Bab 7 — Nice to Meet You
Seruni's PoV
Hari itu pun tiba. Aku lolos training dan sekarang adalah hari pertamaku terbang ke luar negeri. Penerbangan pertamaku itu ke Jepang dengan jadwal malam hari, penerbangan langsung dengan durasi kurang lebih 7 jam 35 menit. Ada rasa haru—bangga, akhirnya aku bisa sampai pada titik ini. Yang awalnya aku ingin menimang-nimang karena ada rencana akan menikah dalam waktu dekat. Untuk saja waktu itu aku tidak langsung menolak tawaran—masih ada tenggat waktu untuk merespon. Siapa sangka tak berselang lama, aku mendapatkan jawaban atas keraguanku. Tak perlu berpikir panjang lagi. Langsung aku putuskan untuk mengambil kesempatan tersebut, yang mungkin belum tentu datang untuk kedua kalinya.
Pintu kamarku diketuk dan terdengar suara adikku yang laki-laki. Aku yang sedang merapihkan baju, menyahut panggilan adikku agar masuk saja.
"Ada apa, Lang?" tanyaku menoleh sekilas kepada Galang—adikku yang baru saja memasuki kamar.
"Enggak ada. Cuma pengen ngobrol-ngobrol."
Aku mengehentikan pergerakan tanganku, kembali menoleh pada adik bontotku yang masih kuliah itu. Dia duduk di pinggir kasur saat ini.
"Mau ngobrol apa? Kamu lagi ada masalah?" Aku pun ikut mendudukkan diri tak jauh darinya, menghentikan aktivitasku sejenak. Tinggal memasukkan beberapa pakaian dan barang lainnya ke dalam koper. Baju yang sudah di laundry oleh Endang, sudah aku masukkan semua ke dalam lemari. Karena masing-masing kami bekerja, maka kami menggunakan laundry saja. Kecuali pakaian dalam tentunya.
Galang menggeleng sembari tersenyum tipis.
Aku mengernyit. "Terus?"
"Mau tanya... " Dia terdiam sejenak, seolah ragu untuk bertanya. "Apa kakak beneran udahan sama Mas Malik? Enggak jadi menikah tahun ini?"
Aku menarik napas. Galang menyebut sebuah nama yang sangat ingin aku lupakan. Meski telah disakiti, tak lantas langsung lupa begitu saja. Apa lagi ketika sepi sendiri tak melakukan apa pun, ada air mata yang jatuh begitu saja mengingat kenangan kami. Ada ribuan hari telah kami lewati bersama, tentunya banyak momen-momen indah di antara kami.
"Iya. Kenapa emang?" Aku tersenyum, tak menunjukkan kepada adikku betapa hancurnya hatiku dikhianati oleh lelaki itu. Aku memang tak pernah menunjukkan rasa sedihku di hadapan kedua adikku itu. "Yaa... enggak jodoh."
"Kakak udah 27 tahun saat ini. Maaf sebelumnya, gimana nanti kalau susah lagi mencari pasangan baru?" Galang tak tahu penyebab kandasnya hubunganku dengan Mas Malik. Yang tahu hanya adikku satu lagi, Endang. "Kenapa emangnya masalah sama Mas Malik, Kak? Apa enggak bisa dibicarakan lagi baik-baik?"
Aku terdiam beberapa saat. Bukan karena tidak memiliki jawaban, melainkan sedang memilih kalimat yang tepat agar Galang tidak ikut memikul beban yang seharusnya cukup kutanggung sendiri. Kupandangi wajah adikku itu. Di matanya tidak ada rasa ingin tahu yang berlebihan. Yang kulihat hanyalah kekhawatiran. Kekhawatiran seorang adik kepada kakak yang selama ini menjadi tempatnya bersandar sedari kecil. Galang yang masih baru masuk SD saat kedua orang tua kami meninggal dulu, aku lah yang menjadi tempatnya bersandar. Mengurusnya dan lain sebagainya, sedangkan tanteku tak selalu di rumah karena harus bekerja juga untuk kami. Mengingat itu juga, aku banyak berhutang budi kepada tanteku.
"Kalau memang masih bisa dibicarakan, mungkin kakak enggak akan menyerah segampang itu, Lang." Aku menipiskan bibirku. "Ada beberapa masalah yang memang enggak bisa diselesaikan cuma dengan ngobrol. Ada hal-hal yang sekali rusak... ya sudah. Enggak bisa untuk diperbaiki lagi karena udah hancur berkeping."
Aku sengaja tidak menjelaskan lebih jauh. Tentang pengkhianatan Malik, tentang perempuan yang ternyata menjalin hubungan dengannya di belakangku. Dan tentang mimpi-mimpi yang sudah kami susun bertahun-tahun, lalu hancur dalam sekejap. Aku belum siap menceritakannya kepada Galang. Bukan karena aku tidak percaya padanya. Aku hanya tidak ingin adik laki-lakiku tumbuh dengan kemarahan kepada seseorang yang secara tidak langsung membuatku melepaskannya.
Galang mengangguk pelan. "Berarti... memang udah enggak mungkin ya?"
Aku menggeleng mantap. "Enggak akan kembali bersama."
Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa seseorang yang benar-benar mencintai kita, tidak akan tega mengkhianati kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun. Namun, kenyataan yang aku dapatkan menghancurkanku.
Galang mengusap tengkuknya. "Maaf ya, Kak. Aku malah nanya yang bikin Kak Uni sedih."
Aku tertawa kecil. "Enggak, kok. Santai aja."
"Bohong," tukasnya cepat.
"Dari dulu kalau kakak lagi nyembunyiin sedih, senyumnya selalu kayak gini. Aku sering perhatiin."
Aku menatap Galang, memperhatikan raut wajah lelaki itu. Rupanya, selama ini aku terlalu percaya diri mengira kedua adikku tidak pernah menyadari apa pun. Ternyata, dia memperhatikanku.
Aku mengembuskan napas perlahan. "Kakak cuma butuh waktu."
Galang mengangguk pelan. "Kalau boleh jujur, aku dan Kak Endang sempat khawatir."
"Kakak baik-baik aja, kok. Buktinya tetap semangat training dan lihat sekarang... kakak lolos dan akan terbang ke luar negeri." Padahal, kenyataannya, aku hanya terlihat baik di luar saja, tidak di dalamnya.
Galang menatap koperku yang masih terbuka, belum aku isi dengan perlengkapanku.
"Jadi berangkat malam ini kan, ya?"
"Iyap."
"Deg-degan nggak, Kak?"
"Yaa... gitu deh!"
"Tapi pasti seru, ya? Bisa sekalian jalan-jalan ke luar negeri. Aku ikut senang impian Kak Uni akhirnya terwujud. Aku ingat, kakak pernah bilang minta dido'ain supaya bisa terbang ke luar negeri suatu hari." Galang tersenyum dengan mata yang tampak berbinar, aku tahu ikut bangga atas apa yang aku raih saat ini. "Mama dan papa pasti bangga banget kalau lihat Kak Uni dari atas sana."
Kalimat itu membuat napaskan tercekat. Aku spontan menunduk agar Galang tidak melihat mataku yang mulai berkaca-kaca. Sudah bertahun-tahun berlalu sejak kepergian orang tua kami, setiap kali ada pencapaian besar dalam hidupku, yang pertama kali terlintas di kepalaku adalah mereka. Andai saja mereka masih hidup...
Tanpa sadar, air mataku menetes.
Galang yang melihatnya langsung bergeser mendekat. "Kak, maaf. Aku udah bikin Kak Uni jadi sedih."
Aku buru-buru mengusap air mataku. "Enggak apa-apa. Cuma melow aja kalau ingat orang tua kita." Aku terkekeh pelan.
Beberapa saat kemudian, Galang berdiri dan menepuk pelan bahuku. "Pokoknya kakak tenang aja kalau lagi jauh di luar negeri sana. Aku janji bakal serius kuliah. Kak Endang juga pasti bakal bantu jaga rumah. Kakak enggak usah kepikiran kami."
Aku ikut berdiri, lalu memeluk adikku erat. "Terima kasih ya, Lang."
Setelah Galang keluar dari kamar, aku kembali menatap koper. Aku mulai kembali mengemasi perlengkapanku. Setelahnya, aku duduk di pinggur kasur menatap koper yang telah aku kemasi. Kubuka laci nakas, mengambil sebuah bingkai foto kecil berisi foto kami berlima—mama, papa, aku, Endang, dan Galang. Foto lama yang mulai memudar di bagian sudutnya. Kuusap perlahan permukaan kacanya.
"Doakan Uni ya, Pa, Ma," bisikku lirih. "Uni akan terus berusaha jadi kebanggaan kalian. Akan Uni jaga Endang sama Galang sebaik mungkin. Dan mengenai pasangan, Uni lagi enggak mau mikirin dulu untuk saat ini. Cuma pengen fokus kerja dan hidup bahagia sama adek-adek aja dulu."
Aku mengecup bingkai foto itu sebelum menyimpannya kembali dengan hati-hati. Malam ini, aku akan memulai perjalanan baru.Bukan hanya sebagai pramugari internasional yang akhirnya berhasil menggapai impiannya. Tetapi juga sebagai Seruni yang perlahan belajar meninggalkan masa lalu, membuka lembaran hidup yang baru, dan percaya bahwa di belahan dunia mana pun pesawat ini membawaku terbang, Tuhan pasti telah menyiapkan tujuan terbaik setelah semua luka yang pernah kuterima.
Setelah meletakkan bingkai foto itu, mataku teralih pada layar ponselku yang menyala. Ada notifikasi pesan masuk dari nomor baru yang belakangan ini ada beberapa kali mengirimkan pesan padaku, karena nomor sebelumnya sudah aku blockir... Mas Malik.
08568765xxxx
Hari ini penerbangan pertama kamu ya?
Selamat. Kamu memang perempuan hebat.
Selalu bangga sama kamu.
***
Senyumku tak luntur menyapa para penumpang yang baru saja menaiki pesawat. Dari tadi deg-deg'an, tapi sejauh ini tidak ada kendala apa pun. Aku terbang bersama pramugari senior lainnya, hanya aku saja yang junior di sini. Dari awal kenal, mereka terlihat baik dan semoga ke depannya akan tetap begitu.
Sebelum pesawat lepas landas, aku dan pramugari lainnya memastikan penumpang telah memakai sabuk pengaman dengan benar dan memeriksa bagasi kabin. Setelah semua prosedur terlaksana, tak lama pesawat pun mulai lepas landas. Tak lama kemudian, lampu indikator sabuk pengaman pun berbunyi. Aku langsung melepas sabukku dan berdiri dengan gerakan terlatih. Aku merapikan seragam batik yang aku kenakan sejenak, memasang senyum profesional sebaik mungkin walau keadaan hati tak baik pun, dan kemudian mulai melangkah menyusuri lorong kabin yang sunyi demi memastikan kenyamanan penumpang di penerbangan malam ini
Hingga aku berhenti di depan salah satu penumpang yang terlihat membutuhkan bantuan.
"Mbak... "
"Ya? Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanyaku kepada seorang penumpang di kelas bisnis, seorang lelaki yang terlihat masih muda. Mungkin seumuran atau bisa jadi sedikit di bawahku.
"Saya mau kopi. Ngantuk, tapi enggak bisa tidur. Mau kopi aja lah."
"Baik. Tunggu sebentar, ya? Mau kopi apa Masnya?"
"Apa aja deh, Mbak. Tapi jangan manis-manis banget, karena udah ada Mbak yang manis."
Aku tersenyum tipis saja menanggapi gombalan lelaki itu. "Kopi hitam atau— "
"Apa aja, terserah pokoknya. Asal Mbak yang menyajikan, bakalan enak aja rasanya itu."
Baru penerbangan pertama, sudah digombali saja. Tak pernah aku bertemu dengan penumpang yang seperti ini sebelumnya. Ada memang yang menggoda, tapi tidak seperti ini. Aku pikir awalnya, tidak akan ada penumpang penerbangan luar negeri kelas bisnis begini yang punya waktu untuk menggoda seorang pramugari sepertiku ini.
Aku kembali beberapa saat kemudian dengan membawa secangkir kopi premium, bukan kopi hitam. Dan itu memang disajikan secara free.
"Terima kasih, Mbak cantik."
"Sama-sama, Mas. Senang bisa membantu anda." Saat aku hendak beranjak pergi, lelaki itu kembali berbicara.
"Saya lapar, Mbak. Dari tadi siang enggak makan. Boleh minta disajikan makanan sekarang juga? Kalau enggak bisa, ya udah enggak apa-apa."
Aku mengangguk. "Baik."
"Mata saya jadi langsung segar habis minum kopi sambil mengeliatin Mbaknya. Thanks, Mbak."
Ada-ada saja. Baru minum kopi seteguk, langsung sesegar itu? Dasar, hobi menggoda saja sepertinya. Playboy sepertinya, mentang-mentang ganteng. Tapi, dia tidak terlihat seperti lelaki yang menatap perempuan dengan tatapan aneh-aneh menurutku.
"Sama-sama, Mas. Ada lagi selain itu yang bisa dibantu?"
Lelaki itu menggeleng. "Itu aja dulu. Nanti lagi, kalau saya lagi kangen pengen lihat Mbaknya."
Aku mengangguk, tetap memberikan senyuman terbaik.
Kira-kira 15 menit kemudian, aku pun kembali menghampirinya dengan membawa makanan.
"Selamat menikmati hidangan menu makan malamnya."
"Tentu. Saya pasti akan menikmati ini, karena disajikan sama Mbak pramugari yang senyumnya manis banget."
Aku pun pamit setelah melemparkan senyuman pada penumpang tersebut. Namun, baru beberapa langkah, dia kembali memanggilku. Aku pun berbalik badan menghadap ke arahnya.
"Oh ya, how's your day, Mbak?" tanya lelaki itu yang membuatku terdiam sesaat. Baru kali ini ada penumpang yang bertanya tentang kabarku saat penerbangan begini. "Semoga harimu selalu baik, ya! Tapi, semisalkan ada hari berat yang kamu lalui, percaya lah jika Tuhan telah menyiapkan hadiah kecil yang indah dibalik itu semua. Tetap semangat dan... nice to meet you."