Pusat pelatihan itu tidak berubah — bau karpet dan kopi instan yang sama, lorong yang sama, kursi-kursi besi yang sama di mana dua puluh dua tahun lalu — eh, tidak, belasan tahun lalu — seorang gadis dari kota kecil menunggu namanya dipanggil dengan kaki mati rasa. Tiara berjalan menyusurinya pada hari pertamanya sebagai instruktur dengan perasaan yang mengherankan: pulang ke tempat yang mengubahnya, sebagai orang yang sudah diubah.
Pak Hilmy menerimanya di ruang instruktur — mejanya yang rapi, dinding yang penuh foto angkatan-angkatan — dengan cara Pak Hilmy: tanpa sambutan, langsung ke pekerjaan. 'Kelas pertamamu hari Kamis. Angkatan baru. Dua puluh empat orang. Kamu pegang modul prosedur darurat.' Lalu ia berhenti, dan memandanginya dengan sesuatu yang mendekati — tapi tidak sepenuhnya menjadi — senyum: 'Dan jangan jadi saya. Itu satu-satunya nasihat yang akan kuberikan. Ruangan ini sudah punya satu Pak Hilmy. Ruangan ini butuh satu Tiara Anindhita. Kalau kamu meniruku, kita berdua gagal.'
Mereka bekerja berdampingan dalam minggu-minggu itu — dua generasi instruktur, dua gaya yang berbeda seperti dua mesin yang berbeda: Pak Hilmy dengan kedisiplinan yang tidak pernah berkedip, Tiara dengan kehangatan yang tidak pernah melunakkan standar. Dan di antara mereka, di meja-meja kantin, terjadi percakapan-percakapan yang tidak pernah terjadi ketika ia menjadi muridnya dulu — percakapan antara dua orang yang kini berdiri di sisi yang sama.
Pada hari-hari pertama itu, Pak Hilmy mengajaknya berkeliling — tur yang tidak resmi, dari ruang ke ruang, yang lebih berharga dari pelatihan apa pun. Di lorong utama, di dinding yang paling ramai, tergantung foto-foto angkatan dari tahun ke tahun — dan Pak Hilmy berhenti di satu foto, dan menunjuk tanpa kata: angkatan Tiara. Dua puluh dua wajah muda, dan Tiara menemukan dirinya di barisan kedua — rambut disanggul terlalu kencang, senyum yang dilatih cermin kos — dan Kinanti di sebelahnya dengan tawa yang bahkan terlihat di foto. 'Dari dua puluh dua ini,' kata Pak Hilmy, 'sembilan masih terbang. Sisanya tersebar: ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi ibu penuh waktu, ada yang tidak bisa kutelepon lagi karena nomornya sudah tidak ada. Setiap angkatan seperti itu. Sebagian bertahan, sebagian berpindah — dan pekerjaanku adalah tidak menghakimi yang berpindah, karena meninggalkan pekerjaan ini juga butuh keberanian yang tidak kecil.' Ia bergerak ke foto berikutnya, dan berikutnya, menunjuk nama-nama, bercerita — dan Tiara mendapati dirinya memandangi gurunya itu dengan mata yang baru: lelaki keras itu ternyata menyimpan setiap angkatan, bukan hanya di dinding, melainkan di kepalanya, dengan nama, dengan kabar, dengan nasib. 'Kamu pikir aku tidak pernah memuji,' kata Pak Hilmy tiba-tiba, seolah membaca pikirannya. 'Aku tidak memuji karena pujian itu mahal, Tiara. Kalau murah, tidak ada harganya. Tapi aku mencatat. Aku selalu mencatat.' Dan ia membuka lemarinya, dan mengeluarkan sebuah map tua, dan menunjukkan halamannya: catatan penilaian tentang Tiara, belasan tahun lalu — dan di marginnya, dengan pensil, tulisan tangan Pak Hilmy yang tidak pernah ia tunjukkan: anak ini akan jauh. Awasi. Jangan sampai patah sebelum waktunya. Tiara membaca margin itu dengan tenggorokan yang menutup — dan Pak Hilmy mengambil kembali map itu dengan gerakan yang buru-buru, seolah terlanjur membuka sesuatu, dan berkata, 'Sudah. Kembali bekerja. Kelasmu menunggu.' Tapi di lorong itu, Tiara berdiri sebentar sendirian, di antara foto-foto angkatan, dan membiarkan kalimat pensil itu turun ke tempatnya: dia mengawasi. Selama ini. Dengan caranya yang tidak pernah terlihat — seperti menara yang tidak pernah terdengar tapi selalu memandu.
'Kamu tahu apa yang paling sulit dari pekerjaan ini?' tanya Pak Hilmy suatu siang, dan nadanya berbeda — lebih tua, lebih jujur. 'Bukan mengajar. Mengajar itu gampang. Yang sulit adalah: setiap angkatan, ada dua tiga anak yang kamu tahu tidak akan bertahan. Kamu melihatnya dari minggu pertama. Dan kamu tetap mengajari mereka sepenuh hati, karena kamu bisa salah, karena kadang yang paling rapuh di minggu pertama menjadi yang paling kuat di tahun kelima.' Ia memandangi kelas kosong dari jendela kantin. 'Dan ada satu lagi yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun: setiap kali ada kecelakaan di berita — maskapai mana pun, di mana pun — aku duduk dan bertanya pada diriku sendiri: apakah ada muridku di dalamnya? Apakah aku mengajarinya dengan cukup? Itu beban pekerjaan ini, Tiara. Kamu tidak hanya mengajar anak-anak itu. Kamu menandatangani masa depan mereka. Kalau kamu tidak kuat memikul itu, keluar sekarang. Tapi kalau kamu kuat — maka tidak ada pekerjaan di dunia ini yang lebih penting dari yang akan kamu mulai hari Kamis.'
Tiara menuliskan kalimat itu malam itu — sebagaimana ia selalu menuliskan kalimat-kalimat yang menentukan: Kamu menandatangani masa depan mereka. Dan di bawahnya ia menambahkan miliknya sendiri, dari sudut pandang orang yang pernah menjadi mereka: Dan mereka akan menandatangani balik masa depanmu — dengan cara mereka bekerja, dengan cara mereka menjaga, dengan cara mereka kelak berdiri di lorong-lorong yang tidak akan pernah kamu lihat. Ruang latihan bukan akhir dari terbang. Ruang latihan adalah tempat terbang bermula — dan aku, mulai Kamis, adalah orang yang menyalakan mesinnya.