Bertahun-tahun kemudian, pada penerbangan yang biasa, Tiara duduk di kursi penumpang 24A — menuju kota tempat Kira kini kuliah, dengan Dimas di sebelahnya yang tertidur sejak lepas landas, dengan rambut yang sudah mulai beruban di pelipisnya.
Pagi sebelum penerbangan itu adalah pagi yang penuh dengan hal-hal kecil yang direncanakan dengan khas keluarga itu. Dimas mengemas dengan checklist — kebiasaan yang tidak pernah hilang — sementara Tiara membuatkan bekal untuk Kira dengan daftar yang ia tulis di kertas: hal-hal yang hanya bisa dibawakan ibu dari rumah. Di bandara, mereka berdiri di antrean check-in seperti dua penumpang biasa — dan Tiara memperhatikan petugas-petugas muda di balik konter dengan mata yang tidak bisa dimatikan, dan Dimas berbisik, 'Kamu sedang menilai mereka lagi.' 'Aku tidak menilai,' bisik Tiara. 'Aku berharap. Ada bedanya.' Di ruang tunggu, seorang pramugari muda lewat dengan langkah cepat yang terlatih, dan Tiara menangkap sekilas lencananya, dan menyadari sesuatu yang membuatnya tersenyum sendiri: tidak ada satu pun yang mengenalinya. Bertahun-tahun lalu hal itu akan menyakitinya — gadis yang menandatangani dengan tangan gemetar itu ingin sekali dikenal. Kini ia duduk di ruang tunggu dengan damai orang yang sudah selesai dengan kebutuhan itu: tidak dikenal adalah bukti bahwa pekerjaannya selesai dengan benar. Pekerjaan yang benar tidak meninggalkan wajah. Ia hanya meninggalkan sistem yang berjalan — dan sistem itu sedang berjalan di sekelilingnya, di antrean ini, di lorong-lorong itu, di tangan-tangan muda yang tidak mengenalnya, dengan sempurna. 'Kamu tersenyum apa?' tanya Dimas. 'Tidak ada,' jawab Tiara. 'Aku hanya sedang memeriksa dunia. Dan dunia masih berjalan dengan benar.' Dimas memandanginya sebentar, lalu menggenggam tangannya — dan mereka duduk menunggu panggilan boarding dengan tenang, dua orang tua yang akhirnya menjadi penonton dari pertunjukan yang pernah mereka perankan, dan menemukan bahwa kursi penonton itu, setelah seluruh perjalanan, ternyata adalah kursi yang paling nyaman di gedung ini.
Ia memperhatikan awak kabin itu sebagaimana ia tidak pernah bisa berhenti memperhatikannya: dua perempuan muda, gesit, dengan senyum yang sudah menemukan bentuknya. Dan ketika safety demonstration dimulai, Tiara meletakkan majalahnya — satu-satunya penumpang yang benar-benar memandang — dan menonton gerakan-gerakan itu: sabuk, masker, pelampung. Tangan pramugari muda itu tidak ragu. Gerakannya mengalir dengan benar, sinkron dengan rekaman, dilihat dari belakang kabin. Dan Tiara merasakan sesuatu yang hangat naik di dadanya — sesuatu yang oleh orang yang tidak pernah berdiri di lorong tidak akan pernah bisa mengerti: kebanggaan seorang penjaga terhadap penjaga-penjaga berikutnya, yang ia tidak kenal, yang tidak mengenalnya, yang dihubungkan kepadanya oleh rantai panjang yang tidak terlihat: dari Pak Hilmy ke dirinya, dari dirinya ke Sari dan Ayu, dari mereka ke tangan muda yang sedang bergerak di lorong ini.
Penumpang di sebelahnya, lelaki paruh baya, memperhatikan bahwa ia memperhatikan — dan berkata ramah, 'Jarang ada yang nonton demo itu, Bu. Orang-orang selalu sibuk sendiri.'
Dan Tiara tersenyum — senyum yang sudah tidak perlu dilatih lagi, senyum yang sudah menjadi miliknya sendiri sepenuhnya — dan menjawab, 'Saya selalu menonton. Dulu saya yang melakukannya. Bertahun-tahun, di lorong seperti ini. Sekarang saya menonton yang muda-muda melakukannya dengan benar — dan itu membuat saya tenang.'
'Berarti Ibu pramugari dulu? Kerja yang berat ya, Bu?'
Ia memikirkan jawabannya sebentar — memikirkan lorong-lorong, malam-malam, api dan asap dan seratus delapan puluh napas yang keluar bersamaan, kursi lipat di ujung lorong, warung ibunya, kursi roda di teras, suaminya yang tertidur di sebelahnya, anaknya yang menunggu di kota tujuan — dan menjawab dengan kalimat yang paling benar yang pernah ia ucapkan tentang pekerjaan itu:
'Berat. Tapi saya tidak pernah sendirian di dalamnya. Selalu ada yang menjaga kami — dan kami menjaga kalian. Begitu terus, turun-temurun, sampai hari ini. Masih begitu sampai sekarang. Mereka yang muda itu —' ia menggerakkan dagunya ke arah lorong, '—mereka sedang menjaga Ibu dan Bapak sekarang, dengan cara yang sama. Dan mereka tidak akan pernah meminta kalian tahu. Itu bagian dari pekerjaannya: menjaga tanpa perlu diketahui.'
Pesawat itu terus terbang ke depan, di antara awan-awan yang berjalan pelan, dengan seratusan orang yang aman di dalamnya — sebagian menunduk ke layar, sebagian tertidur, sebagian membaca — dan di ujung lorong, di tempat yang tidak pernah benar-benar dilihat siapa pun, kursi lipat itu terpasang di dinding, setia, siap, menunggu awak berikutnya yang akan duduk di sana menghadap kabin, menghafal hal-hal yang ia harap tidak akan pernah ia butuhkan.
Dan Tiara menyandarkan kepalanya ke jendela, memandang awan-awan itu, dan memejamkan mata dengan damai — penumpang yang akhirnya, sepenuhnya, percaya pada awaknya. Karena ia tahu siapa yang duduk di kursi lipat itu. Ia tahu dari mana mereka datang. Ia tahu bagaimana mereka dilatih. Dan ia tahu bahwa selama masih ada orang yang bersedia duduk di sana — di ujung lorong, menghadap semua orang, berdiri paling akhir — maka tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar sendirian di udara ini.
Tidak dulu. Tidak sekarang. Tidak akan pernah. Selama kursi lipat itu masih ada di ujung lorong — dan akan selalu ada — akan selalu ada yang duduk di sana.
TAMAT