Modul multi-engine adalah lompatan yang dirasakan seluruh angkatan. Bukan lagi pesawat latih ringan bermesin tunggal yang memaafkan, melainkan pesawat dengan dua mesin—lebih bertenaga, lebih cepat, lebih kompleks, dan jauh lebih tidak memaafkan. Karena dengan dua mesin datang skenario paling ditakuti dalam pelatihan: kegagalan satu mesin saat lepas landas, ketika pesawat ingin berputar dan terbalik karena tenaga yang tidak seimbang.
"Mesin mati di darat itu masalah," kata Kapten Sudrajat di briefing. "Mesin mati di udara, di pesawat dua mesin, di kecepatan rendah—itu yang memisahkan pilot dari mantan pilot. Kalian harus menjinakkan pesawat yang ingin membunuh kalian dalam tiga detik."
Sekar dan Dian, dua nama teratas angkatan, dijadwalkan dalam kloter latihan yang sama. Persaingan di antara mereka kini sehat tapi nyata—papan peringkat angkatan menempatkan nama mereka bergantian di posisi puncak, kadang Sekar, kadang Dian, terpaut hitungan kecil.
"Aku dengar kamu dapat nilai sempurna di prosedur darurat tertulis," kata Dian saat mereka berjalan ke pesawat, nadanya bercanda tapi matanya serius.
"Dan aku dengar kamu yang tercepat di simulator engine-out," balas Sekar, tersenyum. "Kita imbang."
"Belum," kata Dian. "Tapi hari ini aku mau menang."
Mereka tertawa, tapi keduanya tahu di balik canda itu ada sesuatu yang nyata. Maskapai akan datang menyeleksi sebentar lagi. Peringkat puncak bukan lagi soal gengsi—itu tiket menuju masa depan.
Giliran Sekar tiba. Pesawat bermesin ganda itu terasa berbeda di tangannya—lebih berat, lebih bertenaga, hidup dengan cara yang lain. Ia lepas landas, naik dengan kedua mesin meraung. Lalu, tanpa peringatan, Kapten Sudrajat menarik salah satu tuas tenaga ke posisi idle—mensimulasikan kegagalan mesin kiri tepat setelah lepas landas.
Pesawat langsung berontak. Tenaga yang hanya datang dari satu sisi mendorong hidung membelok keras ke kiri, sayap mulai turun, dan dalam sekejap pesawat ingin berputar ke arah mesin yang mati—dorongan yang, jika dibiarkan, akan mengubah pesawat menjadi gasing yang jatuh.
Tapi tangan dan kaki Sekar sudah bergerak sebelum pikirannya selesai berkata. Kaki kanan menginjak pedal kemudi keras—melawan putaran. Hidung diluruskan. Sayap distabilkan. Mantra latihan berputar di kepalanya secepat refleks: *kendalikan pesawat, identifikasi mesin mati, verifikasi, amankan.* Lengan kirinya ngilu menahan kontrol, tapi ia tak menyerah pada rasa sakit itu.
"Dead foot, dead engine," gumamnya—kaki yang tidak menekan menunjuk mesin yang mati. Kaki kirinya ringan; mesin kiri yang mati. Ia memverifikasi, lalu menjalankan prosedur mengamankan mesin yang gagal sambil terus mempertahankan pesawat tetap lurus dan naik dengan satu mesin tersisa.
Pesawat itu, yang sedetik lalu ingin membunuhnya, kini patuh—merangkak naik perlahan dengan setengah tenaganya, stabil di tangan Sekar.
"Bagus," kata Sudrajat, suaranya tenang—yang dari dia adalah pujian tertinggi. "Reaksimu di bawah dua detik. Kakimu bergerak sebelum otakmu. Itu artinya kau sudah berlatih sampai tubuhmu yang ingat, bukan cuma kepalamu." Ia mengembalikan tenaga mesin. "Bawa pulang."
Saat mereka mendarat, Dian sudah menunggu di apron, dan dari wajahnya Sekar tahu temannya juga lulus dengan gemilang. Keduanya berdiri di bawah sayap pesawat, masih dengan adrenalin di darah.
"Dua detik?" tanya Dian.
"Kata Kapten Sudrajat begitu."
Dian mendengus, lalu tersenyum lebar. "Aku satu setengah."
Sekar terbahak. Persaingan itu ada, nyata, membara—tapi tak ada racun di dalamnya. Mereka saling mendorong menjadi lebih baik, bukan saling menjatuhkan.
"Kamu tahu yang lucu?" kata Dian sambil melepas helmnya, rambutnya lepek oleh keringat. "Dulu di hari pertama tes, aku ngeliat kamu dan mikir, anak ini bakal jadi temanku atau lawanku. Ternyata kamu jadi dua-duanya. Dan itu yang bikin aku makin pintar tiap hari."
"Sama," kata Sekar. "Kalau cuma aku sendirian, aku bakal puas terlalu cepat. Kamu yang bikin aku nggak pernah berhenti ngejar."
Mereka berjalan kembali ke asrama bersama, dua perempuan muda dengan dua mesin yang baru saja mereka taklukkan, dua nama yang bergantian di puncak papan peringkat. Persahabatan dan persaingan, dua tenaga yang—seperti dua mesin pesawat itu—mendorong mereka ke arah yang sama, lebih jauh dan lebih cepat dari yang bisa dicapai salah satu sendirian.
Tapi di kejauhan, terparkir di apron VIP akademi, sebuah mobil hitam mengkilap baru saja tiba. Di pintunya tercetak logo sayap maskapai nasional. Sekar memandanginya, dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa langit yang mereka kejar sebentar lagi tidak hanya soal terbang—tapi soal siapa yang akan dipilih untuk terbang lebih jauh.