Proses perceraian antara Kinara dan Arya bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar, seolah ada tangan-tangan tak kasat mata yang sengaja mendorong roda birokrasi peradilan agama itu agar berputar lebih cepat dari biasanya. Arya, yang didorong oleh desakan ambisi serta bisikan konstan dari ibunya, telah menunjuk seorang pengacara perceraian senior yang cukup terkenal di kota itu. Yang tidak diketahui oleh Kinara pada awalnya, biaya operasional dan honorarium pengacara mahal tersebut ternyata ditarik dari tabungan masa tua Ibu Rahmi—sebuah pengorbanan finansial yang rela dilakukan sang ibu mertua demi memastikan putranya segera mendapatkan kebebasan hukum untuk menikahi Nadine secara sah di mata hukum maupun agama.
Di ruang sidang Pengadilan Agama yang bercat putih kusam dengan deretan kursi kayu panjang yang mulai mengelupas, Kinara hadir seorang diri tanpa didampingi oleh satu pun anggota keluarga. Ia mengenakan pakaian gamis hitam sederhana dengan jilbab berwarna senada yang disematkan rapi tanpa perhiasan mencolok apa pun. Wajahnya tampak pucat pasi, namun di balik garis-garis kelelahan itu terpancar keteguhan baja yang sulit digoyahkan oleh apa pun. Kinara tidak lagi meneteskan air mata; cadangan air matanya telah habis terkuras habis di malam-malam j*****m sebelumnya di rumah yang dulu mereka bangun bersama.
Majelis hakim membacakan putusan secara verstek karena pihak Arya mendesak agar gugatan perceraian segera dikabulkan tanpa tuntutan harta gono-gini yang berbelit-belit. Arya memang sengaja tidak memberikan harta bersama yang berarti, sementara Kinara memilih untuk tidak memperpanjang sengketa hukum atau memperdebatkan masalah pembagian harta karena ia tahu betul bahwa tinggal lebih lama dalam ikatan itu hanya akan memperpanjang penderitaan batinnya. Rumah minimalis tempat mereka merajut mimpi selama tujuh tahun diputuskan untuk dijual guna melunasi sisa cicilan bank, dan Kinara dengan kepala tegak memilih untuk angkat kaki tanpa membawa harta benda apa pun selain beberapa kardus berisi pakaian pribadinya serta seperangkat alat pembuat kue—perkakas sederhana yang menjadi saksi bisu perjuangan hidupnya dari nol.
Saat langkah kaki Kinara menapak keluar dari pintu gerbang utama halaman pengadilan menuju trotoar jalan raya yang dipadati deru kendaraan, ia berpapasan langsung dengan Arya dan Nadine. Nadine tampak berdiri dengan angkuh mengenakan blazer kerja berwarna merah muda pastel yang sangat elegan, menyilangkan tangan di d**a sambil memegang tas tangan bermerk internasional. Ia berdiri berdampingan erat dengan Arya, merangk lengan pria itu mesra seolah hendak memamerkan kemenangan di hadapan mantan istri yang baru saja disingkirkan. Ibu Rahmi turut berdiri di dekat mereka, memasang senyum sinis penuh kepuasan kemenangan di wajah keriputnya.
"Kinara... syukurlah kalau proses persidangan hari ini berjalan lancar dan kamu tidak mempersulit jalannya keputusan hakim," ucap Arya dengan nada suara yang terdengar dingin, kaku, dan tanpa secercah pun rasa bersalah di raut mukanya. "Semoga ke depannya kamu bisa hidup mandiri dan menata kembali masa depanmu sendiri."
Kinara menghentikan langkahnya tepat di hadapan mantan suaminya. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap tajam ke dalam bola mata Arya tanpa rasa gentar sedikit pun, lalu mengalihkan pandangannya pada Nadine yang tersenyum meremehkan, dan terakhir menatap tajam kepada mantan ibu mertuanya.
"Kalian ingat baik-baik perkataanku hari ini," bisik Kinara dengan suara yang pelan namun begitu berwibawa, sukses membuat udara di sekitar mereka mendadak terasa dingin dan mencekam. "Kalian mungkin saat ini sedang bersorak gembira, berpikir bahwa kalian telah menang mutlak atas kehancuranku. Tapi ingatlah hukum alam dan roda kehidupan yang berputar. Apa yang kalian ambil dariku dengan cara-cara kotor dan pengkhianatan keji, pada waktunya nanti akan kembali merenggut segala hal dari kalian dengan cara yang jauh lebih menyakitkan dan mematikan."
"Hih, perempuan gila dan frustrasi! Masih saja sempat-sempatnya mengeluarkan sumpah serapah dan mengancam!" cibir Ibu Rahmi sambil meludah kecil ke lantai trotoar. "Sudah, Nak Arya, jangan pernah ladeni wanita stres seperti dia lagi. Ayo kita pergi, masih banyak urusan penting yang harus kita selesaikan!"
Ketiganya berlalu meninggalkan Kinara menuju sebuah mobil sedan mewah ber-AC dingin yang diparkir di seberang jalan—mobil yang dibukakan pintunya secara khusus oleh Arya untuk Nadine. Kinara berdiri seorang diri di bawah terik matahari siang yang membakar kulit, mengepalkan kedua telapak tangannya hingga kuku-kuku jarinya menancap erat ke dalam kulit telapak tangan sampai memutih.
Mulai detik itu juga, di bawah terik matahari kota yang bising, sosok Kinara yang lemah, penurut, dan sabar telah mati sepenuhnya. Yang tersisa di dalam raga wanita itu kini hanyalah bara api dendam kesumat yang menyala terang, siap membakar siapa saja yang telah merendahkan martabatnya.
Dengan berbekal sisa tabungan terakhir dari hasil penjualan sebagian kecil perhiasan mas kawinnya dulu, Kinara menyewa sebuah petak ruko tua berukuran sederhana di sudut jalan kawasan pinggiran kota yang cukup ramai. Di tempat sempit itulah, ia membangun kembali usahanya dari titik nol dengan mendirikan merek kuliner baru bernama Dapur Kinara.
Hari-hari pertama dilalui Kinara dengan kerja keras yang melampaui batas kewajaran manusia biasa. Ia bangun setiap pukul tiga pagi, seorang diri meracik adonan mochi, memanggang kue-kue pesanan, hingga mengantarkan sendiri kotak-kotak makanan ke berbagai warung dan pelanggan setia yang masih percaya pada kualitas rasanya. Tidak ada waktu untuk meratapi nasib atau menangisi masa lalu; setiap tetes keringat yang jatuh di lantai ruko itu ia jadikan bahan bakar untuk menempa mentalnya menjadi baja yang tidak mudah patah.
Berkat ketekunan luar biasa, resep makanan yang konsisten kelezatannya, serta pelayanan yang sangat ramah, usaha Dapur Kinara perlahan-lahan mulai menunjukkan kebangkitan yang signifikan. Dalam kurun waktu beberapa bulan saja, pesanan mulai membludak dari berbagai penjuru kota, memaksanya merekrut beberapa karyawan muda untuk membantu operasional dapur yang semakin sibuk. Kinara tidak hanya bangkit secara ekonomi; ia juga bertransformasi menjadi sosok wanita mandiri yang anggun, cerdas, dan memancarkan karisma tersendiri yang membuat siapa pun yang berbisnis dengannya menaruh rasa hormat yang mendalam.
Namun, takdir semesta seolah sengaja merancang skenario pertemuan ulang yang tidak terelakkan. Suatu sore di awal musim penghujan, Kinara mendapat kontrak pesanan katering korporat dalam skala besar dari sebuah perusahaan logistik multinasional terkemuka—perusahaan yang ironisnya merupakan tempat Arya bekerja selama ini, meskipun divisi operasional tempat Arya mencari nafkah berada di gedung dan lantai yang berbeda dari markas direksi eksekutif utama.
Dengan mengenakan kemeja formal putih bersih berbalut apron hitam elegan serta jilbab abu-abu yang disematkan dengan gaya profesional, Kinara datang langsung ke gedung megah berlantai dua puluh lima itu untuk memantau penataan meja prasmanan dan kualitas hidangan VIP yang dipesan khusus untuk rapat pleno jajaran direksi tertinggi.
Ketika ia sedang berdiri di depan meja saji di ruang rapat utama lantai sepuluh untuk memastikan segala sesuatunya sempurna tanpa cela, pintu kaca otomatis di ujung ruangan terbuka dengan bunyi gesekan yang halus. Suara langkah kaki dan percakapan serius beberapa orang petinggi perusahaan menggema di ruangan luas berkarpet tebal tersebut. Kinara mendongakkan kepalanya sekilas, dan seketika itu juga aliran darah di dalam tubuhnya mendadak berdesir hebat.
Di sana, berjalan berdampingan di antara jajaran para eksekutif, tampak Arya—suami yang telah membuangnya, yang kini terlihat sedikit lebih tua dengan garis-garis kecemasan di wajahnya, meskipun masih mengenakan setelan jas manajer. Di samping Arya berjalan seorang pria paruh baya berpostur tegap, mengenakan jas tailored hitam buatan Italia yang sangat mahal, dengan tatapan mata yang tajam, dingin, dan penuh wibawa mutlak: Baskoro Dirgantara, sang Direktur Utama sekaligus pemilik tunggal perusahaan logistik raksasa tersebut.
Dan tidak lama kemudian, dari arah pintu samping yang terhubung langsung dengan koridor staf administrasi, muncullah Nadine—yang kini telah resmi berstatus sebagai istri sah Arya—berjalan mendekat sambil membawa map berisi dokumen tambahan dengan gaya berjalan yang angkuh dan sok berkuasa di hadapan para pegawai bawahan.
"Sayang, laporan audit triwulan dari cabang utara sudah aku verifikasi dan letakkan di atas meja kerjamu tadi," ujar Nadine dengan nada suara yang sengaja dimanja-manjaka di depan umum, tanpa sedikit pun rasa risih meski bos besar perusahaan sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka.
Arya tampak sedikit salah tingkah, melirik cemas ke arah Baskoro Dirgantara, lalu berbisik pelan kepada istrinya, "Iya, Nad. Terima kasih. Nanti aku periksa lagi di ruangan."
Tanpa sengaja, mata Nadine yang menyapu seisi ruangan menangkap sosok seorang wanita berhijab rapi yang berdiri di dekat meja prasmanan dengan memegang nampan perak. Begitu menyadari bahwa wanita tersebut adalah Kinara—mantan istri yang dulu diinjak-injak harga dirinya—senyum angkuh di wajah Nadine seketika berubah menjadi seringai kebencian yang kentara. Dengan langkah penuh kesombongan, Nadine berjalan mendekati Kinara di hadapan para staf yang sedang sibuk mempersiapkan ruangan.
"Wah, wah... luar biasa sekali pemandangan hari ini," sindir Nadine dengan suara sengaja dibesarkan agar seluruh orang di sekitar mereka mendengarnya. "Jadi sekarang pekerjaanmu sudah turun derajat menjadi tukang katering keliling gedung perkantoran, Mbak Kinara? Apakah setelah diceraikan Mas Arya hidupmu begitu melarat sampai harus datang mengemis proyek makanan kecil seperti ini di kantoran?"
Beberapa pegawai kantor yang berada di dekat situ sontak menghentikan pekerjaan mereka dan menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan penasaran. Arya yang melihat kelakuan istrinya langsung pucat pasi, buru-buru melangkah maju dan menarik lengan Nadine dengan panik. "Sudah, Nad! Jangan membuat keributan di tempat kerja seperti ini! Tidak sopan!"
"Biarkan saja, Mas! Supaya perempuan kampungan ini tahu diri di mana posisi nya sekarang!" sahut Nadine dengan nada tinggi, menepis tangan Arya dengan kasar. Dengan sengaja, Nadine mendorong bahu Kinara menggunakan tangan kanannya hingga nampan perak di tangan Kinara nyaris terlepas dan hampir membentur lantai marmer. "Jangan sok jual mahal di sini. Kamu itu cuma sampah masa lalu yang dibuang suamiku!"
Suasana di dalam ruang rapat besar mendadak menjadi senyap mencekam. Seluruh orang menahan napas, menunggu letusan emosi berikutnya. Namun, di luar dugaan semua orang—terutama Arya dan Nadine—reaksi Kinara justru di luar perkiraan. Wanita itu sama sekali tidak berteriak, tidak menangis, dan tidak menunjukkan kepanikan. Kinara berdiri tegak dengan dagu terangkat, menatap tajam kepada Nadine dengan seulas senyum tipis penuh kemenangan psikologis yang justru membuat Nadine merasa ciut seketika.
"Menjadi seorang pengusaha mandiri yang membangun bisnis dari keringat sendiri dan mencari rezeki secara halal jauh lebih terhormat, bermartabat, dan mulia, daripada menjadi seorang perempuan parasit yang hidupnya hanya bisa merampas kebahagiaan wanita lain dan bergantung pada sisa belas kasihan suami orang," jawab Kinara dengan suara tenang, jernih, namun menusuk tepat di jantung pertahanan mental Nadine.
Wajah Nadine seketika memerah padam menahan malu bercampur amarah yang meluap-luap hingga ke ubun-ubun. "Kurang ajar kamu, perempuan sialan! Berani sekali kamu menceramahiku?!" teriak Nadine histeris, kehilangan kendali diri di hadapan publik.
Tanpa memedulikan tempat dan situasi, Nadine mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, berniat melayangkan tamparan keras tepat ke pipi Kinara di tengah-tengah ruangan kantor pusat tersebut.
Kinara menutup matanya sejenak, bukan karena takut, melainkan bersiap menerima hantaman itu untuk dijadikan senjata hukum sosial bagi kejatuhan mereka berdua. Namun, tamparan yang dinanti-nanti itu tidak pernah mendarat di kulit wajahnya.
Plak!
Sebuah suara hantaman telapak tangan yang sangat keras menggema ke seluruh sudut ruangan mewah berukuran besar itu. Suasana seketika berubah menjadi sunyi mati; tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara atau bahkan bernapas terlalu kencang.
Bukan pipi Kinara yang memerah, melainkan pipi sebelah kiri Nadine yang langsung membengkak dengan bekas lima jari tangan yang tercetak jelas. Orang yang melayangkan tamparan keras tersebut bukanlah Kinara, melainkan Baskoro Dirgantara—sang Direktur Utama yang sejak tadi berdiri mengamati drama murahan itu dengan tatapan mata mematikan layaknya seekor singa yang siap menerkam mangsanya