“Hey, wanita.”
Dina mendengar suara lelaki di hadapannya, lalu cepat-cepat menghapus air mata. Kemudian, melirik ke sepatu coklat tua berbahan kulit buaya berkilat dengan merk Louis Vuitton, Dina mengedipkan matanya melihat sepatunya saja yang berkisaran ratusan jutaan. Kedua matanya menelusuri kaki lalu naik sampai ke wajah. Dia menebak, semua yang dipakai pria itu pasti bukan dibeli di pasaran.
“Ah, Kamu?”
“Anda?”
Sontak keduanya mengacungkan telunjuk.
“Hey, kamu kan yang jalan sembarangan itu? Jadi, kamu ini hobi bertingkah aneh di jalan, hem?” tanya Devan.
Dengan susah payah, Dina berdiri dari duduknya. Dia merasa penampilannya sangat kacau, tapi masa bodo amat. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang.
“Sembarangan gimana maksud Anda? Waktu itu, saya buru-buru beli garam karena anak saya sekecil ini di rumah sendiri, dan sekarang saya ini sedang—“
“Sedang apa?” tanya Devan yang menahan tawa melihat pembelaan wanita itu. Penampilannya sungguh apa adanya.
“Sedang... ah, sudahlah, masalah pribadi.”
Dina menurunkan kedua tangannya, lunglai jika teringat pengkhiatan sang suami dengan dukungan kedua mertuanya. Kalau melihat background si wanita mantan kekasih Bagas, Dina merasa kalah jauh. Sejak kecil, dia tidak punya siapa-siapa dan sampai dewasa seperti ini pun, ada saja yang menyakiti. Bahkan itu adalah suaminya dan mertua yang semula dia anggap ayah sendiri.
“Kamu punya suami? Trus suami kamu selingkuh?” tebak Devan.
Dina yang tadinya menunduk menahan kesedihan, sontak mengangkat kepalanya lagi. Kenapa tebakan pria ini benar sekali?
“Eh, kenapa Anda tau?” lirih Dina.
Devan terkesima dengan kedua mata bening wanita polos di hadapannya itu.
“Apa lagi masalah rumah tangga kalo nggak salah satu selingkuh, kecewanya sampai duduk di tepian jalan meratap, menangis tidak perduli sekitar?” beber Devan, menurut logikanya.
Dina mendesah berat. Dia menepuk p****t bayi yang sedang digendongnya. Memang masalah apapun tidak akan terasa berat, asal bukan perselingkuhan baginya. Hati memang tidak bisa bohong. Kalo soal uang dan sikap mertua, dia bisa menahan, tapi kalo soal wanita lain, wanita mana yang tidak akan rapuh seperti saat ini.
“Kalo itu benar, itu bukan urusan Anda.”
Dina membenahi gendongannya, lalu berjalan hendak menyeberang jalan, melewati Devan. Sebuah truk tiba-tiba datang dari arah utara. Devan segera menarik tangan Dina hingga menepi ke jalan tadi. Terdengar makian sopir truk yang lewat dan sempat oleng karena ulah Dina.
“Benar-benar wanita sembrono! Kamu boleh sakit hati, tapi harus tetap berpikir kalo mau ngelakuin sesuatu!” marah Devan, tapi pria itu seketika terdiam melihat wanita yang sekarang wajahnya pucat pasi.
Berkali-kali Dina mengusap anaknya. Dia sangat takut dengan kejadian barusan, dia bukan takut dengan nyawanya, tapi anak yang dia gendong.
“Aku antar kamu pulang, oke?” tawar Devan. Entah kenapa rasanya tidak tega membiarkan wanita yang sedang kecewa itu sendirian pulang ke rumahnya.
Dina mengatur napas. Devan meraup wajah. Nyaris dia melihat sebuah kecelakaan di jalan.
“Nggak, aku bisa pulang sendiri,” sahut Dina.
Menolak! Ya, wanita itu menolak tawaran Devan dengan mobilnya yang mewah. Biasanya wanita akan senang dengan kemewahan, tapi wanita ini memilih jalan kaki untuk pulang ke rumahnya.
“Jangan ngeyel, kamu bisa membahayakan nyawa anakmu. Ayo, ikut aku!”
Terpaksa, Devan menarik tangan Dina yang sempat memberontak, tapi tidak bisa karena cengkeraman Devan yang sangat kuat.
“Lepasin,” desis Dina.
“Nggak akan, hingga kamu sampai di rumah dengan selamat.”
Dina mendengkus, dia akhirnya menuruti Devan masuk ke dalam mobil yang belum pernah dia naiki saking mewahnya itu.
“Anda nggak akan menculik saya atau bayi saya kan? Jika iya—“
“Apa tampangku seperti penculik? Buat apa aku menculikmu? Aku hanya tidak ingin melihat nyawa seseorang mati sia-sia di jalan hanya karena perselingkuhan. By the way, suami kamu di rumah?” tanya Devan.
“Nggak!” sahut Dina, ketus sekali teringat akan Bagas.
“Oh,” balas Devan, tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke Dina.
“Pak! Anda itu, mentang-mentang suami saya tidak di rumah, jangan bertingkah m***m!” bentak Dina. Dia memasang tangan di handle pintu mobil, sayang sekali auto lock.
“Siapa yang mau m***m? Ini, sabuk pengamanmu belum dipasang! Kendorkan gendongan, biar bayimu nyaman dan kamu aman dengan seatbelt!” decak Devan, menggelengkan kepala dengan tingkah ibu muda itu.
Wajah Dina memerah bagai tomat. Dia sungguh malu, ingin rasanya tenggelam di bumi karena telah berburuk sangka pada pria itu.
“M-Maaf,” sahut Dina lirih.
“Bisa minta maaf juga toh?” desis Devan.
Dina tidak merespon ucapan Devan hingga mobil melaju ke jalanan. Devan hanya melirik ke spion mobilnya, tersenyum tipis saat melihat wanita yang duduk itu menekuk bibir.
Tanpa banyak obrolan di antara keduanya, mobil telah sampai di sebuah gang yang ditunjuk oleh Dina. Devan menepikan mobilnya.
“Yakin turun sini?” tanya Devan.
“Iya. Saya bisa jalan masuk. Nggak terlalu jauh. Makasih banyak, Pak—“
“Jangan panggil aku dengan ‘Pak’, panggil saja aku Devan.”
Dina mengangkat sudut bibirnya sedikti sekali.
“Maaf, saya tidak terbiasa menyebut nama orang. Saya tetap akan memanggil ‘Pak’.”
“Ngeyel.”
Devan mendengkus, lalu memandang wanita itu turun dari mobilnya dan menutup pintu mobil. Devan membuka kaca mobil otomatis.
“Jangan menyeberang sambil melamun. Inget, di setiap pohon ada penunggunya,” ujar Devan dengan raut menyebalkan.
“Penunggu?” desis Dina mengerutkan dahinya, lalu mendekik dengan ucapan konyol itu.
Devan menutup kaca mobil lalu membunyikan klakson dan berlalu, tapi pandangan matanya sesekali melihat spion, memastikan agar wanita itu telah masuk ke dalam gang. Ternyata benar. Belum sampai dua menit, Dina sudah berjalan masuk ke dalam gang. Devan tersenyum tipis, lalu melanjutkan perjalannya.
Sekitar dua kilometer, dia menghentikan mobilnya di lampu merah. Sesuatu jatuh dari jok mobil sebelah. Devan menunduk dan merogoh sesuatu yang terjatuh tadi. Sebuah botol dot bayi. Dia menarik napas.
“Kapan sih wanita itu nggak ceroboh gini?” gumamnya, menggelengkan kepala.
***
Dina melangkah memasuki gang rumahnya dengan kesal. Dia masih ingat bahwa di rumahnya masih ada lelaki, salah satu anggota keluarga toxic yang menyebalkan. Sampai di depan rumah, Dina membuka pintu dan benar saja. Dia mendapati Raka masih mendengkur keras di depan televisi.
Beberapa puntung rokok ada di asbak. Dina sampai terbatuk-batuk karena bau asap nikotin masih terasa.
“Edan orang ini, nggak lihat apa dia, ada bayi di rumah?” geram Dina.
Usai meletakkan bayinya di kamar, dia lalu berjalan ke dapur. Betapa kaget saat melihat di tempat cuci. Tumpukan piring dan gelas telah memenuhi tempat itu, padahal sebelum pergi, Dina telah mencucinya. Toples-toples telah kosong.
“Asem!” gerutu Dina, mengambil gayung dan mengisinya dengan air dari kulkas.