Bab 4 — Gas Teruss!!!
Lucky's PoV
"Duarrrrr!" Aku mengejutkan Kak Vania yang baru saja memasuki rumah. Aku sudah pulang duluan, kira-kira 1 jam saja berada di restoran yang sama dengan kakakku dan temannya itu. Tentu saja aku duduk dengan posisi agak jauh dan membelakangi kakakku agar tak ketahuan. Seruni itu sepertinya benar-benar tak tahu aku. Mungkin dia pernah melihatku di postingan kakakku, tapi tidak begitu memperhatikan. Atau bisa jadi, dia sulit mengenal seseorang yang hanya sekilas lewat saja pada sebuah postingan. Dia memang secuek itu sepertinya dengan lawan jenis, mungkin sebelumnya karena sedang memiliki kekasih. Atau bisa jadi, dia memang tak kepoan orangnya. Tak ingin tahu anggota keluarga temannya.
Kakak Vania mencubit lenganku kencang hingga membuatku meringis. "Kurang kerjaan banget lo!"
Aku menyengir sambil mengusap-usap lenganku bekas cubitan kakakku itu. "Lo habis ketemu Seruni, ya?" tanyaku mengikutinya yang lanjut melangkah.
Kak Vania menghentikan langkahnya seketika. "Kok lo tempe, sih?" tanyanya balik dengan mengernyit.
"Ya, tahu dong! Apa yang enggak gue tahu tentang calon pacar gue."
"Calon pacar nggak tuh?" Dia mencebikkan bibirnya. "Percaya diri sekali anda, Bro! Udah dibilangin kalau dia itu susah orangnya. Eh, serius, kok lo tahu gue habis ketemu dia? Lo jadi penguntit? Ngikutin dia ke mana-mana kalau lagi enggak kerja? Adek gue seganteng ini, tapi obses sama yang lebih tua."
"Ck... enggak segitunya juga, Kak. Masih waras gue! Walau gue akuin, emang gue suka memantau—mencari tahu kegiatannya."
Kak Vania menatapku dengan mata menyipit. Terlihat tak percaya dengan jawaban yang aku berikan.
"Gue tadi habis ketemu teman kuliah gue yang dari luar kota, janjian di tempat kopi dalam mall."
"Oalah, pantesan. Lo lihat gue sama dia di mall?" Kak Vania mendudukkan diri di sofa.
Aku mengangguk, lalu menggelengkan kepala. "Sebelum lo datang, gue udah lihat dia duluan." Aku ikut duduk di sebelahnya Kak Vania. Aku cerita tentang aku yang awalnya melihat Seruni di dekat toilet. Aku yang ke toilet dulu sebelum pulang, eh keluar dari sana malah mengurungkan niatku untuk segera pulang karena melihat Seruni. Aku ceritakan semuanya kepada Kak Vania. Apa yang aku dengar, hingga pada akhirnya Seruni meneleponnya.
"Lo serius itu?"
"Iyap. Nih, gue diam-diam ambil fotonya, tapi mukanya Seruni enggak begitu kelihatan." Aku memotret asal secara diam-diam yang tidak terlalu terlihat wajahnya Seruni dari samping karena perempuan itu sering melengos ke arah depan. Seperti enggak melihat lelaki yang berada di depan matanya itu.
Aku membuka galeri, lalu memperlihatnya foto yang aku ambil tadi kepada Kak Vania.
"Ini kan Captain Malik! Serius ini mantannya Seruni?"
Wah, ternyata Kak Vania mengenal sosok lelaki yang berada di dalam foto tersebut.
Aku mengedikkan bahuku. "Ya seperti yang udah gue ceritain barusan. Mereka kayaknya pacaran lama backstreet dan ya... berakhir begitu. Diselingkuhin."
"Seruni itu enggak pernah cerita loh! Dia itu selalu ceria orangnya, sedihnya paling kalau dia lagi cerita kangen orang tuanya. Dia jarang mau bahas soal laki-laki. Sering ngalihin pembicaraan selama ini kalau gue bahas. Gue pikir awalnya, dia itu emang lagi enggak pengen pacaran dulu. Fokus sama karirnya, apa lagi dia kan anak sulung yang merasa bertanggung jawab banget sama keluarganya. Eh, ternyata diam-diam pacaran sama Captain Malik. Arggghhhh... kok bisa dia sama itu orang? Dia aja pernah chat gue, godain gitu. Cuma kan gue enggak pernah cerita emang. Gue mikirnya enggak penting untuk dibahas."
"Parah." Aku geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa Seruni menjalin hubungan lama dengan orang seperti itu? Kadang lelaki yang terlihat kalem tak banyak bicara, justru lebih berbahaya.
"Seruni kok nggak cerita sama gue, ya? Kalau cerita, udah dari lama gue suruh ninggalin. Emang agak lain itu pilot satu. Kelihatannya aja yang kalem. Matanya itu suka lirik-lirik. Seruni selama ini buta apa?"
"Dunno. Mungkin di mata dia selama ini kelihatan baik-baik aja."
"Bagus lah kalau udah putus. Hmmm... berrati dia itu hubungin gue karena lagi sedih patah hati kali, ya? Bukan karena ingat orang tuanya aja."
"Dia paling bisa menyembunyikan masalahnya kayaknya."
Kak Vania manggut-manggut. "Ya, sih. Dulu gue pikir dia enggak ada beban apa pun dalam hidupnya, karena selalu ceria aja. Siapa sangka dia udah kayak kepala keluarga aja? Udah lama ditinggal meninggal kedua orang tuanya. Dia kelihat kuat di luar aja, aslinya rapuh gue rasa. Pertama kali lihat dia nangis pas dulu di hotel, di situ gue baru tahu kalau orang yang selalu ceria itu bukan berarti hidupnya baik-baik aja. Enggak pernah ada masalah."
Aku mengangguk setuju.
"Tapi jangan lo bilang sama dia apa yang gue ceritain ya, Kak. Biarkan dia dengan waktunya sendiri dulu. Mungkin kalau udah saatnya tepat, dia akan cerita sama lo dengan sendirinya."
"Iya."
"Lo selalu tetap ada buat dia, ya? Sumpah, kasihan banget gue lihatnya. Tapi, di sisi lain, gue bersyukur dia putus begitu. Kan gue ada kesempatan buat maju."
Kak Vania memukul kecil lenganku. "Yakin mau terus maju loh? Tadi gue singgung sedikit perihal pasangan, tanya dia mau sama yang lebih muda apa enggak. Ya... dia jawab belum mau mikirin pasangan."
"Wajar, Kak. Habis broken heart dia. Gue maju, tapi bakalan pelan-pelan aja. Cukup sudah gue memantau selama ini, mungkin ini udah waktunya gue mulai menunjukkan kalau dia punya pengagum. Emm... walau gue lebih kecil, gue bisa jamin enggak akan nyakitin. Gue akan bertanggung jawab sama hidupnya."
"Lo tahu nggak, dia kan ambil tawaran penerbangan internasional. Yakin lo mau terus dekatin jarang ngeliat dia begitu?"
"Enggak masalah." Aku mengedikkan bahuku santai. "Gue juga bisa ikut terbang ke luar nyamperin dia sesekali semisal gue enggak lagi sibuk."
Kak Vania geleng-geleng kepala. "Adek gue benar-benar deh! Tapi, sorry, lo harus usaha sendiri kayaknya. Seruni itu keras banget. Keras kepala dan juga hati, enggak yakin gue akan bisa dorong lo maju ke arah dia.
***
Aku bikin akun fake untuk menghubungi Seruni. Tak menggunakan akun asli yang akan ketahuan sekali jika aku adalah adik dari temannya karena aku berteman dengan Kak Vania pada media sosial. Aku mengunjungi profil perempuan itu dan mengirimkan pepsan di sana. Aku yang keluar rumah lagi, hanya untuk mengirimkan makan malam kepada perempuan itu. Aku tadi sempat melihatnya makan yang hanya beberapa suap saja. Tidak tahu habis atau tidak karena aku segera pulang. Aku rasa, dia tidak menghabiskan makanannya efek patah hati, tidak mood setelah tadi adu mulut dengan matan kekasihnya.
Seruni_
Hallo kakak cantik
Udah dimakan belum kiriman aku?
Tenang, ga ada racun, kok. Aman :)
Semoga hari2mu lebih baik setelah ini
Aku menunggu beberapa saat, dan aku sumringah ketika akhirnya DM-ku dibaca. Namun, senyumku langsung surut menunggu menit demi menit yang tak ada balasan darinya.
Asem!!
Aku terkekeh singkat, meletakkan ponselku di atas nakas. Tak semudah itu jalan yang akan aku tempuh, apa lagi dia baru saja patah hati. Yang aku pikir awalnya hanya akan bersaing dengan keras kepala—egonya yang terbiasa mandiri, ternyata aku juga harus menghadapi traumanya. Ya... dia pasti trauma untuk memulai hubungan lagi.
Bodoh sekali lelaki yang sudah menyakiti Seruni itu. Tapi, di sisi lain, aku harus berterima kasih juga kepadanya. Dengan begitu, Seruni lepas darinya dan aku bisa terus mengejar karena dia single. Semisal mantannya pun datang mengganggu, aku tak akan gentar melawan. Si Malik-Malik itu, hanya seorang pilot saja tak membuat nyaliku menciut. Mau adu kekayaan denganku? Walau aku masih berusia 24 tahun, tapi aku adalah pewaris perusahaan keluarga. Walau sekarang posisiku masih belum tinggi, tapi aku akan naik jabatan terus. Bukannya tinggal menerima enak saja, aku pun dengan bekerja dengan sungguh-sungguh walau perusahaan keluarga sendiri. Karena aku adalah anak laki-laki, jadi aku mendapatkan bagian saham jauh lebih besar. Lalu, ada Kak Leo—anak dari kakaknya papa yang memimpin perusahaan saat ini membantu sampai waktuku tiba nanti menggantikannya, dan sebagian saham lagi tentunya untuk Kak Vania.
Selain bekerja di perusahaan keluarga, aku juga join bisnis kecil-kecilan dengan teman kuliah. Masih merintis, tapi aku yakin akan bisa berkembang. So, aku sama sekali tidak khawatir bersaing dengan lelaki mana pun perihal materi. Yang aku pikirkan malah bagaimana caranya meluluhkan hatinya Seruni yang keras dan ada trauma juga. Lalu, melawan egonya yang sudah terbiasa sendiri tanpa mengandalkan siapa pun. Aku ingat kemarin mantan kekasihnya itu yang membahas jika Seruni terlalu mandiri dan sejenisnya selama ini.
Aku tak masalah sebenarnya akan bagaimana karakter perempuan itu. Karakternya yang begitu tak akan mebuatku mundur darinya. Aku malah semakin ingin untuk meluluhkannya.
Kembali aku meraih ponselku yang berada di atas nakas. Kali ini, aku membuka aplikasi pesan. Tak menyerah pesanku di ige tak mendapatkan balasan, aku pun mengirimkan pesan lewat aplikasi chat yang mana nomornya dia aku dapat dari ponselnya Kak Vania tadi. Saat Kak Vania ke kamar mandi sejenak dan ponselnya ditinggal di meja makan, aku mencari kontak Seruni di sana.
08129796xxxx
Aku yang barusan DM kamu di ige
Dengar-dengar, kamu dapat promosi ke penerbangan internasional, ya?
Selamat dan sukses selalu.
Jangan cari tau siapa aku, nanti aku akan muncul sendiri pada waktunya.
Beberapa saat kemudian. Lagi, seperti tadi, pesanku hanya dibaca saja.
Belum waktunya, Lucky. Jangan menyerah, tetap gas terus sampai dapat!
Baru saja hendak meletakkkan ponselku, senyumku langsung melebar karena pesanku dibalas.
Seruni
Siapa?
Mksih mkanannya.
Aku pun dengan cepat mengetikkan balasannya.
08139796xxxx
Kan udah ditulis di note tadi
Ur secret admirer ini
Tenang, bukan mantan yang nyakitin itu
Lagi, ada balasan darinya.
Seruni
Engga usah buang2 waktu jadi secret admirer segala
Ga akan guna
Gue engga tertarik sama sekali
Hmmm… jutek sekali memang. Tapi tak apa, aku akan menikmati proses mengejarnya.