Ia menulisnya pada malam-malam ketika rumah sudah tidur — surat yang tidak direncanakan menjadi surat, yang dimulai sebagai halaman buku catatan biasa dan tumbuh menjadi sesuatu yang lain: panjang, jujur, dan tidak terkirim.
Kepada Dimas — tulisnya, dan berhenti lama, karena nama itu harus ditulis dengan benar — kepada suamiku, kepada orang yang kupilih dengan dokumen yang kubaca dua kali.
Aku menulis ini karena aku tidak bisa mengatakannya. Kau tahu itu tentangku: aku perempuan yang lebih jujur di atas kertas. Maka inilah kejujuranku, seluruhnya, tanpa disunting.
Aku marah. Jangan salah membaca surat ini — aku masih marah, dan kemarahanku sah, dan aku tidak akan memintanya pergi lebih cepat dari waktunya. Kau memindahkan dua tahun percakapanmu ke orang lain, dan itu melukaiku dengan cara yang tidak bisa kubandingkan dengan apa pun yang pernah kualami — karena malam api dulu aku hampir kehilangan nyawaku, tapi aku tidak kehilangan kepercayaan pada siapa pun. Kali ini aku kehilangan sesuatu yang lebih sulit dihitung: kepercayaan bahwa aku adalah orang pertama yang kauceritakan.
Tapi surat ini bukan tentang marah. Surat ini tentang hal yang kutemukan di bawahnya, ketika marah itu cukup tenang untuk digali: aku mengerti. Dan aku benci bahwa aku mengerti. Aku mengerti karena aku juga pernah menjadi orang yang menyembunyikan kelemahan demi citra kuat — aku menyembunyikan demam, ingat? Aku terbang dengan tubuh yang tidak layak karena aku tidak tahu cara menjadi lemah di depan sistem. Kau melakukan hal yang sama di rumah tangga kita. Kau menyembunyikan kelelahanmu, keraguanmu, rasa tidak cukupmu — karena di rumah ini, aku adalah orang yang kuat, dan tidak ada ruang yang kau bangun untuk menjadi yang lemah. Dan itu bukan salahmu saja, Dimas. Itu juga salahku. Aku membangun rumah di mana kekuatanku adalah aturan dan kelemahanmu adalah pelanggaran. Aku tidak pernah mengumumkannya, tapi kau membacanya di setiap caraku menyelesaikan masalah lebih cepat, di setiap caraku menjadi orang yang tidak butuh ditolong.
Kita berdua salah dengan cara yang sama: kita sama-sama tidak tahu cara menjadi lemah di depan satu sama lain. Aku bersembunyi di balik prosedur. Kau bersembunyi di balik orang lain. Dan rumah ini — rumah yang kita bangun dengan dua kalender dan laporan cuaca — tidak pernah punya ruang untuk hal yang paling dibutuhkan rumah tangga: kejujuran tentang ketidakbecusan. Tentang hari-hari ketika kita tidak tahu. Tentang takut.
Maka inilah yang kuminta, dan aku menuliskannya karena memintanya dengan suara masih terlalu sulit: jangan minta maaf sekali lagi dan berhenti di situ. Mari kita bangun ruangnya. Ruang di mana kau boleh tidak tahu, dan aku boleh tidak kuat, dan tidak ada yang menghitung siapa yang lebih sering jatuh. Aku tidak tahu caranya — aku, yang tahu cara mengevakuasi pesawat, tidak tahu cara mengevakuasi rumah tangga sendiri. Tapi aku mau belajar. Kalau kau juga mau, kita mulai dari hal yang paling kecil: besok pagi, ceritakan satu hal yang tidak beres dalam harimu. Satu saja. Dan aku akan menceritakan satu hal yang membuatku takut. Sekecil itu. Sebesar itu.
Aku tidak tahu apakah surat ini akan kuberikan kepadamu. Mungkin tidak. Mungkin ia akan tetap di buku ini, di antara daftar-daftar dan peta kabin, sebagai bukti bahwa aku pernah menuliskannya — bahwa aku pernah, setidaknya di atas kertas, memilih untuk berjuang. Tapi malam ini, setelah menuliskannya, aku tidur lebih nyenyak dari minggu-minggu sebelumnya. Karena aku akhirnya mengatakannya kepada seseorang: kepada kertas, kepada diriku sendiri, kepada bayanganmu yang duduk di seberang meja makan dalam imajinasiku.
Kita belum selesai. Aku belum selesai. Dan selama aku masih menulis surat-surat seperti ini — meski tidak terkirim — berarti aku masih berdiri di lorong rumah tangga ini, belum keluar, masih memegang posisi. Tanyakan itu kepadaku kapan-kapan, kalau kau ingin tahu apakah aku masih di sini. Jawabannya ada di surat yang tidak pernah kuberikan ini: aku masih di sini. Aku masih di sini.
Tiara melipat halaman itu — tidak disobek, tidak disegel, hanya dilipat — dan menyelipkannya di antara halaman-halaman buku catatannya, di tempat yang paling mudah ditemukan oleh orang yang mencarinya. Karena sebagian dari dirinya, ia mengakui di kegelapan, ingin ditemukan. Dan sebagian lagi belum siap. Dan kedua bagian itu, ia belajar dari Bu Arum, boleh ada bersamaan — sebagaimana pesawat boleh mengudara dengan cuaca yang belum sepenuhnya bersih: dengan hati-hati, dengan kewaspadaan, dan dengan janji untuk mendarat dengan selamat di ujungnya.
Ia menutup buku itu dan meletakkannya di meja — bukan di laci, bukan disembunyikan, hanya di meja, di tempat yang bisa dijangkau siapa pun yang tinggal di rumah itu. Lalu ia mematikan lampu, dan berjalan ke kamar, dan berdiri sebentar di ambang pintu memandangi suaminya yang tidur — lelaki yang menunggunya berjalan ke lorong gelap itu setiap malam tanpa pernah mengeluh — dan ia tidak masuk. Belum. Tapi ia meninggalkan pintu itu tidak tertutup, sedikit terbuka, dengan cahaya lorong yang jatuh ke dalamnya. Bukan undangan. Bukan vonis. Hanya pintu yang tidak dikunci — untuk pertama kalinya sejak malam pertanyaan itu — dan dalam rumah tangga mereka, dalam bahasa yang mereka bangun bertahun-tahun, pintu yang tidak dikunci adalah kalimat yang paling jelas: aku belum pergi. Aku masih di sini. Dan aku sedang berjalan pulang, pelan-pelan, dengan kecepatanku sendiri.