Program Instruktur Bayu mulai membuahkan hasil. Sekar masih merasakan dingin merayap setiap kali laut muncul di bawah sayap, tapi kini ia punya senjata—tarikan napas panjang dari paru-paru juaranya, daftar tugas untuk dikerjakan, daratan yang selalu sengaja ditaruh dalam jarak pandang. Ketakutan itu seperti penumpang yang ikut naik, tapi tak lagi memegang kemudi.
Lalu datang masalah lain. Masalah yang tidak ada dalam program siapa pun.
Latihan navigasi siang itu membawa mereka naik ke ketinggian tujuh ribu kaki—lebih tinggi dari biasanya. Di luar, suhu turun tajam. Kabin pesawat latih kecil itu tidak punya penghangat yang mumpuni. Udara dingin merembes lewat sela-sela, menggigit jari-jari di yoke.
Dan di sanalah, di lengan kiri Sekar, dari bekas patah tulang tiga tahun lalu, rasa ngilu itu bangkit.
Mula-mula hanya nyeri tumpul di sekitar bekas sambungan. Lalu menyebar—menjalar ke pergelangan, ke jari-jari. Tulang yang dulu disambung dukun patah tulang kampung, yang penyambungannya tidak sempurna meski stabil, kini berdenyut dingin seperti diiris angin.
Sekar menggigit bibir. Tangan kirinya yang memegang throttle melemah. Saat Instruktur Bayu memintanya melakukan belok terkoordinasi, gerakannya sedikit kaku, sedikit terlambat.
"Wulandari, tanganmu lambat di belokan tadi," kata Instruktur Bayu, mencatat. "Capek?"
"Nggak, Pak. Cuma kurang fokus tadi." Sekar memaksakan suaranya tenang. Tapi di dalam, kepanikan baru menjalar—bukan panik laut, tapi panik yang lebih buruk: takut digugurkan.
Ia tahu betul apa artinya catatan medis di rekam medisnya. Dokter penerbangan dulu meloloskannya dengan catatan: penyambungan tidak sempurna, tapi stabil, fungsi gerak penuh. Selama fungsi gerak penuh, ia aman. Tapi kalau ada laporan bahwa lengannya melemah saat dingin, saat memegang kontrol—itu bisa jadi alasan untuk membatasi sertifikasinya. Atau lebih buruk.
Standar medis penerbangan tidak mengenal belas kasihan. Itu untuk keselamatan ratusan nyawa. Sekar tahu itu adil. Tapi adil tidak membuatnya kurang menakutkan.
Maka ia menyembunyikannya. Sepanjang sisa penerbangan, ia menggunakan tangan kanannya lebih banyak, mengompensasi diam-diam, menahan ngilu dengan rahang terkatup. Saat mendarat, ia menyembunyikan tangan kirinya yang kaku di balik punggung, memijatnya pelan-pelan di hanggar saat tak ada yang melihat.
"Kamu kenapa?" Dian menyusulnya di lorong asrama sore itu. Mata sahabatnya yang tajam langsung menangkap cara Sekar menggenggam lengan kirinya. "Tanganmu sakit?"
"Nggak," kata Sekar terlalu cepat. Lalu, melihat tatapan Dian yang tak percaya, ia mengalah sebagian. "Cuma pegel. Kelamaan megang kontrol."
Dian tidak yakin, tapi ia tidak memaksa. Ia hanya berkata pelan, "Sekar. Aku nggak tahu apa yang kamu sembunyiin. Tapi nyembunyiin sesuatu di tempat kayak gini... itu yang bikin orang jatuh. Bukan tangannya. Tapi diamnya."
Sekar tidak menjawab. Malam itu ia berbaring di kasur tingkatnya, memijat lengan kiri yang masih berdenyut samar, menatap langit-langit.
Ia ingat suara Instruktur Bayu di hanggar: *yang bahaya itu penerbang yang nyembunyiin apa yang dia takutin.* Ia baru saja membongkar satu rahasia—fobia air—dan rasanya melegakan, seperti meletakkan beban. Tapi ini rahasia berbeda. Ini bukan soal takut. Ini soal tubuhnya sendiri yang mungkin tidak cukup untuk mimpinya.
Mengaku soal fobia air bisa diobati dengan program. Mengaku soal lengan yang melemah—itu bisa jadi akhir dari semuanya.
Maka untuk sekarang, ia memilih diam. Ia memesan koyo hangat dari koperasi, menempelkannya diam-diam di lengan kiri sebelum tiap penerbangan ketinggian. Ia berlatih memperkuat tangan kanannya. Ia berjudi pada satu hal: bahwa selama ngilu itu tidak pernah benar-benar membuatnya kehilangan kendali, ia bisa membawanya sendiri.
Tapi di luar jendela asrama, musim mulai berganti. Udara malam makin dingin. Dan jadwal latihan ketinggian tinggi—di mana udara membeku dan tulangnya menjerit—baru saja dimulai.