Warnet Pak Hasan adalah satu-satunya di kampung yang masih buka. Komputernya tua, kipasnya berisik, dan koneksinya kadang putus di tengah unggahan. Tapi bagi Sekar, ruangan pengap berbau rokok itu adalah jendela menuju dunia.
"Setengah jam, Pak," kata Sekar, menyerahkan uang receh hasil bantu warung Bu Lurah.
Pak Hasan, lelaki gemuk berkumis, menatap koin-koin itu lalu menghela napas. "Buat lihat pesawat lagi?"
Sekar tersenyum kecil, tak membantah.
Ia duduk di bilik nomor empat, bilik favoritnya karena layarnya paling jelas. Jari-jarinya yang kasar mengetik pelan di keyboard yang sebagian hurufnya sudah hilang. Ia mengetik kata yang sama seperti biasa: sekolah pilot Indonesia.
Hari ini ada yang berbeda. Di urutan teratas, muncul iklan dengan logo sayap emas. "Akademi Penerbangan Dirgantara Nusantara — Beasiswa Penuh Calon Penerbang Berprestasi 2026."
Jantung Sekar berhenti sejenak.
Beasiswa. Penuh.
Ia mengklik tautan itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Halaman terbuka lambat, memuat satu per satu, tapi Sekar membaca setiap baris seolah hidupnya bergantung di sana.
Akademi Dirgantara Nusantara, atau orang menyebutnya ADN, adalah sekolah penerbangan paling bergengsi di negeri ini. Lulusannya menerbangkan pesawat-pesawat besar maskapai nasional, bahkan beberapa jadi pilot tempur. Dan tahun ini, untuk pertama kalinya, mereka membuka sepuluh kursi beasiswa penuh. Gratis. Termasuk asrama dan jam terbang.
Syaratnya membuat Sekar menahan napas: lulus SMA atau sederajat, usia maksimal sembilan belas tahun, sehat jasmani, dan—lolos serangkaian tes seleksi.
Tes tertulis. Tes fisik. Tes psikologi. Tes kesehatan penerbangan. Wawancara.
Sekar mencatat semuanya di balik kertas bekas dengan pulpen yang tintanya hampir habis. Tangannya bergerak cepat, takut waktu setengah jamnya habis sebelum ia selesai. Pendaftaran ditutup tiga minggu lagi. Tesnya di kota provinsi, empat jam naik bus dari kampung.
"Pak Hasan," panggil Sekar tiba-tiba, suaranya bergetar antara takut dan berharap. "Bisa di-print satu halaman?"
"Seribu rupiah."
Sekar merogoh sakunya. Masih ada. Ia mengangguk cepat.
Printer tua itu mendengung, lalu meludahkan selembar kertas. Sekar memegangnya dengan dua tangan, seolah memegang sesuatu yang rapuh. Di kertas itu tercetak logo sayap emas, dan kalimat yang membuat dadanya panas: "Langit tidak menanyakan dari mana kamu datang. Langit hanya menanyakan: beranikah kamu terbang?"
Ia membacanya tiga kali.
Dalam perjalanan pulang, kertas itu ia lipat hati-hati dan ia selipkan di dalam bukunya yang lecek. Sepanjang jalan, kakinya seakan tidak menyentuh tanah.
Tapi begitu sampai di depan rumah panggung, langkahnya melambat. Dari celah dinding, ia mendengar suara Bapak dan Ibu bicara pelan.
"...utang ke koperasi belum lunas," kata Bapak. "Mesin perahu juga rewel."
"Aku tahu," sahut Ibu. "Aku cuma takut Sekar makin jauh mikirnya. Dia anak pinter, Pak. Tapi mimpinya itu..."
Sekar berdiri diam di anak tangga. Kertas di dalam bukunya terasa seberat batu.
Ia menarik napas, mengusap wajahnya, lalu naik dengan langkah yang dibuat seringan mungkin.
"Sudah pulang?" Ibu menoleh, tersenyum capek.
"Iya, Bu."
Malam itu Sekar tidak naik ke atap. Ia berbaring di amben, menatap langit-langit kayu, dan kertas brosur itu ia genggam di dada.
Beasiswa penuh. Gratis.
Tidak ada alasan soal uang. Tinggal satu hal yang menghalanginya sekarang: keberanian untuk mengatakannya pada Bapak.
Dan itu, entah kenapa, terasa lebih menakutkan daripada lautan yang paling dalam sekalipun.