Proposal itu menghabiskan tiga malam Rani.
Ia mengerjakannya setelah Puskesmas tutup, di meja konseling di bawah lampu neon yang berkedip, dengan laptop pinjaman dr. Pram dan tumpukan catatan yang ia kumpulkan selama berbulan-bulan. Bu Retno telah mengiriminya format lewat pesan—lembar demi lembar persyaratan dana Stop Pasung provinsi yang membuat kepala Rani pening: data baseline, analisis situasi, kerangka logis, indikator capaian, rencana keberlanjutan, anggaran terperinci, surat komitmen pemerintah desa. Bahasa birokrasi yang dingin untuk pekerjaan yang panas dan berdarah.
Tapi Rani menemukan bahwa di balik bahasa dingin itu, ia bisa menyelipkan sesuatu yang hidup.
Di bagian data, ia memasukkan petanya—peta yang dulu menakutkannya, penuh titik merah nama-nama yang disembunyikan, kini sebagian sudah berubah biru. Angka-angka yang selama ini hanya ada di kepalanya dan di buku catatan lusuh, kini tersusun rapi: sekian orang dipasung yang ditemukan, sekian yang dibebaskan, sekian yang dirawat jalan, sekian yang relaps dan distabilkan kembali. Untuk pertama kali, penderitaan Tanjung Wuni punya bentuk yang bisa dibaca pejabat di ruang ber-AC tiga jam jauhnya.
Di bagian narasi, ia melanggar sedikit aturan birokrasi. Ia menulis tentang Sutejo—bukan sebagai 'kasus skizofrenia kronis dengan riwayat pemasungan', meski itu pun ia tulis, tapi sebagai lelaki yang tangannya mengingat kunci pas setelah lima belas tahun. Ia menulis tentang Wulan, ibu muda yang nyaris menyakiti bayinya karena suara di kepalanya, kini menggendong anaknya dengan tangan sendiri. Ia menulis tentang Topan yang memakai seragam lagi. Ia tahu pejabat mungkin melompati bagian itu, tapi ia menulisnya juga untuk dirinya sendiri—untuk mengingatkan bahwa semua kertas ini bermuara pada tubuh-tubuh nyata.
Di bagian keberlanjutan, ia menuliskan model yang sudah ia bangun setengah jadi: jadwal piket bergilir, kalender centang obat di dapur tiap keluarga, Posyandu Jiwa yang baru tumbuh, kader yang dilatih, depot injeksi yang memutus ketergantungan pada stok harian. Ia ingin tim provinsi tahu ini bukan kerja satu perawat heroik yang akan runtuh kalau perawatnya tumbang. Ini sistem. Atau setidaknya, calon sistem.
dr. Pram membaca draf itu pada malam ketiga, mengernyit di beberapa bagian, mencoret kalimat yang terlalu emosional. "Provinsi nggak baca novel, Rani," katanya. "Mereka baca angka dan akuntabilitas. Tonjolkan datanya. Ceritanya bumbu, jangan jadi nasi."
Rani menurut, tapi tak sepenuhnya. Ia tahu data tanpa wajah mudah dikubur di laci. Yang menggerakkan tangan untuk menandatangani persetujuan dana sering kali bukan tabel, tapi satu kalimat yang menusuk di antara tabel-tabel itu.
Pak Hardi menandatangani surat komitmen desa dengan upacara kecil yang ia buat sendiri—memanggil sekretaris desa, menstempel di atas materai, berfoto sambil memegang map. Rani membiarkannya. Tanda tangan itu, sebagaimana pun cara mendapatkannya, membuat proposal sah.
Maka pada suatu Senin pagi, lewat tangan Bu Retno yang menyelundupkannya ke meja yang tepat di Dinas kabupaten sebelum diteruskan ke provinsi, proposal itu pergi.
Dan kemudian datanglah bagian tersulit: menunggu.
Rani belajar bahwa menunggu adalah jenis penderitaan tersendiri. Ia tahu, dari cerita Bu Retno, betapa banyak proposal yang masuk dan mati diam-diam di laci—bukan karena ditolak terang-terangan, tapi karena dilupakan, tertimbun, kehabisan momentum. 'Akan kami pelajari' adalah kalimat yang bisa berarti apa saja, termasuk tidak berarti apa-apa. Ia membayangkan kertas-kertas yang ia tulis dengan tiga malam tanpa tidur kini menjadi salah satu dari ratusan map di sebuah ruangan, menguning, dilupakan, sementara di Tanjung Wuni lemari obat tetap kosong di tengah bulan dan Pak Darji yang dosisnya ia potong masih menarik diri ke kamarnya.
Minggu pertama lewat. Tak ada kabar. Rani melanjutkan kerjanya—kunjungan rumah, suntik depot Sutejo, mengawal kepatuhan Wulan—dan mencoba tidak memeriksa ponselnya tiap jam.
Minggu kedua, ketika ia hampir yakin proposal itu telah bergabung dengan barisan kertas mati di laci provinsi, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal, kode area kota provinsi. Rani menjawab dengan jantung berdebar.
Suara di seberang adalah suara perempuan yang efisien, memperkenalkan diri sebagai staf sekretariat program kesehatan jiwa provinsi. "Ibu Maharani? Terkait proposal Stop Pasung Kecamatan Tanjung Wuni. Proposal Ibu masuk seleksi tahap akhir. Tapi sebelum dana bisa diproses, akan ada verifikasi lapangan. Tim kami akan datang ke lokasi untuk menilai langsung kondisi yang Ibu laporkan."
Rani harus duduk. Tangannya yang memegang ponsel sedikit gemetar—gemetar yang sama yang ia lihat di tangan Sutejo memegang kunci pas, gemetar antara takut dan harapan yang terlalu lama ditahan.
"Kapan, Bu?" tanyanya.
"Minggu depan. Kami akan kirim jadwalnya. Saran saya, Bu—" suara itu sedikit melunak, seolah perempuan di seberang tahu apa yang dipertaruhkan, "—siapkan yang sebenarnya. Tim kami sudah biasa melihat kampung yang dipoles untuk verifikasi. Yang mereka cari bukan kampung yang sempurna."
Sambungan terputus. Rani duduk di meja konseling, menatap petanya di dinding—titik merah dan biru itu—dan menyadari bahwa tumpukan kertas yang ia tulis tiga malam itu kini punya peluang untuk hidup. Tapi peluang itu menggantung pada satu minggu ke depan: pada apakah ia bisa menunjukkan kebenaran Tanjung Wuni, dengan segala keberhasilan dan kegagalannya, kepada orang-orang asing yang punya kuasa mengubah segalanya—atau membiarkannya kembali jadi tumpukan kertas di laci.