Serah terima itu berlangsung di ruang instruktur, pada sore yang biasa, tanpa acara — karena Tiara memintanya begitu: 'Aku sudah punya terlalu banyak upacara. Yang ini biarkan sunyi.'
Sebelum serah terima itu, ada satu pekerjaan yang tidak diketahui siapa pun: mengosongkan mejanya. Dan meja seorang instruktur bertahun-tahun ternyata menyimpan geologinya sendiri — laci demi laci adalah lapisan-lapisan waktu. Di laci teratas: catatan evaluasi angkatan terakhir, masih hangat. Di laci kedua: foto-foto angkatan yang ia bimbing, dengan wajah-wajah yang kini tersebar di seluruh armada. Di laci ketiga, yang paling dalam: surat-surat. Puluhan surat dari murid-muridnya, ditulis dari kota-kota basis, dari hotel-hotel layover, dari tahun-tahun yang berjalan — surat-surat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun: 'Mbak, hari ini aku menangani penumpang yang sulit dan aku mendengar suaramu di kepalaku.' 'Mbak, aku hampir berhenti tahun lalu. Aku membaca ulang catatanku dari kelasmu dan bertahan.' 'Mbak, aku memadamkan api kecil di galley hari ini dan tanganku tidak ragu. Aku ingin Mbak tahu: tanganku tidak ragu.' Tiara membaca ulang beberapa di antaranya di meja yang sudah setengah kosong itu, dengan jendela sore yang memanjang, dan memutuskan untuk tidak membawa satu pun — ia menyimpannya kembali ke laci, untuk Sari, dengan catatan di atasnya: Ini milik ruangan ini, bukan milikku. Bacalah kalau kau ragu pekerjaan ini ada gunanya. Aku membacanya setiap kali aku ragu — dan tidak pernah gagal. Dan laci itu ditutupnya dengan perasaan yang anehnya tenang, karena ia tahu surat-surat itu akan terus bekerja di sana, di laci itu, untuk instruktur-instruktur berikutnya, sebagaimana mereka dulu bekerja untuknya.
Yang menerima adalah Sari — murid yang dulu membeku di asap, yang kini menjadi instruktur muda, yang dipilih oleh Tiara sendiri dari antara semua calon dengan alasan yang tidak bisa dibantah siapa pun: karena ia pernah berhenti di tengah lorong gelap dan tahu cara kembali. Barang-barang yang diserahterimakan tidak banyak: kunci-kunci ruang latihan, daftar akses, dan satu benda kecil yang Tiara letakkan terakhir di atas meja — lencana instrukturnya, yang sudah bertahun-tahun menempel di dadanya.
Sari menerima semuanya dengan dua tangan dan mata yang berkaca — dan Tiara memberikannya satu-satunya wejangan yang ia izinkan dirinya berikan, karena sore itu bukan sore untuk pidato: 'Semua yang perlu kau ketahui sudah kau miliki. Yang akan kuberikan hanya satu, yang tidak ada di mana-mana: akan ada hari-hari ketika kau ragu apakah caramu benar — terlalu keras atau terlalu lunak. Pada hari-hari itu, jangan tanya apakah kau cukup tegas. Tanyakan ini: apakah murid-muridku berani jujur kepadaku? Kalau ya, caramu benar. Kalau mereka mulai berbohong atau menyembunyikan, kau sudah terlalu keras — tarik mundur. Kejujuran murid adalah satu-satunya indikator yang tidak pernah rusak. Jaga itu, dan semua yang lain akan menjaga dirinya sendiri.'
Sari mencatatnya — kebiasaan yang mereka berdua bagi — dan kemudian berkata, 'Satu pertanyaan terakhir, Mbak. Waktu itu, di asap, kenapa Mbak masuk? Instruktur lain menunggu di luar. Mbak masuk. Aku sudah lama ingin bertanya.'
Dan Tiara menjawabnya dengan jawaban yang sudah menunggu bertahun-tahun: 'Karena dulu ada yang menjatuhkan kartu untukku. Dan kau tidak pernah melupakannya — kau sendiri yang membawanya keluar dari asap itu. Murid yang dibekukan dan dihangatkan kembali tidak pernah menyerahkan muridnya ke dalam dingin. Itu sebabnya kau yang kupilih, Sari. Bukan karena kau yang paling pintar. Karena kau tahu rasanya, dan orang yang tahu rasanya tidak pernah membiarkan orang lain mengalaminya sendirian.'
Mereka berpisah di lorong itu dengan pelukan yang tidak direncanakan — dan Tiara berjalan keluar gedung pelatihan itu dengan kantong yang ringan dan hati yang penuh, melewati lorong dengan kursi besi tempat para pelamar baru menunggu, melewati pintu-pintu yang sudah menjadi bagian dari tulangnya. Di pintu keluar, ia berhenti sebentar dan menoleh — satu kali, untuk gedung itu, untuk seluruhnya — dan berkata pelan, sebagaimana orang berpamitan dengan rumah: 'Jaga mereka. Aku masih di sini — hanya pindah ruangan.'
Perjalanan pulang dari gedung itu adalah perjalanan yang ia lakukan dengan berjalan kaki — sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, karena hari itu ia tidak ingin cepat sampai. Ia berjalan melewati halaman, melewati kolam yang sudah tertutup untuk hari itu, melewati gerbang tempat belasan tahun lalu ia keluar dengan map dan mata yang basah dan masa depan yang tidak terbaca. Dan di gerbang itu, ia berhenti dan memandangi gedung itu untuk terakhir kalinya dari luar — bangunan biasa, cat yang mengelupas di beberapa tempat, tidak ada yang indah darinya — dan memikirkan bahwa rumah tidak pernah indah dari luar. Rumah hanya indah dari dalam, dari lantai-lantai yang menyerap langkahmu, dari dinding-dinding yang menyimpan suaramu. Gedung ini menyimpan suaranya, dan suara Pak Hilmy, dan suara dua puluh empat angkatan, dan suara satu gadis dari kota kecil yang pernah berdiri di garis kuning dengan kaus kaki lembap. Semuanya masih di sana, di dalam, aman. Dan ia berbalik ke jalan pulang dengan hati yang tidak berat sama sekali — karena ia tidak meninggalkan apa pun di gedung itu yang hilang. Yang ditinggalkannya di sana adalah hal-hal yang bekerja: pasal, manual, murid-murid, dan satu laci surat yang akan menjaga instruktur berikutnya. Orang tidak kehilangan apa yang masih bekerja. Orang hanya berpindah tugas — dan tugas barunya sudah menunggu di rumah, dengan suami, dengan anak, dengan buku catatan yang masih banyak halaman kosongnya.