Lima belas menit di atas motor adalah cukup waktu bagi masa lalu untuk menyusul.
Rani berusia tiga belas tahun ketika ia mengerti bahwa kakaknya tidak akan kembali jadi Bagas yang dulu. Bagas yang memboncengnya ke sekolah, yang mengajarinya naik sepeda dengan menahan sadel sampai betisnya pegal, yang menggambar wayang di buku tulisnya. Bagas mulai berubah di tahun keduanya kuliah di kota—pulang dengan mata yang tak fokus, bicara tentang orang-orang yang mengintainya, menolak makan karena yakin makanannya diracun. Ayahnya bilang Bagas kurang ibadah. Ibunya membawanya ke tiga orang pintar. Tetangga berbisik tentang pesugihan yang salah jalan.
Tak ada yang menyebut kata yang benar. Tak ada yang tahu kata itu ada.
Ketika Bagas mulai memukul dan mengamuk, ketika ia memecahkan jendela dan melukai tangan ayahnya, keputusan diambil dengan cara yang dianggap satu-satunya cara. Mereka membuat ruang di belakang, dekat kandang kambing. Mereka memasang kayu. Rani ingat bunyi paku ditancapkan ke balok itu lebih jelas daripada wajah siapa pun di hari itu. Ia ingat ayahnya menangis sambil memalu—menangis dan tetap memalu, dua hal yang waktu itu tak bisa ia satukan dalam satu kepala anak tiga belas tahun.
Ia diam-diam membawakan Bagas nasi tiap malam. Lewat celah di papan, ia menyodorkan piring, dan kakaknya—di sela-sela kabut yang makin tebal—kadang masih mengenalinya. Memanggil namanya. "Andarini. Pulangkan aku." Seolah ia tahanan di rumah sendiri, yang ia memang begitu. Rani tak bisa memulangkan siapa pun. Ia tiga belas tahun. Ia hanya bisa membawa nasi.
Bagas mati di musim hujan, dua tahun kemudian. Bukan karena mengamuk, bukan karena hal dramatis apa pun. Ia demam, lalu sesak, lalu diam. Pneumonia, kata orang Puskesmas yang datang terlambat, di tubuh yang sudah terlalu lama lemah, terlalu lama tak bergerak, terlalu lama dingin di lantai semen tanpa selimut yang cukup. Mereka melepas kayu itu hanya untuk memandikan jenazahnya. Itulah kali pertama dalam dua tahun kaki Bagas bebas, dan ia tak lagi bisa merasakannya.
Rani tidak menangis di pemakaman. Ia menangis bertahun kemudian, di asrama keperawatan, ketika seorang dosen menjelaskan skizofrenia di depan kelas dengan tenang—gejala, perjalanan penyakit, pengobatan—dan untuk pertama kali Rani mendengar bahwa ada nama untuk apa yang membunuh kakaknya, dan bahwa nama itu bisa diobati, bahwa orang-orang dengan penyakit yang sama berjalan-jalan di luar sana hidup dan bekerja, bahwa Bagas tidak harus mati dipasung. Bahwa yang membunuhnya bukan setan, bukan kutukan, bukan dosa keluarganya. Yang membunuhnya adalah ketidaktahuan, dan ketidaktahuan adalah sesuatu yang, tidak seperti kutukan, bisa dilawan.
Ia memilih jurusan jiwa di hari itu. Dan ketika lulus, ketika teman-temannya melamar ke rumah sakit kota dengan gaji lebih layak, Rani pulang. Ke kecamatan yang sama. Ke kampung yang masih menyimpan gudang-gudang dengan bau yang ia kenal. Sebagian orang menyebutnya pengabdian. Rani tahu yang lebih jujur: ia tak bisa hidup tenang selama masih ada Bagas-Bagas lain di balik papan, menunggu seseorang membawakan lebih dari sekadar nasi.
Motor berhenti di depan rumah Darmin yang sudah terang oleh lampu dan riuh oleh tetangga yang berkerumun. Rani menerobos masuk. Sutejo tergeletak miring di lantai gudang, kejangnya mereda jadi kelojotan kecil lalu berhenti, busa di sudut bibirnya, napasnya berat tapi ada. Rani jongkok, memeriksa—pupil, napas, denyut, suhu. Ia mengeluarkan dari tasnya dan bekerja dengan tangan yang sama sekali tidak gemetar, karena tangan yang gemetar adalah hal terakhir yang dibutuhkan ruangan ini.
"Bukan kerasukan, Bu," katanya kepada Bu Surti yang terisak di ambang pintu. "Bukan juga obatnya. Ini kejang. Mungkin dia memang sudah lama begini dan dulu dikira kesurupan. Anak Ibu nggak kemasukan apa-apa. Dia sakit, dan sakitnya bisa dirawat."
Ketika Sutejo akhirnya membuka mata, lelah dan bingung, ia mencari satu hal di antara semua wajah yang mengelilinginya, dan menemukan wajah Rani. Bibirnya bergerak. Tak ada suara, tapi Rani membaca bentuknya.
Dan saat itu, di lantai gudang yang dingin, dengan bau yang sama yang dulu mengantar kakaknya pergi, Rani membuat sebuah janji yang ia tahu tak seharusnya ia buat—janji yang dilarang oleh setiap pelatihan, setiap supervisi, setiap batas profesional yang ia hafal. Ia berbisik, terlalu pelan untuk didengar siapa pun selain dirinya sendiri dan, mungkin, Bagas.
"Kamu nggak akan berakhir di sini. Aku janji. Kamu nggak akan jadi kakakku."