Bab 3 — Kiriman Makanan
Seruni's PoV
Bohong jika aku tak hancur setelah mengakhiri kisah dengan Mas Malik yang telah terjalin cukup lama. Marah, sedih dan kecewa—semuanya campur aduk, patah hati sekali. Tidak... aku tidak akan berkoar-koar menyalahkan Sita yang tahu jika aku sudah menjalin hubungan dan dia masuk ke dalamnya menjadi orang ketiga. Dia memang salah, tapi Mas Malik lebih pantas disalahkan. Aku tak tahu siapa yang memulai duluan di antara mereka—tak ingin tahu yang akan menambah luka jika mencari tahu, menurutku kedua orang itu sama-sama orang tak beradab. Aku
Jika aku dibilang terlalu mandiri, keras kepala dan lainnya yang mungkin dia kurang suka, kenapa tak pernah membicarakannya selama ini? Kenapa hanya diam saja dengan sifat atau sikapku yang tak disukai? Ya begitu lah kebanyakan orang selingkuh yang ada-ada saja alasannya, seolah tidak mau disalahkan atas perbuatannya yang jelas-jelas unmoral. Sekali lagi, aku tak akan speak up apa pun. Jika memang mereka lanjut bersama, biarkan saja. Mereka berdua sepertinya cocok, sama-sama nafsuan. Entah ada cinta di dalamnya atau tidak di antara mereka, aku tak peduli.
Aku menarik napas pelan, tidak mudah menerima ini semua. Sita yang sudah aku percaya satu-satunya yang mengetahui hubunganku dengan Mas Malik, siapa sangka dia akan menikam. Tak tahu dia sudah mengincar Mas Malik sejak dulu, atau bisa jasi Mas Malik yang tergoda padanya. Mereka cukup sering berada dalam penerbangan yang sama, bisa jadi sering mengobrol berdua.
Bercinta di kamar kamu itu paling seru banget, Mas.
Diliatin sama foto-foto dan lukisannya si paling polos itu, seolah dia menyaksikan kegiatan kita.
Masa terbayang olehku rekaman video dan chat'an Sita dengan Mas Malik. Di salah satu restoran dalam mall menunggu Vania datang setelah debat dengan Mas Malik di dekat toilet, aku menyeka air mataku yang menetes begitu saja. Sesak sekali rasanya. Aku tak sekuat itu menahan rasa sakit itu. Sudah seminggu berlalu, luka yang ditorehkan masih ternganga lebar. Dan dia yang masih saja tak punya malu untuk menemuiku. Aku mesti sabar sedikit lagi, tinggal 2 minggu lagi aku akan training di Daruga Center untuk penerbangan internasional. Tak akan ada lagi penerbangan bersama lelaki itu.
Lalu, bagaimana dengan Sita setelah aku mengetahui itu? Aku langsung memblokir nomor ponselnya tanpa mencari ribut. Tidak ada gunanya menurutku, meributkan seorang lelaki sampah. Kecuali, dia yang menggoda dan lelaki itu tak merespon. Beda cerita kalau begitu.
Tak lama kemudian, aku tersenyum sembari melambaikan tangan pada sosok Vania yang terlihat baru memasuki restoran. Vania, walau baru 2 tahun belakangan mengenal perempuan itu, aku merasa dia adalah perempuan yang baik. Aku yakin, dia tak memiliki sifat seperti Sita. Yang baru aku sadari belakangan ini setelah mengingat ke belakang, Sita itu selalu tertarik terhadap apa pun yang aku miliki.
"Sorry, lama." Vania mendudukkan diri di kursi di depanku yang terhalang oleh sebuah meja.
"Enggak apa-apa. Gue juga belum lama datang," ucapku yang tentu saja berbohong.
Aku sudah hampir 2 jam di mall ini. Awalnya hanya ingin berkeliling dan membeli sesuatu jika ada yang menarik, dari pada berdiam diri di rumah saja pada hari libur yang mengingatkanku akan Mas Malik. Aku tahu Vania baru pulang tadi pagi dari penerbangan, makanya aku awalnya agar ragu mengajaknya keluar. Tapi, pada akhirnya, aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk sekedar menemani. Walau tak bercerita mengenai masalahku yang sebenarnya.
"Maaf banget, gue ganggu waktu istirahat elo."
"Santai. Tadi enggak lama sampai rumah, gue ada tidur sekitar 2 jam'an kayaknya." Vania tersenyum tipis. "Kaget gue dengar suara lo bergetar gitu, kirain kenapa-napa."
Aku menggeleng. "Lagi sendirian di rumah, tiba-tiba melow aja ingat orang tua gue." Kadang memang aku merasa sedih saat ingat kedua orang tuaku, tapi saat ini aku sedih bukan karena itu.
"Mereka pasti udah bahagia di sana, Run. Mereka sangat bangga sama anak pertamanya yang sangat luar biasa ini. Pekerja keras, baik, dan menjadi layaknya orang tua bagi adek-adek lo."
"Yap, benar. Meski pun adek-adek gue bukan anak kecil lagi, tapi bagi gue mereka semua tetap menjadi tanggung jawab gue."
"Iya, gue paham. Tapi, lo juga jangan lupa mikirin diri lo sendiri juga. Lo harus bahagia dan juga butuh seseorang di sisi mendampingin senang dan sedihnya elo."
Aku tersenyum miris di dalam hati. Kemarin ini, aku memiliki pasangan yang sudah bertahun-tahun bersama. Akan tetapi, pada akhirnya aku dikhianati. Au memang jarang membagikan keluh kesah hidupku kepada pasanganku tersebut, tapi bukan berarti aku abai terhadapnya. Aku hanya tak ingin membebani pikirannya dengan keluhanku. Tak meminta bantuan, karena aku merasa masih sanggup mengerjakan apa pun sendirian. Biaya kuliah adikku dan biaya sehari-hari di rumah bukan lah kendala yang besar bagiku. Walau aku harus hemat, karena sambil menabung juga. Aku tak ingin adikku yang pertama ikut membantu biaya sehari-hari di rumah serta tagihan semacam listrik, air, dan lainnya juga. Dia hanya bekerja di perusahaan swasta biasa yang gajinya tak seberapa. Dia pun harus mengeluarkan biaya transportasi setiap harinya, belum lagi kebutuhannya pribadi. Biar lah tetap aku yang menanggung semuanya, bersyukur dengan profesiku yang gajinya lumayan.
"Belum waktunya, Van. Nanti-nanti aja." Saat ini, aku baru saja terluka dan sama sekali tak kepikiran dulu untuk mencari pengganti Mas Malik. "Enggak apa-apa menikah telat, asal bersama orang yang tepat."
"Hmmm. Tapi, gue serius mau tanya. Lo mau nggak, semisal ada laki-laki yang suka sama lo tapi usianya lebih muda?"
"Berondong, huh? Sama sekali enggak kepikiran gue. I mean, mau berondong, seumuran atau yang lebih tua pun, gue belum ada pikiran ke sana. Fokus sama kerjaan gue dulu aja. Kan mau flight ke luar negeri juga gue nanti." Aku sudah cerita kepada Vania jika mengambil tawaran naik tingkat ke penerbangan internasional. Dengan begitu, aku nanti akan jarang berada di Indonesia dan tak lagi satu penerbangan dengan mantan kekasih atau temanku itu. Sita, perempuan itu tak dapat tawaran yang sama sepertinya. Malah Vania yang baru 2 tahunan yang mendapatkan tawaran. Aku, Vania dan ada dua orang pramugari lainnya juga.
"Kali ada yang bisa LDR. Enggak mau coba dulu dekat sama seseorang?"
"Enggak mau, Van. Nanti-nanti aja kalau udah waktunya." Entah berapa lama akan bisa dekat dengan seseorang lain lagi nanti, aku tak tahu. Aku harus menyembuh dulu lukaku terlebih dahulu, bukan melibatkan seseorang dalam proses penyembuhannya.
***
"Enggak habis jalan sama si brengsekk itu kan, Kak?" Endang—adik pertamaku itu marah sekali saat aku cerita jika tak akan menikah dengan Mas Malik karena dia berkhianat dengan perempuan lain. Tentunya, keluarga yang sudah tahu mengenai hubungan kami harus diberitahu, supaya tidak lagi berharap dan bertanya-tanya bagaimana rencana lamaran nantinya. Tanteku juga sudah aku beritahu. Beliau sedih, tapi juga mendukungku untuk mengakhiri kisahku dengan lelaki itu. Tante hanya bilang jika akan selalu berdo'a untukku, tak perlu buru-buru mencari pengganti. Jalani hari apa adanya saja, jodoh adalah rahasia Tuhan yang bisa datang kapan saja.
"Nge-mall sama Vania, kok."
Endang manggut-manggut.
"Oh ya, Kakak lupa belum beli makanan buat malam. Pas udah nyampe depan baru ingat. Kita delivery aja, ya? Kamu dan Genta mau makan apa?"
"Aku udah masak nasi barusan, Kak. Beli lauknya aja."
"Ya udah kamu pesan aja lauknya, pilih sendiri. Kakak mau mandi sebentar." Aku pun menyerahkan ponselku kepada adikku itu, lalu bagkit berdiri hendak menuju kamarku. Ada tiga kamar di rumah peninggalan orang tua kami ini. Satu kamarnya berukuran, yang ditempati adik laki-lakiku yang masih kuliah.
Kira-kira 15 menit kemudian, aku keluar kamar telah selesai mandi dan memakai pakaian rumah santai. Aku menghampiri Endang yang masih duduk di kursi depan TV, tetapi terlihat sudah ada plastik makanan di atas meja. Secepat itu datangnya? Mungkin Endang memesan lauk dari restoran yang berada tak jauh dari perumahan kami.
"Udah datang, Ndang? Eh, enggak jadi beli lauk aja kamu?" Setelah berada di dekat adikku itu, aku menuadari bahwa plastik yang berada di atas meja berlogo tempat makan yang cukup mahal.
Endang menggeleng. "Pas aku mau bayar barusan, ada tukang paket datang. Kirain salah kirim, eh tahunya benar untuk Kak Seruni. Lihat deh, ada catatannya di kertas di dalamnya. Emm... maaf, Kak, sekilas kebaca sama aku. Tapi, enggak semua, sih. Karena aku mastiin kalau makanan ini bukan dari laki-laki tua brengsekk itu."
Aku mengernyit, lalu mendudukkan diri di sebelah Endang lagi. "Dari siapa emangnya?"
"Kakak lihat aja."
Aku pun membuka plastik tersebut, tak cuma satu saja makanan di dalamnya. Ada tiga box seolah tahu penghuni rumah ini adalah tiga orang. Dan ada menu selain makanan berat juga, serta minuman. Lalu, terdapat sebuah kertas kecil seperti yang Endang katakan barusan.
Aku tahu hari-harimu sedang berat. Tapi, jangan lupa makan, ya! Patah hati memang menguras tenaga, tapi tubuhmu tetap harus dijaga.
Jangan berlarut-larut sedihnya ya, Cantik? Tak apa kalau belum bisa melupakan, aku mengerti. Sembuh memang tidak pernah punya batas waktu.
Take ur time...
Aku berdo'a semoga besok—lusa dan hari-harimu selanjutnya lebih baik dari hari ini. Dan semoga nanti suatu saat hatimu sudah pulih, kamu bertemu seseorang yang memilih setia tanpa perlu diminta.
Ur secret admirer since last year,
L
Endang berdehem. "Siapa itu, Kak? Ciee yang punya pengagum rahasia."
Aku menggelengkan kepala sembari berpikir, siapa lelaki dengan inisial 'L' yang mengirimkan makanan ini? Dan dari isi note-nya, sepertinya lelaki itu tahu mengenai kesedihanku. Aku yang sedang patah hati. Buntu, aku merasa tak kenal dengan lelaki mana pun yang inisial "L' namanya. Aku juga merasa tak seorang pun tahu mengenasi kisah asmaraku selain keluarga sendiri dan kedua orang tak bermoral itu.
Pengaguma rahasia dari tahun lalu?
Aku menggeleng. Ngapain juga memikirkan itu?
"Pesan makanan lain aja, Ndang. Kita kan enggak tahu siapa pengirim ini, dan gimana kalau semisal ada sesuatu di dalamnya?"
"Kak, tadi driver yang antar ini bilang, harus dimakan makanannya. Pengirimnya ini orang baik, enggak ada niat buruk sedikit pun. Cuma pengen yang menerima ini tetap makan, enggak sedih terus sampai lupa makan. Begitu katanya."
Aku terdiam. Apa dia tadi juga tahu aku ada di restoran dan hanya makan suap saja?
***