Tiga minggu obat berjalan, dan untuk sesaat semuanya tampak mungkin. Sutejo mulai menjawab pertanyaan dengan kalimat pendek. Ia berhenti bicara pada dinding. Suatu sore ia bahkan menyebut nama adiknya tanpa nada curiga, hanya bertanya, lirih, apakah adiknya masih kerja di Surabaya. Bu Surti menangis di teras mendengar itu—tangis yang Rani tahu bukan kesedihan, tapi sesuatu yang lebih menyakitkan: harapan yang sudah lama ia larang masuk ke rumahnya.
Lalu stok obat menipis.
Rani berdiri di depan lemari obat Puskesmas memandang strip risperidon yang tinggal sedikit. Petugas gudang farmasi, Mbak Yuli, mengangkat bahu dengan wajah yang sudah hafal kekecewaan ini. "Droping dari Dinas mundur, Mbak. Katanya minggu depan. Atau minggu depannya lagi." Yang tersisa harus dibagi untuk semua pasien jiwa terdaftar di kecamatan, belasan orang, sebagian sudah stabil bertahun dan justru paling berbahaya kalau putus obat karena bisa relaps total.
Ini aritmatika yang tak diajarkan di kampus: membagi obat yang tak cukup di antara orang-orang yang sama-sama bisa hancur tanpanya. Rani memotong dosis, menghitung hari, menelepon Puskesmas tetangga untuk pinjam strip—dan tiap kali ia menutup telepon, ia tahu ia hanya menggeser kekurangan dari satu kepala ke kepala lain.
Jalan keluar yang benar sudah jelas di atas kertas. Sutejo butuh dirujuk ke RS Jiwa provinsi: diperiksa psikiater, distabilkan rawat inap, ditangani luka dan kontrakturnya dengan benar, lalu dipulangkan dengan rencana obat yang utuh, mungkin depot injeksi yang cukup sebulan sekali sehingga tak bergantung pada kepatuhan minum harian. dr. Pram menulis surat rujukan dengan rapi. Rani melengkapi berkas BPJS—Sutejo PBI, ditanggung negara untuk biaya rawatnya.
Masalahnya bukan di kertas. Masalahnya tiga jam perjalanan.
"BPJS nutup rawat inapnya, Bu, Pak," jelas Rani di teras keluarga Darmin, suaranya berusaha tenang. "Yang nggak ditutup itu ongkos ke sana dan pulang. Mobil. Bensin. Makan selama nunggu. Dan harus ada keluarga yang nungguin, nginep di sana, mungkin beberapa hari."
Wajah Pak Darmin menutup seperti pintu. "Tiga jam? Siapa yang antar? Saya nggak bisa naik motor sejauh itu, apalagi bawa dia. Carter mobil sekali jalan saja seratus lima puluh. Pulang-pergi, nginep, makan—itu uang sebulan, Mbak. Dan siapa yang jaga warung kalau saya pergi berhari-hari?" Ia menggeleng. "Kami nggak punya. Maaf."
Ini tembok yang paling sering meruntuhkan Rani: bukan penolakan terhadap kesembuhan, tapi ketidakmampuan yang jujur. Keluarga ini tidak jahat. Mereka hanya miskin, dan miskin di negeri ini berarti sehat pun terlalu mahal.
Yoga, yang sepanjang minggu itu sudah mulai retak, meledak pelan di motor saat mereka pulang. "Jadi ujungnya apa, Mbak? Kita obati sampai stoknya habis, terus berhenti, terus dia balik parah? Suratnya bagus, rujukannya betul, tapi nggak ada gunanya kalau cuma jadi kertas di laci. Buat apa kita ke sini tiap minggu kalau sistemnya emang udah dirancang gagal?" Suaranya pecah di kata terakhir. Idealisme tahun pertama, kata dr. Pram. Murah. Tapi Rani melihat Yoga bukan kemurahan; ia melihat dirinya sendiri sepuluh tahun lalu, marah pada dunia yang lebih besar dari tangannya.
"Surat itu nggak sia-sia," kata Rani, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Yoga. "Kita simpan. Begitu ada celah—ada bantuan transport dari Dinsos, ada keluarga yang luluh, apa pun—surat itu sudah siap. Yang nggak boleh kita lakukan adalah berhenti ngobati selagi nunggu celah itu."
Tapi malam itu celah datang dari arah yang salah.
Pukul sebelas, ponsel Rani berdering. Bu Surti, suaranya panik, hampir tak terdengar di balik bunyi gaduh. "Mbak! Tejo! Dia kejang! Mulutnya berbusa, badannya kaku, matanya muter—Mbak, dia kerasukan lagi, ini gara-gara obat Mbak, ini—"
Rani sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai, menyambar tas dan kunci motor. "Bu, dengar saya. Miringkan badannya, jangan masukin apa pun ke mulutnya, jangan dipegangin keras-keras. Saya ke sana sekarang. Lima belas menit."
Ia membangunkan Yoga lewat telepon sambil menendang standar motor. Di kepalanya berputar kemungkinan-kemungkinan: kejang epilepsi yang selama ini tak terdiagnosis dan disangka bagian dari "kerasukan"; atau—ia berharap bukan—reaksi yang membuat keluarga akan menyalahkan obat dan, dengan begitu, menyalahkan dirinya. Karena ia tahu, di balik panik Bu Surti, kalimat yang sebenarnya sedang dirakit oleh seisi rumah itu adalah kalimat yang paling Rani takuti di seluruh pekerjaan ini.
Obatnya bikin parah. Lebih aman dipasung saja. Demi selamat semua.