Aritmatika itu masih menghantui Rani: membagi obat yang tak cukup di antara orang-orang yang sama-sama bisa hancur tanpanya. Dan akar masalahnya, ia tahu, bukan cuma stok yang sering kosong—tapi kepatuhan. Risperidon harus diminum tiap hari, dan tiap hari adalah satu kesempatan untuk lupa, untuk ragu, untuk diam-diam berhenti karena keluarga merasa pasiennya "sudah sembuh". Satu butir terlewat tak masalah. Tapi satu minggu terlewat bisa mengembalikan suara-suara di kepala Sutejo, dan suara-suara itu bisa mengembalikan kayu di kakinya.
Ada jawaban di buku teks. Antipsikotik depot—injeksi kerja panjang yang disuntikkan sekali dalam dua sampai empat minggu, melepaskan obat perlahan ke dalam tubuh sehingga tak ada lagi butir harian yang bisa lupa diminum. Risperidon konsta. Atau yang lebih murah dan lebih tersedia, haloperidol dekanoat. Untuk pasien seperti Sutejo—kronis, baru saja kembali ke pengobatan, dengan keluarga yang panik di tiap krisis—depot bukan kemewahan. Depot adalah jaring yang menahan jatuh.
Masalahnya, seperti biasa, bukan di buku teks.
"Alokasi depot untuk Puskesmas itu terbatas, Mbak," kata Mbak Yuli di gudang farmasi, mengangkat bahu dengan wajah yang sudah hafal kekecewaan ini. "Yang dapat jatah biasanya cuma pasien yang sudah terverifikasi rawat jalan dari RSJ. Sutejo kan belum pernah dirujuk, belum pernah diperiksa psikiater. Di sistem, dia bahkan belum ada."
Di sistem, dia bahkan belum ada. Kalimat itu menusuk Rani lebih dalam dari yang ditunjukkannya. Sutejo telah hidup empat puluh dua tahun, telah dipasung belasan di antaranya, dan negara baru akan mengakui keberadaannya jika ia menempuh tiga jam ke provinsi yang sama yang baru saja menolak surat rujukannya karena kuota penuh. Lingkaran yang dirancang untuk menggugurkan orang seperti Sutejo di tiap putaran.
Maka Rani melakukan apa yang ia lakukan ketika jalan resmi buntu: ia mengakali, tanpa melanggar. Ia menelepon Dinas, bukan untuk memohon, tapi membawa data—catatan pengkajian Sutejo, foto luka, riwayat distonia akut, dan argumen klinis bahwa pasien ini justru paling berisiko putus obat dan paling mahal jika kambuh sampai harus rawat inap darurat. "Lebih murah satu suntikan sebulan daripada satu kali rawat inap kegawatan," katanya pada petugas di seberang, dengan nada seorang yang menawar pakai logika anggaran karena tahu hanya itu bahasa yang didengar. "Dan kalau dia kambuh terus dipasung lagi sampai mati, itu jadi angka kematian ODGJ di wilayah Bapak. Saya yakin Bapak nggak mau angka itu naik tahun ini."
Butuh tiga telepon, satu surat resmi yang ditandatangani dr. Pram, dan kesabaran yang membuat Rani harus menghitung sampai sepuluh dua kali. Tapi akhirnya, satu ampul haloperidol dekanoat dialokasikan—dengan catatan Sutejo harus diproses untuk verifikasi RSJ dalam tiga bulan ke depan, sebuah utang administratif yang Rani terima dengan lega.
Suntikan pertama diberikan di gudang yang kini sudah bukan gudang pasung—Pak Darmin telah membersihkannya, mengganti dipan bambu dengan kasur tipis, memasang lampu. Rani menyiapkan injeksi di otot bokong Sutejo, menjelaskan tiap langkah seperti biasa. "Ini sebulan sekali, Pak. Jadi Bapak nggak usah inget minum tiap hari. Cukup saya datang sebulan sekali, suntik, selesai."
Bu Surti, yang berdiri menonton dengan tangan terlipat, tiba-tiba menangis—bukan tangis sedih. "Jadi saya nggak usah was-was tiap pagi dia lupa minum?" Selama berminggu, perempuan itu hidup dengan ketakutan kecil yang menggerogoti: lupa satu butir, salah hitung, dan anaknya kembali ke jurang. Beban tak terlihat itu, yang tak pernah ia ucapkan, baru saja terangkat.
Sutejo meringis saat jarum masuk, tapi tak menarik diri. Dan kemudian, sesuatu yang membuat Rani menahan napas.
Dalam minggu-minggu sejak kayu dilepas untuk kedua kalinya, Yoga telah datang dua kali seminggu melatih kaki itu—gerakan kecil, regangan, memapahnya beberapa langkah. Sore itu, setelah suntikan, Sutejo memegang tepi kasur, mendorong dirinya berdiri, dan—dengan kaki yang dulu hanya tulang, sendi yang dulu kaku ke satu posisi—ia melangkah. Satu langkah. Lalu, dengan tubuh gemetar dan napas tertahan, langkah kedua. Tanpa dipapah. Tanpa berpegangan.
Dua langkah. Di gudang tempat ia belasan tahun tak bisa berdiri.
Rani tak bertepuk tangan. Ia tahu Sutejo akan malu pada perhatian. Ia hanya berkata, dengan suara yang ia jaga tetap biasa seolah ini hal sehari-hari, "Bagus, Pak. Besok kita coba tiga." Tapi di dalam dadanya, dua langkah itu terasa lebih besar daripada seluruh laporan dan surat dan argumen anggaran yang ia perjuangkan—karena dua langkah itu adalah satu-satunya bahasa yang tak bisa dibantah oleh kuota mana pun di provinsi mana pun: tubuh yang, pelan-pelan, ingat caranya jadi bebas.