Matahari sore merayap pelan, menyisakan bias jingga keemasan yang menembus celah jendela kaca ruang tamu. Di atas sofa beludru berwarna abu-abu muda, Kinara duduk sambil merapikan tumpukan dokumen keuangan kecil. Di dapur, aroma harum kaldu ayam bercampur bawang putih mengepul lembut, menciptakan kehangatan yang selalu ia dambakan setiap kali jarum jam menunjukkan pukul lima sore konsol.
"Arya? Kamu sudah pulang?" sapa Kinara lembut, beranjak dari duduknya sambil menyunggingkan senyum hangat. Ia menyambut suaminya, mencium punggung tangan pria itu seperti biasa.
Arya tersenyum, meski ada sedikit garis kelelahan di keningnya. Ia membalas ciuman di kening Kinara sekilas. "Iya, Sayang. Hari ini jalanan macet luar biasa. Kepalaku pening sekali."
"Duduklah dulu. Aku sudah siapkan air hangat dan sup ayam kesukaanmu," ujar Kinara penuh perhatian, mengambil tas kerja dan jas suaminya untuk digantung.
Di awal pernikahan mereka, masa-masa itu terasa begitu manis. Tidak ada suara tinggi, tidak ada raut wajah masam. Arya adalah tipe suami yang selalu memeluk Kinara dari belakang ketika wanita itu sedang sibuk memasak, membisikkan kata-kata cinta yang membuat hati Kinara berbunga-bunga. Mereka melewati tahun-tahun pertama dengan perjuangan bersama, merintis hidup dari sebuah kontrakan sempit hingga akhirnya mampu membeli rumah minimalis ini lewat cicilan yang tertib.
Namun, roda kehidupan berputar. Semakin menanjak karier Arya di kantor, semakin jarang pula pria itu menghabiskan waktu di rumah. Alasan lembur, rapat mendadak dengan klien, hingga perjalanan dinas luar kota menjadi hal yang lumrah. Kinara, sebagai istri yang percaya penuh pada sumpah pernikahan, tidak pernah menaruh curiga sedikit pun. Ia berpikir suaminya sedang membanting tulang demi masa depan keluarga kecil mereka, terutama karena mereka kini tengah merencanakan program kehamilan kedua setelah anak pertama mereka meninggal saat bayi beberapa tahun lalu.
Malam itu, saat mereka sedang makan malam bersama, ponsel Arya yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang menyala terang.
“Mas, besok jangan lupa dokumen revisi laporan keuangan gudang cabang utara dibawa ya. Biar aku bantu rapikan sebelum meeting pagi.”
Pengirimnya tertulis: Nadine – Asisten Divisi.
Kinara sekilas melihat pesan itu saat hendak mengambilkan tambahan nasi untuk Arya. Arya dengan cepat meraih ponselnya, mematikan layar, lalu memasukkannya ke dalam saku celana kerjanya dengan gerakan yang sedikit canggung.
"Siapa, Yang?" tanya Kinara spontan, meski nada suaranya terdengar santai.
"Oh, Nadine. Anak buah baru di kantorku. Dia anak yang rajin, tapi kadang kurang bisa membedakan jam kerja dan jam istirahat. Urusan kantor terbawa sampai malam begini," jawab Arya, mencoba tersenyum tenang sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. "Kamu tahu sendiri, beban kerjaku sedang tinggi-tingginya."
"Iya, aku paham. Tapi ingatkan dia batasan etika kerja, Mas. Kurang enak kan di-chat urusan kantor larut malam begini," timpal Kinara sambil tersenyum pengertian, sama sekali tidak menyadari bahwa itu adalah percikan pertama dari api yang kelak akan membakar seluruh hidupnya.
Seiring berjalannya hari, intensitas pesan-pesan tersebut tidak kunjung mereda, bahkan semakin menjadi-jadi. Kinara yang awalnya mencoba berhusnuzon mulai merasakan ada suatu kejanggalan yang tidak biasa. Ketika Arya mandi, ponsel pria itu kerap bergetar dengan panggilan tak terjawab dari nama yang sama. Ketika ditanya, Arya selalu beralasan bahwa Nadine sedang memegang proyek besar yang membutuhkan koordinasi intensif. Kinara menepis keraguan di hatinya, mencoba memegang teguh kepercayaan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa kepercayaan itu sedang digerogoti dari dalam oleh rayuan manis dunia luar dan hasutan seorang ibu yang mendamba menantu berderajat tinggi.
____________________________________________
Perubahan besar dalam mahligai rumah tangga Kinara dan Arya tidak datang secara frontal layaknya badai yang menerjang rumah tanpa persiapan. Sebaliknya, perubahan itu merembes secara perlahan, senyap, namun mematikan, layaknya rayap yang menggerogoti pilar-pilar kayu jati sebuah istana dari dalam. Keretakan itu tidak dipicu semata-mata oleh kesibukan Arya di kantor atau kehadiran Nadine di sisi suaminya, melainkan dirawat dan disiram secara diam-diam oleh sosok yang selama ini paling dihormati dan disayangi Kinara di dunia setelah ibunya sendiri: Ibu Rahmi, sang ibu mertua.
Ibu Rahmi adalah seorang pensiunan guru sekolah dasar berusia kepala enam yang tinggal di sebuah perumahan lama yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Kinara dan Arya. Semasa awal pernikahan mereka, ketika Arya masih merintis karier dari bawah dan mereka harus hidup berhemat di sebuah kontrakan sempit, hubungan Kinara dan Ibu Rahmi sangatlah harmonis. Kinara selalu memperlakukan mertuanya dengan penuh takzim. Setiap kali ia memasak makanan istimewa, Kinara selalu menyisihkan porsi khusus untuk diantar ke rumah Ibu Rahmi. Saat hari raya atau ulang tahun wanita tua itu, Kinara selalu menjadi orang pertama yang membelikan gamis rajut kesukaan mertuanya dengan menyisihkan uang dari hasil tabungan kue kecil-kecilannya.
Namun, segalanya mulai bergeser secara drastis ketika status sosial dan jabatan Arya di perusahaan mulai menanjak naik. Bersamaan dengan bertambahnya nominal gaji Arya di slip bulanan, bertambah pula intensitas kunjungan Ibu Rahmi ke rumah minimalis anak laki-lakinya itu. Berbeda dengan dulu yang selalu datang dengan senyum ramah dan tangan hampa penuh kehangatan, kini Ibu Rahmi kerap datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu—sering kali dengan membawa setumpuk ekspektasi tinggi yang tidak pernah bisa dipenuhi oleh Kinara.
Suatu siang yang terik, saat Kinara tengah berjibaku di dapur kecilnya untuk menyelesaikan puluhan pesanan daifuku dan mochi isi buah pesanan pelanggan yang harus dikirimkan pukul dua siang, suara ketukan pintu depan terdengar nyaring. Kinara yang tangan dan celemeknya belepotan dengan tepung ketan segera mencuci tangan, melepaskan apron, dan bergegas membukakan pintu.
"Eh, Mama... Masuk, Ma," sambut Kinara dengan senyum tulus, langsung meraih tangan keriput mertuanya untuk dicium dengan takzim. "Kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang, Ma? Kalau tahu Mama mau datang, aku bisa minta tolong Arya belikan buah mangga kesukaan Mama di jalan, atau aku jemput."
Ibu Rahmi tidak langsung menjawab sapaan hangat itu. Wajahnya tampak kaku, ditekuk masam dengan mata yang menyapu seisi ruang tamu minimalis tersebut seolah-olah sedang mencari-cari debu atau kesalahan kecil. Ia melepaskan selendang putihnya dengan kasar dan meletakkannya begitu saja di atas sofa beludru, lalu duduk di kursi utama tanpa menunggu Kinara mempersilakannya.
"Kamu ini, Kinara... kelihatannya santai sekali seharian hanya berdiam diri di rumah," ucap Ibu Rahmi tiba-tiba, membuka percikan api dengan nada suara yang dingin dan menusuk tajam langsung ke ulu hati. "Padahal suami banting tulang mencari uang di luar sana sampai babak belur memikirkan masa depan keluarga."
Kinara yang baru saja hendak melangkah ke dapur untuk mengambilkan air minum seketika menghentikan langkahnya. Senyum di bibirnya memudar, digantikan oleh kerutan dahi penuh kebingungan.
"Maksud Mama apa? Aku seharian ini tidak bersantai, Ma," jawab Kinara dengan nada lembut namun menyiratkan ketidakpahaman. "Mama lihat sendiri kan tepung di tanganku tadi? Ini aku sedang mengejar target pesanan katering kue basah dan mochi yang harus dikirim siang ini. Pesanannya cukup banyak, tanganku sampai pegal."
"Pekerjaan rumah tangga itu bukan cuma bikin kue receh seperti itu, Kinara!" potong Ibu Rahmi dengan suara meninggi, memotong kalimat menantunya tanpa rasa sungkan. Wanita tua itu melipat tangan di depan d**a dengan angkuh. "Kamu tahu tidak? Kemarin malam Arya cerita ke Mama sambil mengeluh. Bajunya banyak yang kusut saat disetrika, sarapan pagi sering terlambat karena kamu terlalu sibuk mengurus ponsel dan adonan kue, dan rumah ini rasanya dingin seperti kuburan tidak berpenghuni! Istri macam apa kamu ini? Sudah bertahun-tahun menikah, anak kandung satupun belum ada yang jadi, mengurus kebutuhan suami di rumah saja malah keteteran!"
Mendengar kalimat keji yang dilontarkan oleh wanita yang selama ini ia anggap sebagai ibu kedua, air mata Kinara langsung menggenang di pelupuk matanya. Selama tujuh tahun berumah tangga, Kinara selalu memastikan bahwa setiap helai kemeja kerja Arya disetrika licin tanpa ada lipatan kecil, sarapan selalu tersedia tepat pukul enam pagi, dan rumah selalu dibersihkan setiap sudutnya. Kalaupun ada satu-dua hari di mana ia agak terlambat karena kelelahan mengerjakan pesanan kue sendirian tanpa bantuan asisten rumah tangga, itu pun tidak pernah sampai membuat Arya terlantar.
"Mama dengar dari siapa kalau aku tidak mengurus Arya? Selama ini Arya tidak pernah mengeluh apa pun kepadaku, Ma. Dia selalu bilang makanannya enak dan bajunya rapi..." bela Kinara dengan suara bergetar hebat, menahan isak tangis yang mendesak di tenggorokannya.
"Laki-laki itu punya harga diri dan gengsi yang tinggi, Kinara!" sergah Ibu Rahmi semakin sengit, menatap menantunya dengan pandangan meremehkan. "Dia tidak mau ribut sama kamu di rumah, makanya dia pendam semua kekecewaannya itu sendirian! Tapi kalau di depan Mama, ibu kandungnya sendiri, dia jujur menceritakan betapa stresnya dia. Di kantor ditekan oleh atasan dan target perusahaan, pulang ke rumah disambut oleh istri yang bau adonan kue dan muka muram! Coba kamu pakai akal sehatmu!"
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah membasahi pipi Kinara. Hatinya terasa dicabik-cabik. Ia merasa seluruh pengorbanan, keringat, dan cinta yang ia curahkan untuk rumah tangga ini selama bertahun-tahun dihancurkan begitu saja dalam hitungan detik oleh fitnah keji yang entah berasal dari mana.
Yang tidak pernah diketahui oleh Kinara sedikit pun, di balik sikap dingin dan penuh amarah yang ditunjukkan Ibu Rahmi di hadapannya hari itu, wanita tua tersebut justru adalah dalang utama yang secara aktif meracuni pikiran Arya di belakang layar. Ibu Rahmi sudah lama merasa tidak puas dengan latar belakang Kinara yang hanya anak seorang pedagang pasar tradisional dengan usaha kuliner rumahan yang dianggap tidak memiliki prestise sosial yang sepadan dengan posisi Arya yang kini telah menjadi manajer operasional berpendapatan tinggi.
Beberapa hari sebelum kunjungan itu, di ruang tamu rumah Ibu Rahmi, wanita paruh baya tersebut sengaja memanggil Arya untuk datang sendirian tanpa Kinara dengan dalih ingin dimasakkan sayur asem kesukaannya. Di sanalah, sambil menyuapkan makanan, Ibu Rahmi melancarkan hasutannya yang paling mematikan.
"Nak Arya, jabatanmu sekarang sudah tinggi. Kamu manajer di perusahaan multinasional besar. Kolega-kolegamu itu membawa istri yang elegan, berdandan modis, bekerja di kantoran mapan, dan punya jaringan luas," bisik Ibu Rahmi dengan nada menghasut di telinga putranya. "Coba lihat Kinara. Hidupnya di situ-situ saja, bergelimang tepung di dapur kecil, tidak punya status sosial yang membanggakan. Kalau kamu terus-terusan berdampingan dengan perempuan seperti dia, kariermu akan mandek di situ saja, tidak akan pernah bisa naik jadi direktur."
"Tapi Kinara istri yang baik dan setia merintis dari nol bersama-sama, Ma..." jawab Arya saat itu dengan nada ragu-ragu, mencoba membela istrinya.
"Setia itu penting, tapi kesetiaan saja tidak bisa dipakai untuk membeli mobil mewah atau memperluas relasi bisnis, Arya!" potong Ibu Rahmi tajam. "Mama kemarin diperkenalkan oleh teman arisan Ibu dengan anak gadisnya yang bernama Nadine. Kamu tahu kan Nadine? Asisten divisi di kantor cabang utama yang pendidikannya tinggi, anak orang terpandang, dan sangat mengerti cara mendukung kesuksesan seorang pria. Nah, perempuan seperti itulah yang sepadan dengan kedudukanmu sekarang! Jangan jadi pria bodoh yang menyia-nyiakan masa depan demi kesetiaan semu!"
Racun-racun pikiran yang disuntikkan oleh ibu kandungnya sendiri hari demi hari, minggu demi minggu, perlahan tapi pasti merusak benteng moral di dalam diri Arya. Laki-laki yang tadinya sangat mencintai Kinara itu mulai terpengaruh oleh gengsi sosial dan ambisi liar yang ditebar oleh ibunya. Ia mulai melihat kekurangan-kekurangan kecil pada diri Kinara sebagai beban berat yang menghambat langkah kakinya menuju puncak kesuksesan duniawi.
Kembali ke masa kini di ruang tamu rumah mereka, Kinara yang berdiri dengan air mata berlinang menatap mertuanya dengan tatapan penuh luka yang mendalam. Tidak ada lagi kehangatan di mata wanita muda itu; yang tersisa hanyalah rasa terkejut yang luar biasa melihat betapa jahatnya topeng kebaikan yang selama ini dikenakan oleh Ibu Rahmi.
"Kalau memang Mama dan Arya sudah tidak pernah menganggapku pantas berada di keluarga ini... lalu apa mau Mama?" suara Kinara tercekat, nyaris tidak terdengar di antara deru angin siang itu.
Ibu Rahmi berdiri dari duduknya, merapikan selendang putih di pundaknya dengan angkuh, lalu menatap Kinara dari atas kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh jijik.
"Mama cuma memperingatkanmu sebagai orang tua agar kamu tahu diri. Kalau kamu masih ingin bertahan di rumah ini, ubah sikapmu, jangan jadi beban untuk Arya! Tapi kalau kamu merasa tidak sanggup melayani suami dengan benar, silakan angkat kaki dari sini!" ucap Ibu Rahmi tanpa belas kasihan sedikit pun, sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah itu dengan membanting pintu utama cukup keras, meninggalkan Kinara seorang diri di tengah keheningan yang menyesakkan d**a.
________________________________________
Hubungan antara Arya dan Kinara semakin hari semakin tergerus oleh ketidakpercayaan dan dinginnya dinding kebisuan yang mereka bangun sendiri di dalam rumah minimalis tersebut. Arya yang dulunya dikenal sebagai sosok suami penyayang, hangat, dan selalu melemparkan candaan ringan sepulang kerja, kini telah bermutasi menjadi pribadi yang pendiam, mudah tersinggung, dan gampang tersulut emosi oleh hal-hal sepele. Sisa-sisa keharmonisan masa lalu seolah lenyap ditelan udara malam, menyisakan ketegangan pekat setiap kali keduanya berada di dalam ruangan yang sama.
Hal-hal remeh yang sebelumnya tidak pernah menjadi masalah kini mendadak disulap menjadi pemicu pertengkaran hebat. Mulai dari lauk pauk malam yang dianggap kurang pas di lidah Arya, penempatan handuk basah di atas tempat tidur, hingga suara blender kue Kinara yang dinilai terlalu bising saat Arya sedang mencoba membaca laporan kantor di ruang tengah. Tidak ada lagi pelukan hangat dari belakang saat Kinara sibuk di dapur; yang ada hanyalah desahan nafas berat, tatapan mata yang jenuh, dan pintu kamar yang dibanting keras sebagai tanda protes bisu.
Suatu malam di akhir pekan, hujan deras turun mengguyur kota tanpa henti, membungkus rumah mereka dalam suasana lembap dan kesunyian yang mencekam. Jam di dinding ruang tamu telah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat sepuluh menit. Kinara duduk seorang diri di kursi meja makan, menatap nanar piring saji yang berisi hidangan malam—yang kini sudah mendingin dan berembun di balik tudung saji plastik. Arya belum juga menampakkan batang hidungnya, tanpa ada satupun pesan singkat atau panggilan masuk yang mengabarkan keterlambatannya.
Di atas meja makan, tepat di samping piring kosong milik Arya, ponsel pria itu tertinggal tergeletak begitu saja. Layar kaca ponsel tersebut mendadak menyala terang, menampilkan notifikasi pesan masuk dengan deretan huruf yang terpampang jelas di bilah pemberitahuan.
“Mas, dokumen audit cabang utara sudah aku rapikan di meja kerjaku. Kalau kamu sempat malam ini, mampir dulu sebentar ya ke apartemenku. Ada beberapa catatan penting yang harus kita diskusikan berdua sebelum meeting direksi besok pagi.”
Nama pengirim yang tertera di layar sangat jelas dan membuat d**a Kinara bergemuruh hebat: Nadine (Kantor).
Rasa penasaran yang bercampur aduk dengan kecurigaan, ketakutan, serta sesak yang menghimpit d**a membuat tangan Kinara bergetar saat ia memberanikan diri meraih ponsel suaminya. Dengan jari yang ragu-ragu, ia membuka kunci layar yang ternyata menggunakan tanggal lahir Arya—sebuah kombinasi angka yang selama ini tidak pernah berubah. Kinara tidak sedang berniat melanggar privasi suaminya, melainkan mencari kepastian atas duri yang selama ini menusuk hatinya dalam diam.
Seketika itu juga, rasa penasarannya terjawab lewat riwayat pesan yang begitu panjang dan mesra di dalam aplikasi percakapan tersebut. Bukan sekadar urusan pekerjaan kantor; ada panggilan sayang, janji-janji temu di luar jam kerja, hingga foto-foto makan malam berdua di restoran mewah yang dikirimkan oleh Nadine dengan keterangan teks penuh rayuan.
Tidak sanggup menahan gejolak emosi di dalam dadanya, jari Kinara menekan tombol panggil hijau pada nama Nadine. Telepon itu berdering beberapa kali di seberang sana sebelum akhirnya diangkat dengan suara yang terdengar begitu tenang, bahkan terkesan mengejek dan penuh kemenangan.
"Halo, Mas? Kamu lama sekali pulangnya. Aku sudah menunggu di..." suara Kinara tercekat, napasnya memburu dan air matanya langsung tumpah membasahi pipi. "Ini aku, Kinara!"
Di ujung sambungan sana, suara seorang wanita muda terdengar tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang terdengar sangat meremehkan.
"Oh... Halo, Mbak Kinara," jawab suara Nadine dengan nada tanpa dosa sedikit pun. "Maaf sekali, Mbak. Mas Arya sedang tidak bisa diganggu untuk mengangkat telepon sekarang. Kami sedang fokus menyelesaikan laporan audit penting di apartemen saya karena kantor sudah ditutup sejak jam delapan tadi. Jadi, tenang saja, suami Anda aman bersama saya malam ini."
Dunia seakan runtuh seketika di kepala Kinara. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk, sementara tenggorokannya terasa kering dan sesak seolah kehabisan oksigen. "Siapa kamu berani bicara begitu?! Di mana suamiku?! Suruh dia pulang sekarang juga!" jerit Kinara dengan suara parau penuh kepedihan.
"Anda tahu persis siapa saya, Mbak Kinara," balas Nadine dengan suara yang mendadak berubah dingin dan tajam. "Sebaiknya mulai sekarang Mbak intropeksi diri, mencari tahu kenapa seorang suami bisa betah berlama-lama menghabiskan malam di luar rumah bersama wanita lain, alih-alih pulang menemui istrinya. Jangan salahkan siapa-siapa kalau pada akhirnya posisi Anda digantikan oleh yang lebih pantas."
Pip. Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Nadine begitu saja.
Kinara terduduk lemas di kursi meja makan, ponsel suaminya terlepas dari genggamannya dan jatuh membentur lantai keramik dengan suara nyaring. Isak tangisnya pecah tanpa bisa tertahan lagi, meraung dalam sunyi malam ditemani suara gemuruh hujan di luar jendela. Semua pengorbanan, kesabaran, dan kesetiaan yang ia pertaruhkan selama tujuh tahun pernikahan ternyata dibalas dengan pengkhianatan yang sangat menjijikkan di belakang punggungnya.
Tepat saat isak tangis Kinara mencapai puncaknya, suara kunci berputar di pintu utama. Pintu terbuka lebar, dan sosok Arya melangkah masuk ke dalam rumah dengan payung lipat di tangan serta jas yang sedikit basah di bagian bahu. Pria itu tampak terkejut bukan kepalang saat mendapati istrinya terduduk di dekat meja makan dengan mata merah bengkak dan ponsel miliknya yang tergeletak di lantai.
Arya menghentikan langkahnya, melirik sekilas ke arah lantai, lalu kembali menatap Kinara dengan tatapan dingin tanpa secercah pun rasa bersalah di matanya.
"Kamu... memegang ponselku tanpa izin?" tanya Arya dengan suara datar, tanpa ada nada penyesalan atau keterkejutan yang wajar.
Kinara bangkit berdiri dengan susah payah, tubuhnya gemetar hebat menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia menunjuk ke arah ponsel yang tergeletak di lantai dengan tangan yang menunjuk gemetar.
"Perempuan jalang itu... perempuan bernama Nadine itu yang menelepon dari apartemennya, Arya!" jerit Kinara, melampiaskan seluruh rasa sakit hatinya. "Kamu selingkuh di belakangku?! Kamu tidur di apartemen perempuan itu malam-malam begini?!"
Alih-alih merasa bersalah, meminta maaf, atau mencoba menenangkan istrinya, Arya justru mendengus kasar. Ia melempar tas kerjanya ke atas sofa dengan bantingan yang sangat keras hingga membuat vas bunga di dekat meja konsol hampir terguling.
"Iya! Kalau memang iya, kenapa?!" bentak Arya dengan suara baritonnya yang menggelegar memenuhi seluruh ruangan rumah, memecah kesunyian malam. "Kamu mau marah besar hah?! Mau teriak-teriak sampai satu perumahan dengar?!"
Kinara tertegun, terpaku mendengar pengakuan blak-blakan dari suaminya yang keluar begitu saja tanpa beban. "Kamu... kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan, Arya? Kita sudah menikah selama tujuh tahun! Aku berkorban segalanya untukmu dari nol!"
"Berkorban apa, Kinara?! Berkorban jualan kue basah receh di dapur yang hasilnya tidak seberapa itu?!" maki Arya tanpa ampun, melukai hati istrinya dengan kata-kata paling keji yang pernah terlontar dari bibir pria itu. "Coba bandingkan dirimu dengan Nadine! Dia wanita karier yang elegan, berpendidikan tinggi, mengerti dunia bisnis modern, berpakaian modis, dan tidak pernah merepotkan hidupku dengan omelan tidak penting setiap kali aku pulang kerja!"
"Aku mengurus rumah ini, Arya! Aku menjaga kehormatanku sebagai istrimu saat kamu sibuk di luar sana!" balas Kinara histeris, air matanya mengalir deras membasahi seluruh wajahnya.
"Istri macam apa kalau melayani suami saja muka muram terus dan bau adonan tepung?! Kamu tidak punya daya tarik lagi buatku, Kinara!" potong Arya dengan tatapan penuh kebencian yang mematikan.
Di tengah pertengkaran hebat dan caci maki yang menyayat hati itu, tiba-tiba pintu utama rumah mereka terbuka dengan menggunakan kunci cadangan. Sosok Ibu Rahmi melangkah masuk ke dalam rumah dengan payung hitam di tangannya, memasang ekspresi wajah yang kaku seolah-olah ia telah berdiri di luar jendela sejak tadi untuk menunggu momentum yang tepat.
"Ada apa ini malam-malam teriak-teriak tidak tahu malu?! Bikin malu tetangga sebelah rumah saja!" bentak Ibu Rahmi langsung dengan suara melengking begitu menginjakkan kakinya di ruang tamu.
Kinara yang melihat kehadiran mertuanya langsung berlari menghampiri wanita tua itu, berharap mendapatkan pembelaan atau setidaknya teguran untuk Arya. "Ma! Lihat anak Mama! Dia sudah selingkuh di belakangku, dia main perempuan dengan anak buahnya sendiri, Ma!" tangis Kinara memohon sambil meraih tangan mertuanya.
Namun, di luar segala dugaan Kinara, Ibu Rahmi justru menepis tangan menantunya dengan kasar. Wanita tua itu menatap Kinara dengan tatapan penuh kebencian, sinisme, dan jijik yang luar biasa.
"Wajar kalau Arya sampai mencari kenyamanan di luar rumah, Kinara!" cibir Ibu Rahmi dengan nada suara yang meninggi dan menusuk tajam. "Kamu itu memang istri yang tidak becus melayani suami! Makanya suami direbut perempuan lain karena kamu sendiri bodoh dan tidak tahu cara mempertahankan rumah tangga! Sudah, Arya... jangan dengarkan ratapan perempuan tidak berguna ini. Ceraikan saja dia sekarang juga!"
Kalimat terakhir dari ibu mertuanya itu menghantam kepala Kinara bagaikan Sambaran petir di siang bolong. Seketika itu juga, isak tangis Kinara terhenti total. Napasnya yang tadinya memburu mendadak melambat. Ia menatap bergantian wajah suami yang telah mengkhianatinya dan ibu mertua yang selama ini bermuka dua di hadapannya.
Di titik itu, di bawah temaram lampu ruang tamu yang sama tempat ia menyambut Arya dengan senyuman hangat bertahun-tahun lalu, sesuatu di dalam diri Kinara mati seketika. Hatinya telah hancur berkeping-keping, namun dari serpihan abu kehancuran itu, sebuah tekad baja yang dingin mulai bangkit menggantikan air mata.