Ia muncul di pintu ruang instruktur pada sore yang hujan — Candra, lebih tua, dengan garis-garis yang bertambah di wajahnya, dengan amplop di tangan yang ternyata adalah surat pengunduran dirinya. Ia tidak lagi terbang; tahun-tahun terakhirnya dihabiskan di tugas darat, dan kini ia mengundurkan diri sepenuhnya. Dan sebelum pergi, ada satu pintu yang harus ia ketuk.
Tiara menyuguhkan teh, dan mereka duduk berhadapan untuk pertama kalinya dalam keadaan yang sama-sama tidak bertugas — dan Candra memandangi tehnya lama sebelum berkata, 'Aku penulisnya. Laporan anonim itu. Bertahun-tahun lalu.'
Dan Tiara — yang sudah tahu sejak malam itu, yang sudah tahu sejak lift itu — menjawab dengan tenang yang sudah lama disiapkannya: 'Aku tahu. Aku tahu sejak minggu pertama.'
'Kamu tahu?' Candra mengangkat wajah, dan di wajahnya ada sesuatu yang lebih berat dari rasa malu: keheranan yang runtuh. 'Dua belas tahun aku membawanya, dan kamu sudah tahu sejak minggu pertama? Jadi selama ini — setiap briefing, setiap koridor — kamu menyapaku seperti biasa, padahal kamu tahu?' 'Ya.' 'Kenapa?' Dan suaranya pecah di satu kata itu. 'Kenapa kamu bisa, Tiara? Dua belas tahun aku tidak bisa memandangmu tanpa membenci — dan kamu bisa menyapaku setiap hari padahal tahu?' 'Karena aku memutuskan untuk tidak membiarkanmu mengubah caraku menyapa orang,' jawab Tiara pelan. 'Itu saja. Kamu menyerangku dengan surat; aku menjawabnya dengan tidak berubah. Itu bentengku. Aku tidak mendidihkan dendam dua belas tahun — aku tidak punya waktu. Ada terlalu banyak hal yang harus kujaga untuk kusisihkan tempat bagi dendam.'
Candra diam lama, menyerap itu, lalu bertanya dengan suara yang lebih kecil: 'Dan tidak pernah sekalipun kamu tergoda? Membalas? Melaporkan balik? Menghukumku?' Tiara menggeleng. 'Tidak pernah. Aku menghitungnya, Candra. Malam itu juga aku menghitung: apa yang kudapat dari menghancurkanmu? Rasa puas dua hari, dan satu orang yang lebih pahit lagi di dunia ini. Atau aku membiarkanmu dengan pekerjaanmu — dan mungkin, suatu hari, kau datang sendiri seperti hari ini. Aku memilih menunggu. Ternyata butuh dua belas tahun.'
Candra menangis — tanpa suara, dengan tangan yang menutup wajahnya, perempuan yang telah membawa batu itu dua belas tahun — dan ketika ia bisa bicara, yang keluar adalah seluruhnya: tentang tahun-tahun yang tidak pernah diangkat, tentang menonton orang lain berjalan lebih cepat, tentang bagaimana kepahitan itu tumbuh sehingga ia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri lagi, tentang malam-malam ketika ia membaca berita tentang Tiara dan membencinya dan membenci bahwa ia membencinya. 'Kamu tidak pernah melakukan apa pun padaku,' katanya. 'Itu yang paling sulit kumaafkan dari diriku sendiri. Kamu tidak pernah melakukan apa pun. Kau hanya... berhasil. Dan aku tidak tahan melihatnya. Karena keberhasilanmu mengatakan kepadaku bahwa kegagalanku bukan salah dunia. Itu salahku sendiri — pilihanku sendiri, kepahitanku sendiri. Dan itu jauh lebih sulit diterima daripada ketidakadilan.'
Tiara mendengarkannya sampai habis — sampai benar-benar habis — dan kemudian berkata hal yang sudah ia pelajari dari seluruh perjalanannya: 'Candra, dengar aku. Kamu bukan orang jahat. Kamu orang yang terluka dan tidak ada yang mengajarimu cara merawat lukanya. Aku tahu bedanya, karena aku hampir menjadi orang yang sama — aku hanya lebih beruntung: ada Kinanti yang menjatuhkan kartu untukku di saat yang tepat. Kamu tidak punya Kinanti. Itu satu-satunya perbedaan kita.' Ia mendorong sekotak tisu ke seberang meja. 'Dan karena itu, permintaan maafmu kuterima — bukan karena kamu butuh dimaafkan, melainkan karena kamu berhak memulai lagi. Dua belas tahun adalah hukuman yang cukup untuk satu laporan anonim. Sekarang letakkan batunya. Kau masih punya tahun-tahun di depanmu, dan tahun-tahun itu tidak boleh dihabiskan untuk menghukum dirimu sendiri.'
Mereka berpisah di pintu dengan jabat tangan — yang berubah menjadi pelukan yang canggung, yang berubah menjadi sesuatu yang menyerupai kedamaian. Dan malam itu Tiara menulis: Candra datang hari ini, dan musim hujan menutup satu bab yang paling tua. Tidak ada musuh yang bertahan dua belas tahun, Kinanti pernah bilang — yang bertahan hanyalah orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Hari ini Candra selesai. Dan aku belajar satu hal terakhir tentang lorong-lorong itu: bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah orang yang menyerangmu, melainkan luka yang tidak kau rawat — karena luka yang tidak dirawat akan membuatmu menjadi penyerang. Rawat lukamu, semua. Itu satu-satunya cara untuk tidak menjadi Candra yang dulu — dan untuk menjadi Candra yang hari ini, yang berani datang, yang berani pulang dengan lebih ringan.
Dimas mendengar cerita itu malamnya, di sofa, dengan dua cangkir teh dan hujan yang masih turun di luar — dan ia bertanya hal yang paling Dimas: 'Kamu memaafkannya dalam satu sore. Dua belas tahun, satu sore. Bagaimana caranya?' Dan Tiara memikirkannya sungguh-sungguh sebelum menjawab: 'Karena aku sudah tidak membutuhkan permintaan maafnya. Itu kuncinya. Aku menerima permintaan maafnya untuknya, bukan untukku — aku sudah lama selesai. Orang memaafkan dengan berat ketika mereka masih menghitung kerugiannya. Aku sudah tidak menghitung apa-apa sejak lama. Malah—' ia memandangi hujan di jendela, '—malah aku berutang padanya satu hal: laporan anonimnya memaksaku menjadi orang yang mendokumentasikan segalanya. Dan kebiasaan itulah yang kemudian menyelamatkanku berkali-kali. Musuhmu memberimu kebiasaan perang, Dimas. Dan kebiasaan perang, di tangan orang yang tidak lagi berperang, menjadi kebiasaan bertahan. Aku tidak memaafkannya karena aku baik. Aku memaafkannya karena perhitungannya sudah lunas — dan karena aku ingin hidup di rumah yang tidak punya kamar yang terkunci untuk orang yang sudah menyerahkan kuncinya.' Dimas mengangkat cangkirnya sedikit, tanpa suara, bersulang dengan hujan — dan mereka menghabiskan malam itu dengan tenang, dua orang yang sudah lama tidak menyimpan apa pun di kamar-kamar yang terkunci.