Warung itu direnovasi pada tahun itu — bukan digusur, bukan dibesarkan, melainkan dirawat: atap yang baru, etalase yang diperkuat, lantai yang rata, dan satu sudut kecil yang atas permintaan ibu Tiara tidak diubah sama sekali: kursi plastik tempat bapaknya dulu duduk mengawasi jalan, dengan foto kecil di dinding di atasnya, menghadap ke warung yang masih hidup.
Tiara mendanainya dengan uang yang ia sisihkan bertahun-tahun — dan menceritakannya kepada ibunya dengan kehati-hatian orang yang tahu bahwa ibunya tidak suka diberi. Tapi kali ini ibunya menerima, dengan satu syarat yang membuat Tiara tertawa dan menangis bersamaan: 'Boleh. Tapi kamu yang mengecat dinding belakang. Sendiri. Warung ini tidak boleh semuanya dikerjakan orang lain — harus ada bagian yang dikerjakan anaknya, supaya kamu ingat bahwa warung ini yang membiayai pelatihanmu dulu. Cat satu dinding, Nak. Supaya tanganmu tidak lupa dari mana kamu berangkat.'
Maka Tiara mengecat satu dinding warung — dengan seragam latihan lama, dengan keterampilan yang buruk, dengan Kira yang 'membantu' dan lebih banyak mengotori — dan ibunya mengawasinya sambil mengipasi diri, mengoreksi arah kuasnya, dan pada satu titik berhenti dan berkata pelan, 'Bapakmu dulu mengecat dinding ini. Kamu umur sembilan. Kamu juga lebih banyak mengotori daripada mengecat.' Dan mereka melanjutkan mengecat dalam keheningan yang penuh, dua perempuan dan satu anak, di dinding yang sama, dengan kuas yang mewarisi.
Rumah kecil di belakang warung itu juga diperbaiki — kamar bapaknya yang lama tidak dihapus, melainkan diubah menjadi kamar tamu, dengan satu benda yang dipindahkan dengan hati-hati ke tempatnya yang baru: kursi roda itu, dibersihkan, ditempatkan di teras, menghadap jalan, sebagaimana dulu. Ibunya menolak membuangnya. 'Biar di situ,' katanya. 'Dia paling suka di situ. Biar dia tetap bisa melihat jalan.' Dan setiap sore, tetangga-tetangga masih melihat kursi roda itu di teras — dan anehnya, tidak ada yang merasa sedih melihatnya; yang ada adalah perasaan bahwa rumah itu masih lengkap, bahwa penghuninya hanya berpindah cara menempati.
Pada malam terakhir kunjungan itu, ibu dan anak duduk di teras dengan dua gelas teh, dan ibunya berkata hal yang sudah lama menunggu: 'Warung ini sudah selesai, Nak. Tidak ada lagi yang kurang. Dan hidup Ibu juga — kamu sudah jadi, adik-adik angkatmu dari warung ini sudah jadi, warung ini sudah aman. Selama bertahun-tahun Ibu bekerja untuk memastikan itu semua. Sekarang semuanya sudah terjadi.' Ia memandang jalan. 'Kamu tahu apa yang Ibu rasakan? Bukan lelah. Lega. Orang bilang tujuan hidup itu harus besar. Tujuan hidup Ibu cuma warung yang tidak tutup dan anak-anak yang tidak kelaparan — dan dua-duanya tercapai. Ibu menang, Nak. Dengan ukuran Ibu sendiri, Ibu menang.'
Dan Tiara menggenggam tangan ibunya di teras itu, di samping kursi roda yang menghadap jalan, dan berpikir bahwa inilah satu-satunya definisi kemenangan yang benar yang pernah ia dengar: bukan langit, bukan berita — sebuah warung yang tidak tutup, dan anak-anak yang tidak kelaparan, dan kursi roda yang tetap menghadap jalan.
Hari-hari renovasi itu sendiri menjadi festival kecil kampung — karena kampung itu tidak membiarkan warung itu diperbaiki sendirian. Para tetangga datang bergantian, sebagaimana mereka datang ke tahlilan dulu: Pak Dul dengan peralatannya, pemuda-pemuda RT dengan tenaga mereka, ibu-ibu dengan makanan untuk para pekerja. Tiara menontonnya dengan dada yang penuh — dan memahami, untuk pertama kalinya sepenuhnya, bahwa selama ini ia mengira ia dan ibunyalah yang menghidupi warung itu, padahal sebenarnya warung itulah yang menghidupi kampung: tempat berteduh, tempat berutang ketika paceklik, tempat kabar berjalan. Dan kampung itu membayar kembali, selama seminggu penuh, dengan cara kampung membayar: dengan tangan. Ketika warung itu dibuka kembali, ibunya melakukan satu hal yang tidak dijadwalkan siapa pun: ia membagikan gorengan gratis sepanjang pagi, dan menolak menjelaskan, sampai seorang pelanggan tua berkata, 'Warung ini ulang tahun?' dan ibunya menjawab, 'Bukan. Warung ini berterima kasih. Empat puluh tahun kalian jaga warung ini tetap hidup. Hari ini giliran warung yang menjamu. Besok kembali normal — jangan biasakan gratis, nanti Ibu bangkrut.' Dan kampung itu tertawa, dan pagi itu tidak ada satu pun gorengan yang tersisa.
Di sore terakhir sebelum pulang ke kota, Tiara mengajak Kira ke tempat yang satu lagi: makam bapaknya, di pemakaman kampung yang tenang. Dan di sana, di depan nisan yang sederhana, ia memperkenalkan mereka dengan benar untuk pertama kalinya: 'Pak. Ini Kira. Cucu Bapak. Dia sudah besar, sudah sekolah, sudah banyak tanya — seperti anak Bapak dulu, kata Ibu.' Dan Kira, dengan suara kecilnya yang serius, menaruh setangkai bunga di atas nisan itu dan berkata, 'Halo, Kakek. Aku Kira. Aku akan sering-sering ke sini. Mama bilang Kakek orang yang paling rajin di kampung ini. Aku akan jaga Mama sama Nenek.' Dan Tiara berdiri di sana dengan tangan di bahu anaknya, memandangi nisan dan bunga dan kampung di kejauhan, dan merasakan lingkaran itu menutup dengan sempurna: kursi roda yang kosong tidak pernah benar-benar kosong. Ia hanya menunggu generasi berikutnya datang berkunjung, membawa bunga, membawa janji, membawa nama yang sama yang berjalan terus ke depan, tanpa berhenti, selamanya.