Tim provinsi datang pada hari Rabu, dua orang, dengan mobil dinas berplat merah yang langsung jadi tontonan di gang sempit Wuni Lor. Yang memimpin perempuan berusia lima puluhan bernama Bu Hartati, koordinator program keswa provinsi, dengan mata yang sudah melihat terlalu banyak kampung dan terlalu banyak kebohongan untuk mudah terkesan. Pendampingnya lelaki muda yang sibuk mencatat dan memotret.
Pak Hardi menyambut mereka dengan kemeja batik terbaiknya dan rangkaian kalimat yang jelas sudah ia latih, tentang 'komitmen dusun' dan 'kepedulian perangkat'. Bu Hartati mendengarkan dengan sopan, mengangguk, lalu memotong dengan halus. "Pak, saya nggak perlu lihat kantor dusun. Saya perlu lihat rumah-rumahnya. Ibu Rani, bisa antar saya?"
Rani membawa mereka ke rumah Pak Darmin lebih dulu. Sutejo sedang tidak di rumah—ia di bengkel Pak Wandi, dan ketika Rani menyebutkan itu, Bu Hartati mengangkat alis. "Pasien yang dulu dipasung bertahun-tahun, sekarang kerja di bengkel?" Ada nada di suaranya yang Rani kenali: skeptisisme orang yang sering dibohongi dengan klaim muluk.
"Mari kita ke sana," kata Rani.
Di bengkel, Bu Hartati mengamati Sutejo dari kejauhan sebelum mendekat—cara lelaki itu memegang kunci, cara ia berbicara singkat dengan Pak Wandi, cara tangannya yang masih sedikit kaku bekerja membersihkan onderdil. Lalu ia mendekat dan bicara langsung pada Sutejo, bukan pada Rani. Tentang obat, tentang suntikan, tentang bagaimana rasanya kembali bekerja. Sutejo menjawab pelan, kadang berhenti mencari kata, tapi ia menjawab sendiri. Bu Hartati mencatat. Rani melihat sesuatu bergeser sedikit di wajah perempuan itu.
Mereka melanjutkan ke rumah Wulan, ke rumah Bu Lastri tempat Topan menunjukkan buku pelajaran kelas tiga yang mulai ia ikuti lagi, ke gang pasar tempat Mbah Ginem duduk dengan kalung penanda dan pintu yang kini tak lagi dirantai. Tiap rumah, Bu Hartati bertanya tajam, mencari celah, mencari poles. Dan Rani, yang sudah memutuskan sejak telepon minggu lalu, tidak memoles.
Ketika Bu Hartati bertanya tentang relaps, Rani menceritakan Wulan yang berhenti obat diam-diam karena ibu mertua, dan bagaimana mereka nyaris kehilangan kendali. Ketika ditanya tentang kegagalan, Rani menceritakan malam Sutejo dipasung kembali, surat rujukan yang ditolak, Pak Darji yang relaps karena dosisnya terpaksa dipotong saat stok kosong. Ia tidak menyembunyikan apa pun. Pendamping muda itu mendongak dari catatannya, seolah tak terbiasa mendengar pengelola program mendaftar kegagalannya sendiri di hadapan penilai.
Lalu terjadilah momen yang nyaris merusak segalanya.
Dalam daftar yang Bu Hartati minta untuk dikunjungi acak—bukan yang dipilih Rani, tapi yang ia tunjuk sendiri dari peta—ada satu rumah di ujung Wuni Tengah yang baru saja masuk pendataan, keluarga yang belum sepenuhnya percaya pada Rani. Ketika rombongan tiba, pintu setengah ditutup buru-buru, dan seorang lelaki paruh baya berdiri di ambang dengan wajah panik, menghalangi. "Nggak ada apa-apa di sini," katanya cepat. "Salah alamat."
Dari dalam, samar, terdengar bunyi—gemerincing logam, suara seseorang. Rani melihat panik yang sama yang sudah ratusan kali ia lihat: keluarga yang mau menyembunyikan anggotanya yang dipasung dari mata orang asing berplat merah, takut ditangkap, takut dipermalukan, takut segalanya.
Pak Hardi, yang ikut rombongan, langsung tegang—Rani melihatnya. Ini persis mimpi buruk politiknya: di hadapan penilai provinsi, di hari yang menentukan dana, sebuah rumah dengan pasung tersembunyi terbongkar, membuktikan kampungnya belum bersih. Ia membuka mulut, mungkin hendak mengatakan sesuatu untuk menutupi, untuk mengalihkan.
Rani mendahuluinya. Ia melangkah ke depan, bukan ke arah pintu, tapi ke arah Bu Hartati, dan berkata dengan tenang dan jelas, "Bu, ini salah satu rumah yang baru kami data. Belum kami bebaskan. Keluarga ini belum percaya pada kami. Ada saudara mereka di dalam yang masih dipasung. Saya belum berhasil masuk."
Hening. Pak Hardi membatu. Lelaki di ambang pintu menatap Rani dengan campuran takut dan terkhianati. Bu Hartati menoleh perlahan, menatap Rani lama, dan untuk sekian detik tak ada yang tahu ke mana arah hari ini akan berbelok.
Lalu Bu Hartati berkata, suaranya pelan, "Ibu nggak menyembunyikannya dari saya."
"Saya nggak bisa, Bu," jawab Rani. "Kalau saya tutupi rumah ini supaya program saya kelihatan berhasil, saya nggak beda sama keluarga yang menutupi pasungnya supaya kelihatan baik di mata tetangga. Ini belum selesai. Banyak yang belum selesai. Tapi kalau Ibu cabut dana karena kami belum selesai, orang di dalam rumah ini justru nggak akan pernah dibebaskan."
Bu Hartati menatap pintu yang setengah tertutup itu, lalu menatap Rani, lalu—lama—menatap petanya yang Rani bawa, titik merah dan biru itu. Ia berbalik kepada pendamping mudanya. "Catat rumah ini. Sebagai kasus dalam proses, bukan sebagai kegagalan." Lalu ia berkata kepada Rani, dengan suara yang akhirnya kehilangan skeptisismenya, "Saya sudah datang ke banyak kecamatan, Bu. Kebanyakan menunjukkan saya kampung yang dipoles, ODGJ yang dirapikan sehari, angka yang dibesar-besarkan. Yang saya nilai bukan kampung yang bersih dari masalah. Yang saya nilai kampung yang berani jujur soal masalahnya. Karena cuma yang berani jujur yang benar-benar mengerjakannya."
Ia menutup map penilaiannya. "Laporan saya akan saya kirim minggu ini."
Dan Rani, berdiri di gang sempit di antara rumah yang menyembunyikan rantai dan rombongan yang memegang nasib programnya, merasakan sesuatu yang aneh: bahwa kejujuran atas lukanya sendiri, yang ia kira akan menjatuhkannya, justru baru saja menyelamatkannya.