Bab 6 — Bunga Tulip
Lucky's PoV
Kak Vania cerita jika Seruni akan upgrade training dalam waktu 2 minggu lagi. Seruni telah lolos bagian administrasi, dan selanjutnya akan mengikuti training. Aku ikut senang mendengarnya, dia yang tetap upgrade diri walau aku tahu pasti masih ada rasa sedih yang menyelimuti karena hubungan asmaranya yang kandas.
Di sisi lain, aku sedikit kecewa karena tak bisa melihatnya pada acara lamaran Kak Vania nanti. "Berarti dia enggak bisa datang di acara lamaran elo nanti, Kak?"
Kak Vania menggeleng. "Ya, gitu. Ya kali gue maksa dia harus datang. Daruga itu penilaiannya ketat banget, enggak mungkin gue biarin Seruni cuti untuk acara gue. Bisa gagal nanti proses training-nya, balik lagi ke penerbangan domestik."
Aku manggut-manggut. "Gitu ya, Kak? Dapat offering juga belum tentu langsung bisa terbang luar negeri setelah training, ya? Ada penilaian lagi saat training?"
"Iyap, macam karyawan magang aja. Tetap harus kerja keras lagi. Itu impian Seruni dari dulu, dan dia harus bisa mendapatkannya. Gue enggak mau dia sampai gagal."
"Ya, enggak apa-apa dia enggak datang juga. Kan dia punya alasan yang memang enggak bisa dianggap sepele. Dia pasti tetap mendo'akan lo juga."
Kak Vania mengangguk. "Gue tuh khawatir sebenarnya sama mental dia. Apa dia baik-baik aja setelah pacaran lama dan putus? Dia tuh kayaknya bisa banget nyembunyiin rasa sedihnya. Gue yang sedih rasanya pas lo tahu dari lo tentang ceritanya yang ternyata punya pacar selama ini. Nggak tahu ya, dia itu punya masalah apa lagi selain itu. Kasihan banget, mana udah enggak ada orang tua. Tapi gue juga enggak maksa dia untuk cerita kalau emang dianya belum ada niat."
"Dia kayaknya emang lebih milih mendam kesedihan sendiri, mungkin karena enggak mau berbagi beban. Ya udah, biarin aja, Kak. Kalau dia merasa harus cerita, nanti juga dia akan cerita."
"Seruni itu perempuan yang luar biasa, hebat. Kalau gue jadi ada di posisi dia nih, belum tentu bisa sekiat itu. Enggak kebayang, udah dari SMP ditinggal sama orang tuanya dengan posisi masih punya dua orang adek. Makanya, Ky, lo kalau mau main-main mending cari yang lain aja kata gue. Jangan nambahin bebannya dia, karena hidup yang dia jalani selama ini pasti udah berat banget."
"Gue serius, Kak. Enggak ada niat main-main sama sekali. Kalau udah suka sama seseorang, mana ada gue pernah bermain perasaan. Ya... walau emang berbeda dari pasangan gue sebelumnya, tapi gue yakin kalau beneran dia yang gue mau."
"Hmmm."
"Lo enggak bisa bantu gue, setidaknya support deh! Walau lebih kecil, adek lo dijamin tulus dan bisa bertanggung jawab. Umur hanya lah angka, yang penting gue lebih tinggi dari teman lo itu."
"Hey, apa hubungannya sama tinggi coba?"
Aku menyengir. "Ya, dia kelihatan di bawah gue intinya. Umur doang yang lebih tua."
"Dasar."
"Oh iya, Kak, nanti nikahan lo bakalan undang si Malik-Malik itu? Enggak usah diundang kata gue, malas banget lihat mukanya. Meski gue bersyukur mereka putus karena dia begitu, tapi kan dia udah nyakitin Seruni gue."
"Seruni gue? Ck... udah berasa hak milik aja, padahal dia sama sekali enggak kenal elo kayaknya." Kak Vania tertawa meledek. "Diundang pastinya, kan teman sesama pilotnya Kak Rayyan."
"Malasin banget. Pengen gue tonjok aja rasanya."
Kak Vania geleng-geleng di sela tawanya. "Tapi apa elo yakin Seruni bakalan mau sama elo nantinya? Lihat Mas Malik, Seruni milih pacar yang lebih tua usianya dari dia."
"Jangan matahin semangat gue napa? Tua di umur doang, belum tentu dewasa juga pemikirannya. Ada juga udah tua, tapi masih aja main-main. Gimana pun, gue tetap maju terus. Umur lebih kecil, enggak bikin gue menyerah karena gue merasa pantas. Ini kalau dibandingkan dengan si Malik itu, kualitas gue di atas dia dari segi apa pun."
"Percaya diri sekali lo, ya!"
"Harus!!
Awalnya aku yang mengira hanya akan bersaing dengan egonya Seruni yang akan susah diluluhkan, tapi sekarang aku juga tak bisa harus memastikan bahwa lelaki bernama Malik itu tak lagi mengganggu hidupnya Seruni. Menurutku, lelaki itu sebenarnya menginginkan Seruni, menyayangi perempuan itu. Hanya saja, mungkin ada egonya yang tersentil ketika bersama Seruni yang mandi dan cenderung keras kepala. Jadi, dia mencari apa yang tidak dia dapatkan pada Seruni dengan memacari perempuan lain. Tapi, aku yakin dia tidak serius dengan perempuan tersebut. Tujuannya tetap pada Seruni. Terlihat sekali walau waktu itu aku hanya sekilas mendengar pembicaraan keduanya.
***
Walau tidak terang-terangan membantu, setidaknya Kak Vania mau memberikan info terkait temannya itu. Jadwal training Seruni dan lain-lain, aku tak perlu repot mencari tahu sendiri.
Seruni sudah mulai training, tinggal di asrama selama training. Ponselnya lebih sering disimpan dari pada dipegang. Jadwalnya padat. Bangun sebelum matahari terbit, kelas teori, praktik keselamatan penerbangan, simulasi pelayanan penumpang, pelatihan bahasa, sampai evaluasi setiap hari. Aku tahu semua itu dari Kak Vania. Kakakku itu sering berkomunikasi dengan Seruni.
"Jangan ganggu dia dulu!" ujar Kak Vania sebelum suatu malam saat kami sedang makan malam, papa dan mama sudah beranjak duluan dari meja makan. "Kalau lo emang serius, kasih dia ruang buat fokus."
Aku mengiyakan. Tapi ternyata memberi ruang pada orang yang kita sukai jauh lebih sulit daripada sekadar mengucapkannya. Aku masih sering membuka aku media sosial milik Seruni. Tidak pernah ada unggahan baru. Story juga nyaris tidak ada. Kalaupun muncul, paling hanya langit sore yang difoto dari jendela asrama, secangkir kopi di kantin, atau buku-buku modul training yang memenuhi meja belajar.
Tidak ada foto selfie.
Tidak ada curhatan.
Tidak ada kode apa pun.
Seolah-olah perempuan itu benar-benar mengunci rapat kehidupan pribadinya, selalu begitu aku perhatikan sejak awal mulai merasa tertarik dengan perempuan. Aku jadi semakin penasaran. Sampai suatu sore, aku sedang duduk di ruang kerja sambil memeriksa pekerjaanku dan saat itu ponselku bergetar. Tertera nama Kak Vania pada layar ponselku itu. Aku pun langsung menyentuh layar hijau di sana.
"Hallo. Kenapa, Kak?"
"Seruni lagi stress kayaknya deh!"
Tanganku otomatis berhenti menggerakkan mouse. "Kenapa dia?"
"Tadi evaluasi pertama minggu ini. Dia ngeluh gitu, katanya berat banget."
"Gagal?"
"Bukan gagal. Nilainya bagus malah. Tapi pelatihnya terkenal killer, sedetail itu di setiap praktek. Enggak boleh salah sedikit pun. Banyak yang dimarahin hari katanya."
Aku mengembuskan napas pelan.
"Dia dimarahin juga?"
"Iya."
"Terus?"
"Ya... dia diem aja lah! Masa iya ngejawab?"
Aku tertawa kecil.
"Tapi, itu yang bikin gue khawatir. Setelah cerita lo waktu itu, gue sering kepikiran dia gimana kalau lagi sendirian, ya? Barusan tuh teleponan, dia enggak nangis. Dia itu ngeluh, tapi ketawa. Gue kadang mikir dari dulu, apa dia sedih saat ingat orang tuanya aja? Ternyata enggak cuma itu, tapi dia memilih memendamnya.”
"Kan dia emang begitu, Kak." Berujar begitu, tapi diam-diam aku sebenarnya khawatir juga. Ingat saat dia diam-diam menyeka air matanya di dekat toilet saat itu dan setelahnya menghubungi Kak Vania. Mungkin memang seperti itu caranya bertahan. Bukan dengan menangis, melainkan menyimpan semuanya sendirian.
"Gue takut dia terlalu maksa dirinya sendiri," lanjut Kak Vania lagi, lirih. Kak Vania memang sesayang itu kepada temannya satu itu. "Cuma, kan, penerbangan luar negeri itu emang impiannya. Maksud gue, dia itu kalau lagi mendapatkan tekanan, kesulitan atau apa pun, kenapa nggak nangis aja meluapkan apa yang dirasa?"
"Dia udah biasa hidup begitu sepertinya. Mungkin awalnya dipaksa begitu oleh keadaan, bisa jadi saat orang tuanya meninggal dulu. Dia jadi terbiasa nyelesain masalah sendiri. Berpikir bahwa yang bisa menolongnya hanya dirinya sendiri, jadi harus selalu kuat."
Telepon itu berakhir beberapa menit kemudian. Namun, pikiranku justru semakin dipenuhi sosok perempuan yang merupakan teman dekat dari kakakku itu.
Rasanya, aku ingin berlari ke arahnya dan berkata jika ada aku. Boleh mengandalkan aku dalam apa phn, termasuk jika ingin berbagi cerita dan aku akan mendengarkan. Akan jadi pendengar yang baik semisalkan tak bisa membantu. Tapi, saat ini aku harus menahan diri. Bukan datang mengganggu hidupnya ketika dia sedang mengejar impiannya. Aku harus tahu batas, apa yang boleh atau tidaknya aku lakukan ketika mendekati perempuan seperti itu. Karena dia sungguh unik, berbeda dengan kebanyakan perempuan lainnya..
Sore itu tak langsung pulang ketika kerjaanku selesai, papa datang menghampiri mejaku. Aku diminta membantu papa mengecek progres salah satu proyek perusahaan.
"Kenapa kamu? Susah? Atau... lagi ada yang dipikirin?" tanya papa saat aku berkali-kali menghela napas sembari memijit pelipisku. "Masih banyak nggak?"
"Dikit lagi, Pa."
Papa menyipitkan mata. "Papa perhatiin, kayaknya kamu kurang semangat."
"Sedikit aja."
"Kenapa? Ada masalah di luar kantor? Perempuan?"
Aku mengusap tengkuk, kok papa bisa langsung menebak?
"Hmmm."
"Kamu punya pacar?"
"Belum."
"Terus?" Papa mengernyit, setengah duduk di atas mejaku dengan tangan bersidekap. "Ditolak?"
"Bukan! Emm... enggak ditolak juga, sih. Dianya aja belum tahu." Pertama kali aku cerita terbuka begini kepada papa perihal perempuan.
"Belum tahu?"
"Dia itu belum kenal sama aku."
Papa tertawa cukup keras. "Kasihan juga kamu. Tapi, kok bisa?"
"Jangan diketawain."
"Nggak... nggak. Segitu kelihatan nggak semangatnya kamu ini, padahal kan belum kenal. Gimana ceritanya coba?"
"Makanya, Pa. Aku juga bingung."
Papa geleng-geleng kepala. "Kenapa nggak ajak kenalan? Kamu ini ganteng loh, kerjaan juga bagus. Kurang apa coba kamu?"
"Dia lagi fokus training saat ini. Sebelumnya, aku belum ada nyali dekatin. Bukan karena enggak percaya diri, tapi lagi mempelajari gimana karakternya. Dan gimana caranya untuk mendekat.
Papa tampak manggut-manggut.
"Perempuan yang sedang mengejar cita-cita biasanya paling enggak suka kalau konsentrasinya dipecah."
Aku tersenyum tipis. "Aku tahu."
"Tunggu saja. Kalau memang jodohmu, dia enggak akan ke mana."
Aku menghela napas panjang. "Semoga. Oh iya, Pa, punya kenalan orang di Daruga nggak?"
Papa menatapku dengan mata menyipit. "Kenapa nanya begitu? Kak Vania kakakmu kan sebelumnya di sana. Ya... ada emang temannya papa petinggi di sana, tapi Vania kakakmu masuk ke sana bukan karena bantuan temannya papa. Dia lolos atas usahanya sendiri."
"Buat bantuin seseorang, Pa. Biar dia lolos training untuk penerbangan internasional."
"Wah... wah, suka sama calon pramugari kamu? Sampe segitunya pengen bantu dia?"
"Udah jadi pramugari dia, Pa. Cuma sekarang lagi upgrade training buat naik ke kelas penerbangan internasional. Bisa nggak ya, dia langsung lolos aja?"
"Heh, dia malah kesal nanti kalau tahu lulus bukan murni karena hasil dari kerja kerasnya."
Aku mengusap tengkukku. "Iya juga, sih."
"Coba papa lihat, kayak apa perempuan yang kamu suka itu."
"Papa tahu orangnya."
Papa kembali mengernyit. "Oh, ya? Siapa itu?"
"Pernah dia ke rumah diajak sama Kak Vania."
"Siapa, ya? Lupa papa."
"Seruni, Pa. Ingat nggak? Ada tiga kali kayaknya Kak Vania ajak dia ke rumah, cuma ya aku nggak pernah kenalan."
"Suka yang lebih tua, hmm? Seumuran Vania bukannya, ya? Ya… papa inget orangnya. Oke juga lah pilihan kamu.”
"Setahun lebih tua dari Kak Vania, Pa. Enggak apa-apa lah, beda 3 tahunan doang. Umur hanya lah angka, cocok-cocok aja kayaknya."
"Yayaya... terserah kamu aja. Kamu pasti tahu yang terbaik buat kamu. Dan papa cuma bisa mendo'akan aja, siapa pun orang yang kamu pilih."
"Beneran enggak apa aku kalau sama dia, Pa? Dia juga bukan dari keluarga berada."
"Papa enggak masalah dengan perbedaan status sosial, yang penting bagaimana orangnya aja dan kamu memang yakin jika pilihanmu itu."
Aku manggut-manggut. Orang tuaku cukup bijak dalam menanggapi pilihan anaknya. Asalkan anak suka, mereka akan mendukung saja.
Dan hari ini, aku pulang kantor usai maghrib. Sebelum pulang ke rumah, aku membeli bunga dan makanan. Setelahnya, aku mampir ke tempat asramanya Seruni. Ingat kata Kak Vania tadi, aku jadi ingin melihat bagaimana perempuan itu. Tak lupa, aku menuliskan catatan pada kertas kecil di sela bunganya. Aku membelikan bunga tulip. Bunga yang melambangkan semangat pantang menyerah dan harapan baru. Sangat baik diberikan kepada seseorang yang sedang menghadapi tantangan baru.
Semoga tetap semangat mengejar langit yang selama ini kamu impikan. Jangan lupa makan tepat waktu.
Ur secret admirer,
L (seseorang yang selalu mendo'akanmu dari jauh).
Aku menitipkan bunga dan makanan itu di resepsionis. Setelahnya, kembali ke mobil dan mengirimkan pesan kepada Seruni. Pesanku terkirim tapi tak langsung dibaca. Entah akan dibaca begitu saja atau tidak dibuka.
Baru hendak meninggalkan area asrama, aku melihat perempuan itu keluar di pintu yang barusan aku lewati. Tanganku masih mencengkeram setir, sementara pandanganku tak lepas dari sosok yang berdiri di bawah lampu halaman asrama.
Rambutnya diikat sederhana. Seruni masih mengenakan pakaian training, aku tahu karena dia pernah mengunggah story pada akun media sosialnya. Foto bersama-sama teman training-nya. Wajahnya terlihat lebih tirus dibanding beberapa minggu lalu waktu aku melihatnya di toilet mall. Mungkin karena kelelahan, atau bisa juga karena beban yang belum hilang di dalam hati dan pikirannya.
Aku tahu perempuan itu sedang berusaha. Berusaha melupakan seseorang atau berdamai dengan masa lalu. Dan sepertinya, dia ingin selalu terlihat menjadi kuat, meski mungkin setiap malam masih menangis sendirian. Dadaku terasa sesak, ikut sakit membayangkan berada di posisi perempuan itu. Yang telah lama hidup tanpa orang tuanya. Tapi, saat inu, aku tak bisa melakukan apa pun selain melihat dan mendo’akannya dari jauh.
Seruni berjalan menuju resepsionis. Tak lama kemudian, petugas perempuan itu menyerahkan paper bag berisi makanan beserta buket tulip yang kubawa tadi. Dan aku bisa melihat dari kejauhan bagaimana wajah Seruni berubah bingung. Dia menoleh ke kanan dan kiri, seolah mencari siapa yang mengirimkan semuanya. Tentu saja tidak akan menemukan siapa-siapa, karena sudah berada di dalam mobil. Jarak kami cukup jauh hingga wajahku tak mungkin terlihat jelas dan kaca mobilku juga gelap.
Seruni kemudian terlihat memperhatikan bunga pemberianku itu. Dia meraih secarik kartu kecil yang kuselipkan di sela bunganya. Namun dari tempatku, kulihat bibirnya sedikit mengatup. Lalu, ada senyum yang sangat tipis muncul di wajahnya. Senyum yang nyaris tak terlihat. Tapi, cukup membuat dadaku menghangat.
Syukurlah... setidaknya hari ini dia tersenyum.