Hujan menghantam jendela kaca patri ruang kuliah Silver Center dengan irama yang konstan dan membosankan. Suara air yang beradu dengan kaca itu bercampur dengan aroma mantel basah dan kertas tua, menciptakan atmosfer lembap yang membuat Stefani Wolden semakin sulit mempertahankan kesadarannya. Matanya terasa perih, perih yang tajam dan panas di bagian dalam kelopak mata akibat kurang tidur selama tiga hari berturut-turut.
Dia menatap buku catatan di hadapannya, tetapi huruf-huruf di atas kertas itu tampak kabur dan menari-nari. Di sudut halaman, dia menulis angka-angka kecil dengan pensil mekanik. Gaji dari kafe. Uang sisa dari tabungan darurat. Biaya resep obat ibunya. Hasil akhirnya selalu negatif. Stefani menggosok pelipisnya dengan dua jari, mencoba memijat ketegangan yang berdenyut di sana. Dia hanya butuh lulus dari mata kuliah ini. Hanya itu. Dia tidak punya waktu untuk drama, tidak punya energi untuk bersosialisasi, dan sama sekali tidak punya ruang di kepalanya untuk memikirkan hal lain selain tagihan rumah sakit yang menumpuk di atas meja dapurnya.
Suara pintu kayu ek berat yang terbuka memecah lamunannya.
Bunyi langkah kaki yang ritmis dan berat bergema di lantai kayu ruang kuliah. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Iramanya sempurna, tidak terburu-buru, namun memiliki otoritas yang membuat seluruh ruangan mendadak hening. Suara bisik-bisik mahasiswa yang tadi memenuhi ruangan lenyap seketika, digantikan oleh keheningan yang mencekam.
Professor Alexander Audrey berjalan menuju podium.
Dia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang potongannya sempurna, membalut tubuh tingginya dengan rapi. Kemeja putih di bawahnya tidak memiliki satu pun kerutan, dan mansetnya sedikit menonjol keluar, menampilkan sepasang kancing manset perak berukir rumit yang berkilau redup di bawah lampu neon ruangan. Wajahnya datar, tanpa senyum, tanpa sapaan. Rahangnya yang tajam dan tulang pipinya yang tinggi memberikan kesan pahatan marmer yang dingin dan tidak terjangkau.
Alexander tidak menatap mahasiswa di depannya. Dia mengambil kapur tulis dan menulis judul kuliah di papan tulis dengan tulisan tangan yang tajam dan elegan. Suara kapur beradu dengan papan tulis terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
'Motivasi Tersembunyi dalam Narasi Psikologis'
Dia meletakkan kapur, menepuk debu putih dari ujung jarinya, dan akhirnya menatap kelas. Mata biru-abunya menyapu seluruh ruangan. Tatapan itu tidak sekadar melihat, melainkan membedah. Stefani merasakan bulu kuduknya merinding saat tatapan itu melintas di atasnya, dingin dan tajam seperti ujung pisau bedah.
"Kita akan membahas bab terakhir dari novel yang saya tugaskan minggu lalu," suara Alexander bergema, berat dan tenang, mengisi setiap sudut ruangan tanpa perlu dia mengeraskan suaranya. "Tokoh utama, Elias, baru saja membunuh sahabatnya sendiri. Buku teks menyebutkan ini adalah tindakan impulsif karena kemarahan. Saya ingin kalian membantah itu. Berikan saya satu motif tersembunyi yang logis berdasarkan pola psikologis Elias di bab-bab sebelumnya."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Beberapa mahasiswa menunduk, pura-pura sibuk melihat catatan mereka. Yang lain menatap meja dengan tatapan kosong, berharap tidak dipanggil. Alexander berdiri di belakang podium, tangannya bertumpu pada kayu, menatap mereka dengan tatapan yang jelas menunjukkan rasa muaknya.
"Tidak ada yang mau mencoba?" tanyanya, suaranya datar namun mengandung nada meremehkan yang menyakitkan. "Atau kalian semua setuju dengan analisis dangkal yang ditulis di buku teks?"
Mata Alexander bergerak lagi, dan kali ini berhenti tepat di hadapan Stefani.
"Miss Wolden."
Jantung Stefani melompat, menghantam tulang rusuknya dengan keras. Dia mendongak, bertemu dengan tatapan biru-abu yang mengintimidasi itu.
"Kau yang paling vokal di forum diskusi online kampus," lanjut Alexander, sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Kau sering mengkritik interpretasi dosen lain. Ayo, buktikan di sini. Apa motif tersembunyi Elias?"
Stefani merasakan panas merambat naik ke lehernya. Dia tahu ini adalah jebakan. Alexander Audrey terkenal karena caranya menghancurkan mahasiswa yang berani menjawab salah. Tapi rasa lelah dan frustrasi yang dia rasakan sejak pagi hari tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lain. Sebuah pemberontakan kecil yang meledak di dadanya.
Dia berdiri. Kursinya berdecit pelan di lantai kayu.
"Elias tidak membunuh sahabatnya karena kemarahan impulsif," Stefani memulai, suaranya sedikit bergetar di awal, tetapi dia menarik napas dan menstabilkannya. "Dia membunuhnya karena rasa iri yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Di bab ketiga, Elias secara tidak sadar meniru cara sahabatnya merokok. Di bab ketujuh, dia mencuri ide sahabatnya untuk esainya. Pembunuhan itu bukan ledakan emosi. Itu adalah eksekusi yang terencana untuk menghilangkan cermin yang terus-menerus mengingatkannya pada kegagalan dirinya sendiri."
Ruangan itu hening. Stefani bisa mendengar detak jantungnya sendiri di telinganya.
Alexander menatapnya. Wajahnya tidak berubah, tetapi matanya menyipit sedikit, seolah sedang mengukur ulang wanita yang berdiri di depannya.
"Analisis yang menarik, Miss Wolden," kata Alexander pelan. Dia melangkah keluar dari balik podium. Langkah kakinya bergema di lantai kayu saat dia berjalan menyusuri lorong di antara barisan meja, menuju arah Stefani. "Namun, kau lupa satu hal mendasar dalam analisis sastra. Kau memproyeksikan empatimu sendiri ke dalam tokoh yang sosiopat. Elias tidak merasa gagal. Elias merasa berhak. Dan karena kau gagal melihat perbedaan antara rasa bersalah dan rasa berhak, argumenmu runtuh."
Stefani mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. Kuku-kukunya menekan telapak tangannya sendiri. Dia tidak akan membiarkan pria ini merendahkan kerja kerasnya hanya untuk memuaskan egonya sendiri.
"Dengan segala hormat, Professor," balas Stefani, suaranya kini tegas dan tajam. "Saya tidak memproyeksikan empati. Saya membaca teks. Di halaman dua ratus empat belas, Elias menangis setelah sahabatnya mati. Sosiopat tidak menangis untuk korban mereka. Mereka menangis untuk diri mereka sendiri. Tangisan itu adalah pengakuan atas rasa bersalah. Jika Anda menganggap itu sebagai rasa berhak, maka Anda mengabaikan seluruh arka emosional yang dibangun penulis selama tiga ratus halaman. Anda terlalu fokus pada struktur plot yang kaku sampai Anda kehilangan jiwa dari cerita itu."
Suara Stefani menggema di ruangan besar itu. Beberapa mahasiswa di barisan belakang terbelalak, menatapnya dengan campuran rasa kagum dan ngeri. Tidak ada yang pernah membantah Alexander Audrey secara langsung, apalagi mengkritik metode analisisnya di depan umum.
Alexander berhenti tepat di depan meja Stefani. Jarak mereka hanya tersisa kurang dari satu meter. Stefani bisa mencium aromanya. Bau kayu cedar yang hangat, dicampur dengan mint dingin dan aroma kopi hitam yang pekat. Aroma itu begitu kuat dan maskulin, membuat kepala Stefani sedikit pening.
Dia menunduk, menatap Stefani dari atas. Dari sudut ini, Stefani bisa melihat detail tajam dari rahangnya dan kilau dingin di mata birunya. Dia tidak terlihat marah. Justru, ada sesuatu yang aneh di tatapan itu. Sesuatu yang gelap dan intens, seolah Alexander sedang menatap sesuatu yang sangat dia inginkan, bukan sesuatu yang baru saja menghina dirinya.
"Kau punya keberanian yang luar biasa, Miss Wolden," bisik Alexander. Suaranya rendah, hanya cukup untuk didengar oleh Stefani dan dua mahasiswa di dekatnya. Nada suaranya bergetar pelan, mengirimkan getaran aneh ke tulang belakang Stefani. "Tapi keberanian tanpa disiplin hanyalah kebodohan yang berisik. Di kelas ini, aku yang memegang pena. Dan nilai kau untuk tugas analisis ini adalah C."
Stefani merasakan dadanya sesak. Sebuah C. Nilai yang bisa merusak IPK-nya, yang bisa membuatnya kehilangan beasiswa, yang bisa menghancurkan satu-satunya jalan keluar dari kemiskinannya.
"Terima kasih atas masukannya, Professor," ucap Stefani kaku. Dia duduk kembali, memaksakan punggungnya untuk tetap tegak, meskipun kakinya terasa lemas dan gemetar di bawah meja.
Alexander menatapnya selama dua detik lagi. Tatapan itu turun ke bibir Stefani yang bergetar, lalu kembali ke matanya. Kemudian dia berbalik dan berjalan kembali ke podium, melanjutkan kuliahnya seolah-olah konfrontasi tadi tidak pernah terjadi. Stefani menatap punggung lebar pria itu, merasakan amarah dan frustrasi bercampur menjadi satu bola panas di tenggorokannya. Dia tahu argumennya benar. Dia tahu dia menang secara intelektual. Tapi di ruangan ini, kebenaran tidak berarti apa-apa di hadapan kekuasaan Alexander Audrey.
Satu jam kemudian, bel berbunyi. Stefani adalah orang pertama yang keluar dari ruangan. Dia berjalan cepat menyusuri lorong Silver Center yang megah, mengabaikan tatapan penasaran dari mahasiswa lain. Dia butuh udara segar. Dia butuh menjauh dari aroma cedar dan mint yang masih menempel di hidungnya.
Dia mendorong pintu kaca berat dan keluar ke beranda depan gedung. Hujan sudah berhenti, menyisakan jalanan basah yang memantulkan cahaya lampu jalan. Stefani menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak teratur.
Ponselnya bergetar di dalam saku mantelnya.
Layar menyala, menampilkan nama Rumah Sakit Presbyterian. Stefani merasakan perutnya mual. Dia menyapu layar untuk menjawab dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo, ini Stefani Wolden."
"Selamat sore, Nona Wolden. Ini Perawat Miller dari ruang ICU," suara di seberang sana terdengar profesional namun datar. "Saya menelepon untuk menginformasikan bahwa kondisi ibu Anda memburuk sejak satu jam yang lalu. Tekanan darahnya turun drastis dan kami harus meningkatkan dosis obat."
Jantung Stefani berhenti berdetak. "Apa maksudnya memburuk? Dia baik-baik saja pagi ini."
"Kami melakukan yang terbaik, Nona. Namun, sistem administrasi rumah sakit baru saja menandai akun ibu Anda. Asuransi Anda telah habis, dan tunggakan bulan lalu belum dibayar. Sesuai kebijakan, kami harus memindahkan pasien ke ruang perawatan umum besok pagi."
"Ruang perawatan umum?" Stefani hampir berteriak, suaranya pecah.
"Tidak, Anda tidak bisa melakukan itu. Ibu saya butuh pemantauan ketat. Ruang umum itu tidak cukup perawat. Jika dia kejang lagi, tidak akan ada yang langsung menyadarinya."
"Saya mengerti kekhawatiran Anda, Nona Wolden. Tapi ini adalah kebijakan rumah sakit. Jika Anda bisa melunasi tunggakan sebesar lima belas ribu dolar hari ini, kami bisa menunda pemindahannya. Jika tidak, transfer akan dilakukan besok jam delapan pagi."
Lima belas ribu dolar. Stefani lemas, punggungnya menabrak dinding bata dingin di luar gedung. Angka itu terdengar seperti lelucon yang kejam. Dia tidak punya seribu dolar. Dia bahkan tidak punya seratus dolar.
"Tolong," bisik Stefani, air matanya mulai menggenang, mengaburkan pandangannya. "Tolong beri saya waktu seminggu. Saya akan mencari caranya. Saya berjanji."
"Maaf, Nona. Kami tidak punya wewenang untuk itu. Selamat sore."
Sambungan terputus. Stefani menurunkan ponselnya, menatap layar yang kini gelap. Air mata akhirnya jatuh, mengalir panas di pipinya yang dingin. Dia duduk di bangku kayu basah di beranda, menarik lututnya ke daɗa. Dia merasa kecil. Dia merasa hancur. Semua argumen cerdasnya, semua keberaniannya di kelas tadi, semuanya terasa sangat konyol dan tidak berguna. Dia tidak bisa menyelamatkan ibunya. Dia gagal.
Bayangan besar tiba-tiba jatuh, menutupi tubuhnya dan menghalangi cahaya lampu jalan.
Stefani mendongak, cepat-cepat mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Alexander Audrey berdiri di depannya. Dia tidak mengenakan mantel, hanya setelan jasnya yang kini sedikit basah di bagian bahu karena hujan gerimis. Dia menatap Stefani yang duduk meringkuk di bangku, wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan rasa kasihan sedikit pun. Tapi matanya, mata biru-abu itu, menatap air mata yang mengering di pipi Stefani dengan intensitas yang membuat Stefani sulit bernapas.
"Menangis di bangku basah tidak akan membayar tagihan rumah sakit, Miss Wolden," ucap Alexander. Suaranya tenang, namun ada nada berat di sana yang membuat perut Stefani berputar.
Stefani berdiri, kakinya masih gemetar. Amarah tiba-tiba meluap, menggantikan rasa sedihnya.
"Apa urusan Professor dengan hidup saya?" tanya Stefani, suaranya tajam dan penuh amarah. "Mau Anda beri saya nilai F juga? Atau Anda di sini untuk memastikan saya hancur sepenuhnya?"
Alexander tidak menjawab pertanyaannya. Dia tidak terlihat tersinggung oleh nada Stefani. Justru, dia melangkah lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Stefani bisa melihat detail iris matanya yang bercak-bercak abu-abu. Dia merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama hitam polos. Tidak ada nama, tidak ada jabatan. Hanya ada satu nomor telepon yang dicetak dengan tinta emas di tengahnya.
Alexander menjulurkan tangannya dan meletakkan kartu itu di telapak tangan Stefani. Kulit jari Alexander menyentuh kulit Stefani, dan sentuhan itu terasa panas, kontras dengan udara malam yang dingin. Stefani terkesiap, refleks ingin menarik tangannya, tetapi Alexander sudah melepaskannya.
"Hubungi nomor ini malam ini juga, Stefani," bisik Alexander. Dia tidak lagi memanggilnya Miss Wolden. Penggunaan nama depannya terdengar asing, intim, dan menakutkan diucapkan dengan suara serak dan rendah seperti itu. "Telepon sebelum tengah malam. Dan aku akan memberimu lebih dari sekadar nilai A. Aku akan memberimu jalan keluar dari semua masalahmu."
Stefani menatap kartu hitam di tangannya, lalu menatap wajah Alexander. Pria ini gila. Dia pasti gila. Tapi di tengah keputusasaan yang mencekik lehernya, kartu itu terasa seperti satu-satunya tali yang dilemparkan ke arahnya di tengah lautan yang ganas.
"Dengan harga apa?" tanya Stefani pelan, suaranya hampir hilang tertiup angin malam.
Alexander menatapnya, dan untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Senyum yang membuat Stefani merinding dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Itu akan kita diskusikan saat kau meneleponku," jawab Alexander. Dia berbalik dan berjalan pergi, langkah kakinya ritmis dan pasti, meninggalkan Stefani yang berdiri gemetar di beranda, menatap kartu hitam itu seperti benda terlarang yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan jiwanya selamanya.