Dina membawa gayung berisi air es itu ke depan televisi, di mana Raka sedang tidur dengan mulut sedikit terbuka. Dia menuang air itu ke wajah lelaki yang menikmati tidurnya dengan rasa kesal. Sontak, Raka terperanjat bangun dari tidur dengan gelegapan dan napas terengah-engah dan kesulitan menelan air yang masuk ke dalam mulutnya.
“Heh, Kebo! Bangun kamu! Kamu itu tidur apa mati suri, hah? Sampai lalai sama tugasmu jaga aku biar nggak pergi-pergi, kan?” cerocos Dina, meletakkan kedua tangan ke pinggang, masih memegang gayung yang telah kosong.
Raka hanya meringis, tidak berani dengan wanita yang tampak sangat marah dan akan mengamuk di hadapannya itu. Dia meraup wajah yang rasa dinginnya masih dirasakan. Dia segera bangkit dan meraih tasnya di atas meja, hendak melarikan diri dari amukan Dina. Dina sontak menarik kerah baju lelaki itu.
“Mau ke mana kamu? Seenaknya aja pulang setelah habisin makananku dan nyampah di rumahku! Beresin dulu! Kalo kamu nggak mau buang sampah, telan makananmu sekalian bungkusnya! Juga puntung rokok itu! Kunyah sekalian kalo perlu! Sana bersihin sampe bersih dari dapur sampai ruangan ini! Itung-itung kamu belajar tanggung jawab, hal yang tidak pernah orang tuamu ajarkan padamu, kan? Nah, aku yang ngajarin! Buruan!” bentak Dina kesal.
Raka mengangguk-angguk tanpa berani bersuara, lalu berjalan ke dapur. Dia menghela napas melihat tumpukan piring dan gelas yang tadi dia pakai.
“Sialan, jadi capek aku.”
Raka hanya berani menggumam, tapi tangannya terpaksa mencuci semua peralatan yang dia pakai. Hingga petang, pria itu baru selesai membersihkan rumah Dina. Dia pun tersenyum takut pada Dina.
“B-Boleh pulang, Mbak?” tanyanya lirih.
“Sana! Pulang! Sia-sia kamu di sini, nggak bisa jaga mandat, tapi malah ngotori! Eh, bagus juga kamu tidur kayak pingsan. Jadi aku bisa tau kebusukan keluargamu, termasuk kakakmu itu! Sana pulang!”
Dina mendorong punggung Raka dan membanting pintu utama. Dia merasa bersalah saat bayinya terbangun karena amarahnya.
“Oh, Sayang... Maafin Ibu, ya? Ibu jengkel banget....” ucap Dina langsung menggendong anaknya yang menangis.
***
Raka sampai di rumah dengan mulut mengerucut. Dia datang bukan terhibur, tapi langsung disambut dengan omelan Deddy.
“Ngapain aja kamu di rumah kakakmu, ha? Dasar pemalas, kerjanya molor aja! Suruh jagain Dina biar nggak keluar-keluar, malah merem! Dia jadi bisa ke sini, tau! Sebagai hukuman, uang sakumu aku potong!” geram Deddy.
Raka mendengkus kesal. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah tadi dibentak-bentak Dina dan disuruh bersih-bersih sampai tangan dan kakinya pegal, masih saja kena marah sang ayah.
“Ah, Bapak juga, kenapa nyuruh aku ke sana? Aku kan capek!” sahut Raka.
“Kamu nggak ngapa-ngapain aja pake capek!” omel Deddy.
Anak lelakinya kesal dan langsung masuk menerobosnya di samping. Deddy hanya menautkan kedua alisnya lalu mengikuti sang anak yang masuk ke dalam. Dia langsung duduk di atas kursi panjang di ruang tengah dengan lunglai. Tanti datang dan ikut mengomelinya.
“Gimana sih kamu ini, Ka? Kamu kok bisa ketiduran?” tanya Tanti.
“Ya aku ngantuk! Masa nggak boleh tidur! Lagian, kenapa Bapak sama Ibu nggak nyuruh orang lain buat jaga Mbak Dina itu! Gara-gara kalian, aku jadi kena amuk dia!” sahut Raka dengan bibir manyun.
“Kena amuk?” tanya Deddy.
Mereka menghentikan pembicaraan karena suara motor datang. Bagas baru saja pulang dari mengantarkan Imah ke rumahnya. Wajahnya agak berseri. Namun, segera berubah saat melihat tiga orang di ruang tengah menatapnya dengan wajah kesal. Sepertinya ada hal yang baru saja mereka bicarakan.
“Mas! Istri kamu itu edan, ya? Bisa mati jantungan aku diguyur pake air es!” sahut Raka menghentakkan kakinya di lantai.
Benar tebakan Bagas. Pasti ini masalah Dina.
“Diguyur pake air es?” tanya ketiganya, kali ini menoleh pada Raka yang mengerucutkan bibirnya.
“Sialan, kamu diapain aja, Ka?” serobot Deddy.
Bagas sontak ikut duduk dan kesusahan menelan saliva. Tak diduga, Dina yang sepertinya adalah wanita penurut itu kenapa berbuat kejam pada adiknya.
“Pas aku tidur enak-enak, diguyur air es, trus aku dibentak-bentak katanya nggak tanggung jawab, maka dia kasih aku pelajaran tanggung jawab,” sahut Raka bersungut-sungut.
Deddy, Tanti dan Bagas saling berpandangan. Wajah mereka sangat tegang dan marah. Betapa beraninya Dina memperlakukan Raka, adik ipar Dina.
“Pelajaran tanggung jawab? Kayak apa?” tanya Tanti, penasaran.
Raka mendengkus, menarik napas dan mengembuskan dengan jengkel. Masih terasa dongkol saat teringat kejadian di rumah kakak iparnya tadi.
“Dibilang suruh makan bungkus makanan sekalian kalo nggak mau buang sampah, trus disuruh cuci piring sama gelas yang aku pakai, padahal setumpuk.”
Deddy berdecak mendengarnya.
“Kurang ajar.”
“Trus aku disuruh bersih-bersih ruangan yang aku pakai. Buang puntung rokok. Aku capek, Bu!” rengek Raka, dengan wajah kusut mengulurkan tangan kanannya ke ibunya di samping, lalu Tanti memijat tangan anak lelakinya.
“Gas! Istrimu itu udah ngelunjak! Dia harus dikasih pelajaran, Gas! Kamu nggak usah kasih dia nafkah! Kamu sementara ini tidur di rumah ini saja! Ingat, kalo sampai kamu ke sana, maka putus hubungan keluarga sama kami!” tegas Deddy kesal, amarahnya memuncak pada Dina, menantunya.
Bagas mengerutkan dahi. Dia sedikit merasa kesal pada Dina, tapi dia tahu, itu karena Dina merasa sakit hati atas apa yang mereka lakukan siang tadi. Namun, keluarganya juga tidak terima dengan perlakuan Dina pada Raka. Bagas tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dia memijat kepalanya yang mulai pusing.
“Udah, Bu, masakkin air buat Raka, biar dia mandi. Nanti masuk angin dia!” titah Deddy, memungkas percakapan.
Tanti menuruti perintah Deddy. Dia bangkit lalu berjalan ke dapur untuk menjerang air. Sementara Raka bersandar di kursi. Mulai bersin-bersin karena efek siraman air es tadi telah membuatnya merasa tidak enak badan.
Melihat itu, Deddy makin jengkel. Dia berjalan ke depan, mengambil sebungkus rokok dari saku, lalu menyulut sebatang. Pandangannya menerawang ke depan. Ya, dia yakin untuk memberi pelajaran pada menantunya yang mulai kurang ajar itu.
“Kita lihat gimana kamu bisa bertahan tanpa nafkah dari anakku. Dasar perempuan nggak tau diri!” gumam Deddy, menyesap rokoknya dalam-dalam.
“Gas, kalo bisa, kamu cepat dekati Imah! Bilang kalo kamu serius sama dia! Jangan sampai lepas, dia akan membuatmu makmur. Bukan perempuan miskin tanpa pekerjaan itu! Lagian, kamu juga kenapa nikah sama Dina yang nggak jelas asal-usulnya itu!” gerutu Deddy.