani dengan tatapan yang tidak berkedip.
"Kita tidak akan membuang waktu dengan basa-basi," Alexander memulai, suaranya datar dan profesional, seperti sedang membacakan laporan keuangan.
"Ibumu butuh operasi ginjal dan perawatan intensif pasca operasi. Biayanya sekitar dua ratus ribu dolar untuk tahun pertama. Aku akan membayarnya semua. Aku juga akan melunasi sisa utang kuliahmu di NYU dan menyewa apartemen yang layak untukmu di Manhattan."
Stefani terdiam. Angkanya terlalu besar. Otaknya kesulitan memproses jumlah uang sebanyak itu. Dia menatap Alexander, mencari-cari trik atau lelucon di mata pria itu. Tapi yang dia temukan hanya keseriusan yang dingin dan tajam.
"Apa maumu?" tanya Stefani, suaranya bergetar. "Aku tidak punya apa-apa untuk ditukar dengan uang sebanyak itu. Aku hanya mahasiswi biasa. Aku tidak punya koneksi, tidak punya.."
"Kau salah," potong Alexander. Suaranya tiba-tiba menjadi lebih rendah, lebih berat. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Stefani dengan intensitas yang membuat udara di sekitar mereka terasa menipis.
"Kau punya satu hal yang sangat aku butuhkan. Waktu, ketaatan, dan... dirimu."
Sesaat Stefani merasakan kering di kerongkongan. Sedikit menyesali kenapa tidak ia minum saja anggur yang ditawarkan Alexander tadi.
Dan kata-kata itu terdengar seperti kalimat yang diucapkan oleh penjahat di film, bukan oleh seorang profesor sastra.
Alexander tersenyum di ujung bibirnya. Dia hanya menoleh sedikit ke arah sudut ruangan yang gelap dan mengangguk singkat.
Daniel, sopir yang tadi mengantarnya, melangkah masuk ke ruang tamu dengan langkah yang sama sekali tidak terdengar. Di tangannya, dia membawa sebuah portofolio dokumen kulit hitam yang tipis, ramping, dan elegan. Daniel meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kaca di hadapan Stefani, lalu mundur dan menghilang ke dalam kegelapan koridor tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Ini kontrak kerja," jelas Alexander, matanya tidak pernah lepas dari wajah Stefani. "Kau akan menjadi asisten pribadiku. Kau akan tinggal di penthouse ini. Gajimu akan langsung ditransfer ke rekening rumah sakit ibumu setiap minggu, dan sisanya masuk ke rekening pribadimu. Kau tidak perlu bekerja di kafe lagi. Kau tidak perlu khawatir tentang tagihan. Fokusmu hanya pada kuliah dan... aku."
Stefani menatap portofolio hitam itu. Tangannya gemetar hebat saat dia mengulurkan tangan dan membuka penutup kulitnya. Dia mengharapkan lembaran syarat kerja biasa. Dia mengharapkan jam kerja, deskripsi tugas, dan klausul kerahasiaan standar.
Tapi halaman pertama itu kosong dari semua hal normal itu.
Di bagian atas halaman, hanya ada satu judul besar yang dicetak dengan huruf tebal.
ATURAN DASAR
Di bawahnya, terdapat daftar bernomor. Mata Stefani tertuju pada baris pertama. Napasnya tercekat. Darahnya terasa membeku di nadinya, mengalir lambat dan dingin ke seluruh tubuhnya.
Stefani melirik pada Alexander, sedang pria itu sedang menatapnya sambil menyesap anggur. Stefani berdehem pelan.
Bagian I : Kewajiban Dasar.
Aturan Nomor 1: Kau tidak boleh berbohong padaku, bahkan dengan menghilangkan fakta. Satu kebohongan = pelanggaran kontrak.
Stefani mengangkat wajahnya, menatap Alexander dengan mata terbelalak. Pria itu masih duduk di sana, tenang, memegang gelas whiskey-nya. Senyum tipis yang tidak mencapai matanya terbentuk di sudut bibirnya. Senyum yang membuat Stefani merinding dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Baca semuanya, Sayang," bisik Alexander, suaranya tiba-tiba terdengar sangat gelap dan serak, memenuhi ruangan yang sunyi itu.
"Dan tanda tangani di halaman terakhir. Kau punya waktu sampai jam dua belas."