Mobil hitam itu membawa rombongan yang mengubah seluruh suasana akademi dalam sehari. Mereka datang dari maskapai nasional—divisi rekrutmen dan pengembangan penerbang—membawa kabar yang sudah lama dinanti seluruh angkatan: program magang. Sejumlah kecil cadet terbaik akan dipilih untuk masuk ke dunia maskapai sungguhan, menjalani pelatihan tipe pesawat jet komersial, dan jika lolos, menjadi first officer—kopilot—termuda yang pernah direkrut.
Aula utama ADN penuh sesak. Sekar duduk di antara Dian, Aulia, Galang, dan Nadira, jantungnya berdebar. Di panggung, seorang pejabat maskapai berseragam rapi menjelaskan program itu, dan di belakangnya, di kursi kehormatan, duduk sosok yang membuat seluruh aula bergeming: seorang pria berwibawa, berambut perak rapi, dengan tatapan tajam yang menyapu ruangan seperti elang.
"Itu dia," bisik Aulia. "Direktur operasional. Yang menentukan siapa yang diterima."
Sekar menatap pria itu lebih lama. Ada sesuatu yang familiar pada bentuk rahang dan kerutan di antara alisnya. Lalu ia melihat Rangga, yang duduk beberapa baris di depan, menegakkan punggungnya dengan kaku, tidak berani menoleh ke belakang. Dan Sekar menyadari: pria di atas panggung itu adalah ayah Rangga.
Pejabat maskapai melanjutkan. "Seleksi magang akan didasarkan pada peringkat akademik, penilaian instruktur terbang, tes psikologi tambahan, dan wawancara dengan dewan maskapai. Daftar pendek akan diumumkan minggu depan. Dari daftar pendek, hanya enam yang akan diterima ke program."
Enam. Dari seluruh angkatan. Bisik-bisik gelisah menjalar di aula.
Setelah presentasi, ada sesi ramah-tamah. Para cadet teratas dipersilakan memperkenalkan diri pada rombongan maskapai—momen yang bisa menentukan kesan pertama. Sekar berdiri canggung di tepi kerumunan, masih merasa seperti anak nelayan dengan sandal jepit di antara anak-anak kota berkemeja licin, meskipun kini ia mengenakan seragam cadet yang sama dengan mereka.
"Kau Sekar Wulandari," kata sebuah suara.
Sekar berbalik. Ayah Rangga berdiri di hadapannya, lebih tinggi dari yang ia kira, matanya menatap menusuk. Aula seolah menyusut menjadi mereka berdua.
"Iya, Pak," kata Sekar, menjaga suaranya tetap tenang.
"Aku tahu namamu," kata pria itu, nadanya datar dan sulit dibaca. "Anak nelayan dari Pantai Cemara. Kursi terakhir di seleksi beasiswa. Sekarang peringkat puncak angkatan, bersaing dengan anakku." Ia memiringkan kepala sedikit. "Rangga banyak bercerita tentangmu."
Sekar tak tahu apakah itu pujian atau ancaman. Ia hanya menatap balik, tidak menunduk, mengingat bahwa langit tidak menanyakan siapa ayahmu.
"Saya cuma ingin terbang, Pak," kata Sekar. "Sama seperti semua orang di ruangan ini."
"Tidak," kata ayah Rangga pelan, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang tak terbaca melintas di wajahnya. "Tidak semua orang sama. Ada yang terbang karena warisan. Ada yang terbang karena tekanan. Dan ada yang terbang karena tak punya jalan lain." Ia menatap Sekar lekat-lekat. "Yang terakhir itu yang paling berbahaya. Mereka tidak bisa ditawar dengan apa pun, karena mereka tidak punya apa-apa untuk hilang selain mimpi mereka."
Ia berbalik dan pergi sebelum Sekar sempat menjawab, meninggalkan kalimat itu menggantung di udara seperti awan badai.
Malam itu, di asrama, Rangga menghampiri Sekar untuk pertama kalinya tanpa diminta.
"Ayahku bicara sama kamu," katanya. Bukan pertanyaan.
"Iya."
Rangga menarik napas. "Dengar. Apa pun yang dia bilang, hati-hati. Dia nggak datang ke sini cuma buat seleksi. Dia datang buat memastikan aku masuk daftar enam itu—berapa pun harganya." Suaranya pahit. "Dan kalau kamu jadi penghalang, dia bakal main di belakang layar. Aku kenal dia. Aku malu mengakuinya, tapi aku kenal dia."
Sekar menatap rivalnya yang kini, anehnya, memperingatkannya. "Kenapa kamu kasih tahu aku ini?"
Rangga menatap lantai lama sebelum menjawab. "Karena aku capek menang dengan cara yang bukan punyaku sendiri," katanya pelan. "Kalau aku masuk daftar enam, aku mau masuk karena aku pantas. Bukan karena ayahku menyingkirkan anak nelayan dari jalanku."
Ia pergi tanpa menunggu balasan. Sekar duduk di tepi kasur tingkatnya, memandang langit malam lewat jendela. Daftar pendek diumumkan minggu depan. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa langit yang ia kejar tidak hanya dipenuhi badai dan kabut—tapi juga oleh kekuatan-kekuatan di bumi yang akan menentukan siapa yang diizinkan terbang, dan siapa yang ditahan di bawah.