Wulan pulang sebelas hari setelah subuh itu.
Rani mendapat kabar lewat telepon dari Mas Bayu, suaranya bergetar antara lega dan takut. Surat dari RS Jiwa provinsi datang bersama mereka—lembar resume medis yang Rani baca berulang di ruang konseling, tiap baris menyusun gambaran yang lebih jelas dari semua tebakan minggu-minggu lalu. Psikosis pascapersalinan, tegas, bukan baby blues, bukan guna-guna. Distabilkan dengan antipsikotik dan penstabil mood. Direspons baik. Boleh rawat jalan dengan satu syarat yang dicetak tebal di bagian bawah: pendampingan ketat dan kepatuhan obat wajib dijaga; risiko relaps tinggi pada tahun pertama.
Dan di bawah syarat itu, tak tertulis tapi jelas, sebuah nama: Rani. Karena provinsi memulangkan pasien dengan rencana obat, tapi tak memulangkannya dengan pendamping. Tiga jam jarak itu memulangkan tanggung jawab langsung ke pangkuan Puskesmas yang sama yang nyaris tak punya tenaga untuk memikulnya.
Ia datang ke rumah belakang masjid Wuni Tengah pada sore yang teduh. Rumah yang dulu menyimpan pintu berselot besi itu sekarang berbeda—selot itu sudah dicabut, kamar dibuka, jendela papannya dilepas sehingga cahaya masuk. Tapi Rani belajar membaca lebih dari pintu. Ia membaca wajah ibu mertua Wulan, yang menyambutnya dengan keramahan yang sedikit kaku, dan di balik keramahan itu, sisa kecurigaan yang belum padam. Perempuan tua itu telah menyaksikan menantunya dibawa pergi ke "rumah sakit gila"—aib yang ia takutkan jadi kenyataan. Bahwa Wulan pulang dalam keadaan tenang tak sepenuhnya meyakinkannya. Bagian dari dirinya masih percaya bahwa yang menyembuhkan bukan obat provinsi, tapi mungkin doa, mungkin waktu, mungkin keberuntungan—dan bahwa obat itu, cepat atau lambat, bisa ditinggalkan.
Rani mengenali bahaya itu seketika. Musuh berikutnya bukan penyakit Wulan. Musuhnya adalah keyakinan diam-diam seisi rumah bahwa pulih berarti selesai.
Wulan duduk di ruang depan, menggendong sebuah bantal—bukan bayinya. Bayi laki-laki itu, yang kini hampir empat bulan dan gemuk, ada di pangkuan neneknya, beberapa langkah jauhnya. Jarak itu disengaja, Rani tahu. Setelah apa yang nyaris terjadi di atas sumur, keluarga belum berani—dan mungkin Wulan sendiri belum berani—membiarkan ibu dan bayi terlalu dekat tanpa pengawas.
Tapi Wulan yang sekarang berbeda dari perempuan di kamar remang itu. Matanya jernih. Ketika Rani duduk di hadapannya, ia mengenalinya, menyebut namanya, bertanya dengan suara pelan apakah Rani sudah makan. Kabut waham yang dulu membuatnya tak sepenuhnya berada di ruangan telah surut. Yang tersisa adalah seseorang yang rapuh, lelah, dan—ini yang membuat Rani hati-hati—sadar penuh akan apa yang nyaris ia lakukan.
"Saya minum obatnya tiap hari, Mbak," kata Wulan, hampir seperti murid yang ingin dipuji. "Saya nggak mau balik ke sana. Ke tempat yang dulu."
"Bagus, Wulan. Itu yang paling penting." Rani menjelaskan pada Wulan dan, dengan sengaja keras agar ibu mertua mendengar, bahwa obat ini bukan untuk beberapa minggu. Bahwa berhenti karena merasa sehat justru yang paling berbahaya. Bahwa pulih bukan garis finis, tapi jalan yang harus terus ditapaki. Ia melihat ibu mertua mengangguk-angguk sopan, dan ia tahu anggukan itu belum keyakinan. Itu akan jadi perang panjang. Tapi tidak hari ini.
Hari ini, Rani punya tujuan yang lebih kecil dan lebih berani.
Ia meminta bayi itu. Nenek ragu, memandang menantunya, lalu memandang Rani. "Saya di sini," kata Rani pelan, dan dalam tiga kata itu ada jaminan yang menenangkan seluruh ruangan. Nenek menyerahkan bayi gemuk itu—bukan langsung ke Wulan, tapi ke Rani. Dan Rani, perlahan, dengan gerakan yang menjelaskan tiap langkah seperti ia menjelaskan tiap suntikan, meletakkan bayi itu ke pangkuan ibunya.
Untuk pertama kali sejak hari di atas sumur, Wulan menggendong anaknya sendiri.
Tubuh perempuan muda itu menegang sesaat, seperti orang yang takut pada beratnya sesuatu yang ia cintai. Tangan Rani siaga di belakang—dekat, tak menyentuh, siap. Ruangan menahan napas. Nenek berdiri setengah bangkit. Mas Bayu, yang baru pulang dari toko dan berdiri di ambang, membeku.
Lalu bayi itu menggeliat, membuat suara kecil yang dibuat bayi, dan menggenggam jari ibunya dengan tangan mungilnya. Dan Wulan—Wulan yang pernah mendengar suara menyuruhnya mengembalikan anak ini—menunduk, memandang wajah yang menggenggam jarinya, dan menangis. Bukan tangis waham. Bukan tangis takut. Tangis seorang ibu yang akhirnya, akhirnya, hanya seorang ibu yang menggendong anaknya.
Rani membiarkan tangannya tetap di belakang punggung Wulan, dekat tapi tak menyentuh, dan tak menyuruh siapa pun bergerak. Beberapa hal harus diberi ruang untuk bernapas sendiri. Tapi di dalam dirinya ia mencatat, dengan kelembutan dan kewaspadaan yang sama, bahwa di ruangan ini sekarang ada bayi dan ibu yang menyatu kembali—dan ada jarak yang baru saja diperpendek, yang setiap inci-nya harus dijaga, hari demi hari, butir obat demi butir obat, melawan keyakinan diam-diam seisi rumah bahwa hari ini saja sudah cukup.