Sebelum matahari naik, Pantai Cemara sudah penuh suara. Mesin perahu menggeram, jaring berdebum di atas pasir, dan para perempuan berebut menawar ikan dengan suara melengking. Sekar mengenal semua bunyi itu seperti mengenal degup jantungnya sendiri. Ia lahir di tengah suara-suara ini, di rumah panggung kayu yang dindingnya tak pernah benar-benar kering dari uap laut.
"Sekar! Ember yang itu jangan ditinggal!" teriak Bapak dari haluan perahu.
Sekar mengangkat ember penuh ikan kembung, otot lengannya menegang. Umurnya tujuh belas, tetapi tangannya sudah kasar seperti tangan perempuan empat puluh. Ia membawa ember itu ke tepi, menumpahkannya ke keranjang anyaman, lalu kembali lagi. Pulang-balik. Setiap pagi. Sejak ia bisa berjalan.
Di langit timur, semburat jingga mulai pecah. Dan di antara semburat itu, Sekar melihatnya lagi.
Sebuah titik perak.
Pesawat itu melintas tinggi, meninggalkan garis putih lurus yang membelah langit menjadi dua. Sekar berhenti. Ember di tangannya ikut berhenti, air menetes dari dasarnya ke pasir basah. Ia mendongak, mulutnya sedikit terbuka, menatap garis putih itu sampai ujungnya larut.
"Mikirin apa lagi, kamu?" Suara Bapak terdengar di belakangnya, separuh menegur, separuh lelah.
"Nggak, Pak." Sekar buru-buru menurunkan dagunya.
Tapi Bapak sudah tahu. Bapak selalu tahu. Lelaki bertubuh kering itu mengikuti arah pandang Sekar tadi, ke langit yang sekarang sudah kosong.
"Burung besi," gumam Bapak. "Bukan buat kita."
Sekar tidak menjawab. Ia hanya memunguti ember kosong dan kembali bekerja, tapi telinganya masih menyimpan gemuruh halus tadi, gemuruh yang entah bagaimana terdengar seperti panggilan.
Di rumah, setelah ikan terjual dan keringat mengering jadi kerak garam di kulit, Sekar duduk di amben bambu sambil membuka buku tipis yang sudah lecek di sudut-sudutnya. Buku itu ia dapatkan dari kotak sumbangan perpustakaan keliling tiga tahun lalu. Judulnya "Mengenal Dunia Penerbangan". Halamannya menguning, beberapa robek, tapi Sekar hafal isinya nyaris kata per kata.
Aerodinamika. Gaya angkat. Sayap. Throttle. Kata-kata asing yang ia eja pelan-pelan, seolah mengeja mantra.
"Sekar." Ibu muncul dari dapur, membawa secangkir teh tawar. "Besok Bu Lurah cari yang bantu di warung. Lumayan, harian."
Sekar menutup bukunya. "Iya, Bu."
Ibu menatap buku itu sebentar. Wajah perempuan itu lembut, tapi ada sesuatu yang capek di matanya. "Buku itu lagi."
"Cuma baca, Bu."
"Mimpi itu," kata Ibu, hati-hati, seperti memegang gelas retak, "kadang lebih berat daripada perahu, Nak. Bapakmu nggak bilang apa-apa, tapi dia khawatir. Sekolah pesawat itu... orang kayak kita nggak ada di situ."
Sekar diam. Ia tahu Ibu benar. Ia sudah cukup sering melihat brosur sekolah penerbangan di internet warnet, melihat angka-angka biaya yang membuatnya pusing. Ratusan juta. Lebih dari yang bisa dihasilkan perahu Bapak dalam sepuluh tahun. Lebih dari yang masuk akal untuk dipikirkan oleh anak nelayan dari Pantai Cemara.
Tapi malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Sekar tetap naik ke atap rumah panggung lewat tangga bambu yang reyot. Ia berbaring di sana, di antara genteng dan langit, dan menatap bintang-bintang.
Pesawat malam melintas lagi. Lampu kerlip merah dan hijaunya bergerak pelan di antara rasi bintang. Sekar mengangkat tangannya, menutup pesawat itu dengan ibu jari, lalu membukanya lagi.
"Suatu hari," bisiknya, hampir tak terdengar, "aku yang di atas sana."
Angin laut membawa suara ombak. Dan jauh di dalam dada Sekar, gemuruh halus itu kembali terdengar—bukan dari langit, tapi dari dirinya sendiri.
Ia belum tahu caranya. Ia belum tahu jalannya. Tapi ia tahu satu hal dengan pasti, sepasti garam yang menempel di kulitnya: ia tidak ingin menghabiskan seluruh hidupnya hanya menatap ke atas.
Suatu hari, ia ingin menatap ke bawah.