Ia tiba di rumah sakit kabupaten itu pukul empat pagi — dan bapaknya sudah pindah ke ruang perawatan, sadar, stabil, dan ketika mata tua itu menemukan anak sulungnya di ambang pintu dengan seragam yang kusut, tangannya yang gemetar terangkat, dan Tiara berlari kecil ke samping ranjangnya dan memegang tangan itu, dan untuk satu jam penuh tidak ada yang berkata apa-apa, karena tidak perlu.
Bapaknya bertahan sembilan hari.
Sembilan hari itu adalah sembilan hari yang oleh Tiara kemudian dikenang sebagai waktu yang dicurikan dari badai — maskapai memberinya izin duka-darurat, ia tidak meninggalkan rumah sakit lebih dari beberapa jam, dan ia menghabiskan hari-hari itu melakukan hal-hal yang tidak pernah sempat ia lakukan dalam tahun-tahun terbangnya: menyuapi, membasuh muka, membacakan koran keras-keras seperti dulu di teras. Dan pada malam-malam ketika bapaknya tidur, ayah dan anak itu — satu terbaring, satu terjaga — menjalani percakapan yang paling banyak berisi keheningan, keheningan yang padat, keheningan orang-orang yang sama-sama tahu dan sama-sama tidak mengatakannya.
Pada hari kedelapan, bapaknya tiba-tiba lebih kuat — dokter menyebutnya fase yang sering terjadi, tubuh yang mengumpulkan sisa tenaganya — dan sore itu, di bangsal yang disinari matahari sore, bapaknya berbicara lebih banyak dari yang sudah-sudah. Dengan kata-kata yang tersendat, dengan tangan yang menambal kalimat yang patah, ia bertanya: tentang pekerjaan Tiara, tentang apakah ia senang, tentang apakah ia makan. Lalu — dengan usaha yang membuat Tiara ingin menyuruhnya berhenti, tapi ia tidak berani — bapaknya menatapnya lama dan berkata, patah-patah, kata demi kata: 'Kamu... sudah... tinggi sekali. Bukan... pesawatnya. Kamu.' Dan ia menepuk dadanya sendiri, di tempat sayap itu, dengan tangan yang tidak kuat lama, dan tersenyum, dan tidur dengan wajah yang tenang.
Ia pergi keesokan malamnya, dalam tidur, tanpa ribut — sebagaimana ia hidup: tanpa ribut. Perawat menemukannya pada ronde malam, dengan wajah yang tidak menyimpan kesakitan, dengan tangan kanan diletakkan di dada — di tempat yang sama yang selalu ia tepuk setiap kali membicarakan anaknya. Perawat itu menceritakan detail terakhir itu kepada Tiara, tidak tahu apa artinya; dan Tiara berterima kasih dan tidak menceritakan apa artinya, karena ada hal-hal yang hanya boleh dimiliki keluarga, dan posisi tangan itu adalah salah satunya.
Tiara ada di sana. Ia memegang tangan itu sampai tangan itu tidak lagi menjawab, dan ia tidak menangis saat itu juga — anehnya, tubuhnya tahu ada yang harus diselesaikan dulu: ibu, yang duduk mematung di kursi bangsal; dokter yang harus dipanggil; saudara-saudara yang harus ditelepon. Ia bekerja, sebagaimana ia selalu bekerja di bawah tekanan: checklist, langkah demi langkah, jangan berpikir tentang yang besar sebelum yang kecil selesai. Baru menjelang subuh, ketika semuanya tertata dan rumah mulai penuh tetangga, ia keluar ke teras — teras tempat kursi roda itu biasa berdiri — dan menemukan kursi roda itu kosong, menghadap jalan, seolah pemiliknya baru saja masuk sebentar.
Di situlah ia runtuh. Bukan di bangsal, bukan di depan orang — di teras, di depan kursi roda yang kosong, sendirian dengan langit subuh. Ia tidak menangisi kematiannya; kematian itu tenang, dan ia sudah dua puluh tahun mempersiapkan diri tanpa pernah mengakuinya. Ia menangisi hal-hal kecil: bahwa tidak akan ada lagi sore-sore membaca koran. Bahwa tangan itu tidak akan pernah lagi menepuk dada. Bahwa kalimat terakhir bapaknya adalah tentang dirinya, dan ia tidak punya apa-apa untuk membalasnya kecuali janji yang diucapkan dalam hati, di teras itu, kepada kursi roda yang kosong: aku akan terus tinggi, Pak. Aku janji. Bukan pesawatnya — aku.
Sembilan hari itu juga menyimpan satu penemuan yang menghancurkan dan menghangatkan sekaligus. Pada hari kelima, ketika mencari pakaian terbaik bapaknya untuk hari-hari yang mereka semua tahu akan datang, Tiara menemukan sebuah kardus di kolong dipan — kardus sepatu tua, dililit karet gelang — dan di dalamnya: hidupnya, disimpan. Rapor-rapor SD-nya, dengan nilai-nilai merah dan biru. Piagam lomba cerdas cermat kelas empat yang sudah ia lupakan. Foto-foto kecil dari dompet yang dicetak: Tiara berseragam SMA, Tiara hari pertama pelatihan, dan — yang membuatnya duduk di lantai kamar itu dan tidak bisa bergerak — potongan koran kota tentang wawancaranya, tentang 'awak kabin yang menyelamatkan penerbangan', dilipat rapi, dilapisi plastik, disimpan seperti surat berharga. Bapaknya tidak pernah membicarakannya. Bapaknya tidak pernah membicarakan apa pun. Tapi di kolong dipannya, lelaki pendiam itu menyimpan seluruh kebanggaannya dalam kardus sepatu — setiap halaman, setiap foto, setiap potongan koran — dan Tiara memahami, dengan rasa sakit yang utuh, bahwa selama ini ia mengira harus membuktikan sesuatu kepada ayahnya, padahal ayahnya sudah lama selesai membuktikan: sudah lama mengumpulkan bukti-bukti bahwa anaknya berhasil, satu per satu, dalam kardus, dalam diam. Ibunya menemukannya di lantai dengan kardus itu, dan duduk di sebelahnya, dan berkata pelan: 'Bapakmu kalau ada tamu menceritakan kamu terus. Tapi ke kamu, tidak pernah. Begitulah dia. Sayangnya disimpan di kolong dipan, bukan di mulut.' Dan mereka berdua duduk di lantai kamar itu dengan kardus sepatu di antara mereka, ibu dan anak, membaca ulang sebuah kehidupan yang ternyata — ternyata — tidak pernah sedetik pun tidak dibanggakan.