Penerbangan terakhirnya sebagai awak reguler adalah penerbangan biasa ke Denpasar — dipilih sendiri, bukan karena rutenya istimewa, melainkan karena Tiara ingin mengakhiri di lorong yang biasa, di antara penumpang yang biasa, pada hari yang biasa. Karena lorong itulah hidupnya: bukan malam api, bukan berita — melainkan ribuan penerbangan biasa yang berjalan selamat karena seseorang menjaganya tetap biasa.
Ia tidak memberi tahu penumpang. Tidak ada pengumuman, tidak ada upacara di udara. Hanya awak seangkatannya yang tahu — dan mereka menjalankannya dengan cara awak: profesional di depan penumpang, dan satu per satu, di galley, dalam pergantian tugas, mereka menyentuh bahunya atau menggenggam tangannya sekilas, tanpa kata, tanpa air mata yang terlihat. Yustika memimpin penerbangan itu sebagai purser — ia yang mengaturnya, diam-diam, dengan manajer penjadwalan — dan di briefing pagi itu ia hanya berkata, 'Hari ini penerbangan biasa. Kita kerjakan dengan biasa. Itu satu-satunya penghormatan yang dimengerti pekerjaan ini. Dan penghormatan yang dimengerti pekerjaan ini tidak pernah ribut.'
Tapi di lorong, Tiara menjalani hari itu dengan mata yang merekam segalanya: bau kabin di pagi hari, bunyi troli, cara cahaya jatuh lewat jendela kecil ke lantai lorong, wajah-wajah penumpang yang lelah dan hidup. Ia melakukan safety demonstration dengan tangan yang stabil — dan untuk sepersekian detik, di tengah gerakan masker, ia melihat gadis dua puluh dua tahun yang dulu berdiri di mock-up dengan jari tersangkut rambut, dan ia tersenyum kepadanya dalam hati: lihat. Kamu berhasil. Kamu berhasil dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan, tapi kamu berhasil.
Di sektor terakhir, saat pesawat mulai turun ke Denpasar, Yustika memberinya sesuatu melalui pengumuman — melanggar protokol dengan cara yang hanya bisa dilakukan purser senior: setelah pengumuman standar, ia menambahkan, dengan suara yang rata dan mematikan untuk siapa pun yang mendengarkan baik-baik: 'Dan untuk awak kabin hari ini — terima kasih telah menjaga kami semua. Salah satu dari mereka menjalankan penerbangan terakhirnya hari ini. Sepuluh tahun, ribuan penumpang, dan tidak pernah satu pun yang tidak dijaga. Hormat kami.' Tidak ada nama. Penumpang tidak tahu siapa. Tapi seorang ibu di baris tujuh — yang entah kenapa mungkin merasakan sesuatu — bertepuk tangan pelan, dan beberapa orang ikut, dan Tiara berdiri di galley belakang dengan tangan di panel, menunduk, membiarkan tepuk tangan kecil itu berlalu seperti hujan yang hangat.
Setelah penumpang terakhir turun, ia menyusuri kabin kosong itu sekali — kebiasaan lamanya, memeriksa baris demi baris — tapi kali ini pelan, sangat pelan, dengan tangan yang menyentuh sandaran kursi, dengan mata yang menyimpan. Ia berhenti di baris empat belas. Ia berhenti di ujung lorong. Dan di kursi lipat itu — jump seat yang sudah menjadi tempatnya duduk menghadap ribuan wajah — ia duduk untuk terakhir kalinya sebagai awak yang bertugas, menarik sabuk empat titik, menguncinya, dan diam di sana satu menit penuh, mendengarkan kabin yang kosong.
'Terima kasih,' katanya kepada lorong itu, pelan, seperti kepada rumah. 'Aku titipkan semuanya. Ajari mereka baik-baik — yang datang setelahku. Ajarilah mereka seperti kau mengajariku: dengan keras, dengan jujur, dengan malam-malam yang tidak bisa dilupakan.'
Lalu ia berdiri, menaikkan kursi lipat itu ke dinding — dengan gerakan yang sudah menjadi otot — dan turun ke aspal, dan tidak menoleh, karena orang yang menoleh ke belakang tidak pernah benar-benar berjalan ke depan.
Yang tidak ia ketahui sedang menunggunya di ruang kedatangan: Dimas dan Kira, dengan satu papan kecil buatan tangan yang digambar Kira sendiri — gambar pesawat yang miring dengan tiga orang di bawahnya, dan tulisan huruf besar yang tidak rata: SELAMAT PULANG KERJA TERAKHIR MAMA. Maskapai tidak mengadakan upacara; keluarganya yang mengadakan — dan upacara keluarga, pikirnya, selalu lebih tepat ukurannya. Dan di antara para penjemput yang biasa, Tiara berdiri dengan koper dinasnya dan memandangi papan kertas itu, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun menangis di terminal — tanpa malu, tanpa ditutupi, di depan seluruh arus kedatangan. Kira berlari ke kakinya. Dimas memeluknya dengan satu tangan, dengan papan di tangan satunya, dan berbisik, 'Penerbanganmu sudah selesai. Pendaratanmu baru mulai. Selamat datang di darat, Kapten Rumah Tangga.' Dan mereka berjalan keluar terminal itu bertiga — Tiara di tengah, satu tangan di koper, satu tangan di tangan kecil Kira — dan di kejauhan, di atas atap terminal, sebuah pesawat naik ke langit sore, dan Tiara memandanginya naik tanpa rasa sakit sama sekali. Hanya dengan perasaan orang yang menonton kereta berangkat dari peron tempat ia turun dengan selamat: bukan ditinggalkan. Tiba. Ada bedanya, dan bedanya adalah segalanya. Di mobil, Kira meminta cerita tentang penerbangan terakhir, dan Tiara menceritakannya seperti dongeng pengantar tidur — tentang lorong dan kursi lipat dan awan-awan — dan Kira tertidur sebelum ceritanya selesai, dan Tiara menyelesaikan ceritanya untuk dirinya sendiri, dengan pelan, di dalam mobil yang bergerak pulang: dan awak itu turun dari langit untuk selamanya, dan tidak ada yang hilang darinya, karena seluruh langit itu kini ia bawa pulang — di dalam dirinya, utuh, untuk dibagikan kepada orang-orang yang akan terbang berikutnya.