Ujian terbang resmi pertama tinggal dua hari lagi. Bukan latihan biasa—ini ujian yang dinilai instruktur senior, yang hasilnya masuk ke catatan akademik dan menentukan apakah seorang cadet boleh maju ke tahap berikutnya. Seluruh angkatan tegang.
Sekar menyiapkan perlengkapannya dengan teliti malam sebelumnya. Tasnya berisi headset, kneeboard dengan checklist, plotter navigasi, peta rute, dan—paling penting—kalkulator penerbangan miliknya. Sebuah alat hitung bundar yang sudah usang, pemberian Dian di awal masuk akademi, yang Sekar pakai untuk menghitung kecepatan, jarak, bahan bakar. Ia meletakkan semuanya rapi di loker, mengunci pintu loker, dan tidur lebih awal.
Pagi ujian, ia membuka loker. Dan jantungnya jatuh.
Headsetnya—kabelnya terpotong. Bukan putus karena tua. Dipotong rapi dengan sesuatu yang tajam, lalu disambung pura-pura biar tidak langsung ketahuan. Plotter navigasinya retak di tengah, garis-garis skalanya tak bisa lagi dibaca dengan akurat. Dan kalkulator penerbangan pemberian Dian—cincin putarnya dilem, macet total, tak bisa diputar.
Tangan Sekar gemetar memegang headset yang rusak itu. Loker terkunci. Hanya ada satu kunci, ada padanya. Berarti seseorang membukanya—entah dengan menyalin kunci, atau membuka paksa lalu menutup kembali dengan rapi.
"Sekar?" Aulia datang, melihat wajahnya yang pucat. "Kamu kenapa—oh." Matanya membelalak melihat isi loker. "Astaga. Siapa yang—"
"Diam dulu," bisik Sekar, melihat sekeliling lorong yang mulai ramai cadet bersiap. Ia tidak mau membuat keributan tepat sebelum ujian. Itu justru bisa membuatnya terlihat panik, tidak siap.
Di ujung lorong, Rangga lewat. Ia melirik loker Sekar yang terbuka, melihat perlengkapan yang rusak, dan di bibirnya tersungging senyum tipis—senyum yang muncul terlalu cepat, terlalu pas, untuk orang yang baru pertama kali tahu.
"Wah," kata Rangga santai, melambatkan langkah. "Sayang banget ya. Padahal hari penting. Semoga ada gantinya." Ia berlalu, dan senyum itu masih menempel di wajahnya.
Aulia mengepalkan tangan. "Itu dia. Pasti dia. Lihat mukanya—"
"Kita nggak punya bukti," potong Sekar pelan. Suaranya tenang, tapi rahangnya terkatup. "Loker terkunci. Nggak ada yang lihat. Senyum bukan bukti, Aul. Kalau aku nuduh tanpa bukti, justru aku yang kena—dibilang nyari kambing hitam karena takut ujian."
"Jadi kamu mau diam aja?" Aulia tak percaya.
Sekar menatap perlengkapan yang rusak itu sejenak. Lalu sesuatu mengeras di dalam dirinya. Bukan amarah—atau bukan hanya amarah. Tekad.
"Aku nggak diam," katanya. "Tapi aku nggak akan kasih dia kepuasan ngeliat aku ribut. Dia mau aku panik, gagal ujian, terus keliatan kayak anak kampung yang nggak siap. Aku nggak akan kasih itu."
Ia menutup loker. Berpikir cepat. Ujian dimulai empat puluh menit lagi.
"Headset cadangan—koperasi tutup jam segini. Tapi Galang punya dua. Dian punya plotter ekstra, dia selalu bawa cadangan, dasar anak kota teliti." Sekar mulai bergerak, suaranya cepat tapi terkendali. "Kalkulator... aku nggak butuh kalkulator."
Aulia mengikutinya. "Maksudnya?"
"Aku udah ngitung navigasi pakai kepala sebelum aku pernah pegang kalkulator itu." Sekar hampir tersenyum. "Headwind, waktu tempuh, bahan bakar—aku bisa kira-kira di kepala, persis kayak waktu tes tertulis dulu. Kalkulator cuma buat ngepasin angka. Tapi rasanya, aku udah punya."
Galang menyerahkan headset cadangannya tanpa banyak tanya begitu mendengar kabar. Dian, wajahnya memerah marah saat melihat kalkulator pemberiannya dirusak, menyerahkan plotter cadangannya dengan tangan gemetar menahan amarah.
"Ini keterlaluan," desis Dian. "Ini bukan iseng, Sekar. Ini niat banget mau kamu gagal. Ini harus dilaporin."
"Nanti," kata Sekar, memasang headset Galang, mengecek kabelnya. "Setelah ujian. Sekarang, satu-satunya balasan yang bener buat orang yang pengen aku gagal..." Ia menyelempangkan tas, menegakkan punggung. "...adalah lulus."
Ia berjalan menuju hanggar dengan perlengkapan pinjaman, lengan kirinya yang mulai ngilu disembunyikan, fobia air yang akan menunggu di rute, dan sabotase yang membara di belakangnya. Tiga beban di pundak satu anak nelayan.
Tapi langkahnya tidak goyah.