Empat jam ke utara, kembali ke kota, kembali ke akademi. Tapi langit yang sama kini terasa berbeda di mata Sekar. Ia membawa pulang sesuatu yang lebih berat dari ransel: restu Bapak, dan gelang tali jangkar di pergelangan tangannya.
Namun begitu gerbang ADN terlihat, kenyataan lain langsung menampar. Tiga hari absen di akademi penerbangan bukan tiga hari biasa. Tiga hari berarti tertinggal: dua bab navigasi udara, satu sesi praktik perencanaan rute, dan—yang paling menyakitkan—evaluasi terbang yang ditunda Kapten Wibisana, kini menumpuk dengan jadwal regulernya.
Di papan pengumuman, namanya tertera di bawah daftar cadet yang harus menghadap bagian akademik. Sekar menelan ludah dan pergi menghadap.
"Wulandari," kata petugas akademik, seorang perempuan berkacamata dengan tumpukan map. "Kamu absen tiga hari di periode kritis. Izin darurat keluarga kamu sah, jadi kamu nggak kena sanksi disiplin. Tapi materi yang kamu lewatin nggak bisa diputar ulang. Ujian navigasi besar lusa. Evaluasi terbang minggu depan. Standarnya sama untuk semua, nggak ada keringanan nilai." Ia menatap Sekar di balik kacamata. "Terus terang, dengan kondisi kamu sekarang, peluang lulus ujian navigasi itu kecil. Saran saya, kamu siap-siap mental."
Sekar keluar dari ruangan itu dengan dada berat. Di koridor, Rangga bersandar di dinding, lengan terlipat, menyeringai tipis.
"Denger-denger kamu kabur tiga hari," kata Rangga. "Sayang banget. Padahal solo kamu lumayan kemarin." Ia mendekat. "Tapi di akademi ini, satu langkah ketinggalan itu fatal. Anak pantai nggak punya bantal cadangan, kan? Satu nilai jeblok, beasiswa melayang." Ia menjentikkan jari. "Kayak gitu."
Sekar tidak menjawab. Ia sudah belajar bahwa membalas Rangga hanya membuang tenaga yang ia tak punya. Ia melewati Rangga dan berjalan ke perpustakaan.
Malam itu, dan malam-malam berikutnya, Sekar tidak tidur lebih dari tiga jam. Ia melahap dua bab navigasi yang tertinggal—perhitungan arah angin, koreksi penyimpangan, perencanaan rute dengan titik bahan bakar. Otaknya yang lelah berontak; angka-angka berkabur di depan mata. Tapi tiap kali ia ingin menyerah, ia meraba gelang tali jangkar di pergelangannya, dan terdengar suara Bapak: Jangan tinggalin sekolah kamu gara-gara Bapak.
Ia teringat soal jebakan nomor 37 di tes tertulis dulu—headwind, angin sakal, 480 knot dikurangi 40. Ia mengerjakannya dengan benar saat itu, dengan tangan gemetar dan perut lapar. Kalau ia bisa melakukannya dulu, ia bisa melakukannya sekarang.
Tapi navigasi tingkat ini jauh lebih rumit. Wind triangle, ground speed, true heading versus magnetic heading. Ia membuat kesalahan, lagi dan lagi, sampai pukul dua pagi, sampai matanya panas dan tangan kirinya ngilu karena dingin perpustakaan ber-AC.
Dian menemukannya tertidur di meja perpustakaan menjelang subuh, kepala di atas buku navigasi yang terbuka, pulpen masih di tangan.
"Sekar," Dian membangunkannya pelan.
Sekar tersentak bangun. "Aku ketiduran. Berapa lama? Aku harus—"
"Kamu nggak bisa gini terus," kata Dian, wajahnya khawatir. "Kamu bakal tumbang sebelum ujian. Kamu nggak makan, nggak tidur."
"Aku nggak punya pilihan, Di." Suara Sekar serak. "Aku ketinggalan tiga hari. Mereka nggak bakal ngasih keringanan. Kalau aku gagal navigasi lusa, beasiswaku bener-bener di ujung tanduk." Ia menggosok matanya. "Aku udah janji sama Bapak. Aku nggak boleh nyerah. Tapi aku..." Suaranya tercekat. "Aku nggak yakin bisa ngejar semuanya sendirian dalam dua hari, Di."
Dian menatap sahabatnya yang kelelahan, lalu menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Ia membuka tasnya sendiri, mengeluarkan catatan navigasinya yang rapi dan lengkap.
"Siapa bilang sendirian?" kata Dian.