Kabar itu datang lewat cara yang paling buruk: bukan dari maskapai, bukan dari telepon resmi, melainkan dari notifikasi berita yang muncul di layar ponsel Tiara pada sore yang tenang — Pesawat tujuan Surabaya-Jakarta dilaporkan mengalami insiden serius — dan nama rute itu, rute itu, yang ia tahu sedang diterbangi Kinanti sore ini.
Dunia tidak berhenti. Itu yang paling mengerikan dari menit-menit seperti itu: dunia tidak berhenti. Kira bermain di lantai dengan baloknya, Dimas belum pulang, ketel mendidih di dapur — dan di layar ponselnya, kalimat-kalimat yang masih simpang siur: insiden saat pendekatan, cuaca buruk, informasi belum lengkap. Tiara menelepon Kinanti dan langsung ke kotak suara. Ia menelepon lagi, dan lagi, dan kotak suara, dan kotak suara — dan tangannya, tangan yang tidak pernah gemetar di lorong berasap, gemetar sekarang di dapurnya sendiri.
Ia menelepon orang-orangnya: Resa, yang tidak tahu apa-apa tapi langsung bergerak mencari tahu; Yustika, yang menjawab dengan suara yang mencoba tenang dan gagal menyembunyikan bahwa ia juga sedang mencari; seorang kawan di penjadwalan yang bisa melihat daftar awak penerbangan itu dan memastikan — ya, Kinanti Putri terdaftar di penerbangan itu, posisi zona depan.
Lalu datang masa yang oleh orang-orang yang pernah mengalaminya disebut dengan nama yang sama: menunggu. Bukan menunggu seperti di ruang tunggu bandara, bukan menunggu seperti menunggu kabar baik — menunggu dalam bentuknya yang paling telanjang: menunggu kabar hidup atau mati seseorang yang kaucintai, dengan ponsel di tangan dan televisi yang menyala dan berita yang datang tetes demi tetes seperti obat yang disengajakan lambat.
Berita-berita awal itu simpang siur sebagaimana selalu: satu saluran bilang tergelincir, satu bilang kereta pendarat, satu bilang — dan Tiara mematikannya, karena ia tahu dari dalam industri itu bahwa berita jam-jam pertama adalah kabut, dan kabut tidak boleh dipercaya. Yang boleh dipercaya hanya saluran resmi, dan saluran resmi bergerak dengan kecepatan yang dirancang untuk akurat, bukan untuk menenangkan. Ia menelepon Dimas — yang pulang dalam dua puluh menit dengan wajah yang sudah membaca berita — dan mereka duduk di depan televisi dengan Kira di pangkuan, menunggu, dalam keadaan yang Tiara kenali dengan ngeri: ia sedang berada di sisi yang lain. Selama bertahun-tahun ia adalah orang di dalam pesawat, orang yang bekerja saat semua orang panik. Malam ini ia adalah keluarga penumpang. Malam ini ia berada di sisi yang duduk dan tidak bisa berbuat apa-apa — dan sisi itu, ia belajar, jauh lebih berat dari lorong mana pun.
'Sembilan tahun aku terbang,' bisiknya kepada Dimas, tanpa melepas pandangan dari layar. 'Dan tidak pernah sekali pun aku bertanya bagaimana rasanya menjadi keluarga yang menunggu di darat. Sekarang aku tahu. Rasanya seperti ini: seperti duduk di kursi lipat tanpa bisa berdiri. Selamanya. Tanpa checklist. Dan kau tahu apa yang paling buruk? Bukan takutnya. Bukan takutnya, Dimas. Yang paling buruk adalah tidak bisa melakukan apa-apa. Di lorong, seburuk apa pun keadaannya, tanganku punya pekerjaan. Di sini, di sofa ini, tanganku tidak punya apa-apa selain menggenggam. Dan tangan yang tidak punya pekerjaan adalah tangan yang paling menderita di dunia ini.'
Dan malam merayap, dan berita menetes, dan pukul sembilan malam — tiga jam setelah notifikasi pertama — teleponnya berbunyi, dan nama yang muncul di layar membuat seluruh tubuhnya runtuh dan berdiri dalam satu detik: Kinanti. Dan suara di seberang itu serak, lelah, terluka — tapi hidup: 'Aku hidup, Ti. Pesawatnya rusak, tapi kami turun. Semua turun. Aku cuma—' suaranya berhenti, dan Tiara mendengar sahabatnya menangis untuk pertama kalinya sejak malam perceraiannya, '—aku cuma mau bilang aku hidup. Mereka bilang aku harus ke rumah sakit, tapi aku mau kamu tahu dulu. Aku hidup.'
Tiga jam sebelum telepon itu adalah tiga jam yang oleh Tiara kemudian sulit ia ceritakan dengan utuh. Ada bagian-bagiannya yang ia ingat dengan jelas yang mengejutkan: bunyi ketel yang lupa dimatikan dan ditemukannya menguap kering di atas kompor. Tangan Dimas yang menggenggam tangannya di sofa dan tidak pernah dilepas, tidak sekali pun, selama tiga jam itu. Kira yang merasakan sesuatu dengan radar anak-anak dan datang memeluk kakinya tanpa bertanya, dan Tiara mengangkatnya dan memangkunya, dan bau rambut anaknya menjadi satu-satunya jangkar yang bekerja. Dan ada bagian-bagian yang hilang, yang tidak terekam, menit-menit kosong yang hanya berisi menunggu — menunggu yang oleh Tiara kemudian dituliskannya dalam satu kalimat di bukunya, karena kalimat itu adalah satu-satunya cara ia bisa memegangnya: menunggu kabar tentang orang yang kaucintai adalah satu-satunya pekerjaan di dunia ini yang tidak punya prosedur. Tidak ada checklist. Tidak ada 'pasang punyamu dulu'. Hanya ada kursi, dan layar, dan ponsel yang tidak berbunyi, dan waktu yang berjalan seperti orang yang tidak tahu ada nyawa dipertaruhkan. Malam itu aku akhirnya mengerti keluarga-keluarga yang kulayani selama bertahun-tahun — orang-orang yang menelepon maskapai dengan suara bergetar, yang datang ke bandara dengan wajah pucat. Aku tidak pernah benar-benar melihat mereka. Malam ini aku menjadi mereka. Dan tidak ada pelatihan di dunia ini yang bisa mempersiapkanmu untuk itu — tidak ada mock-up, tidak ada simulasi, tidak ada manual.