Telepon itu datang pada pukul dua siang, di sela dua penerbangan, di ruang awak bandara Makassar — dan Tiara tahu dari nada deringnya, dari jamnya, dari cara ibunya berkata 'Nak' saja, bahwa kabar buruk tidak pernah menunggu jadwal yang longgar.
Bapaknya jatuh dari kursi roda pagi itu — pendarahan dalam, kata dokter puskesmas, harus dirujuk ke rumah sakit kabupaten, dan kondisinya naik turun. Ibunya menceritakannya dengan suara yang berusaha rapi, suara perempuan yang sudah seumur hidup menanggung sendirian dan tidak tahu cara meminta tanpa merasa membebani: 'Ibu tidak minta kamu pulang, Nak. Ibu tahu kerjaanmu. Ibu cuma... memberi tahu. Supaya kamu tahu.' Suaranya berhenti sebentar, dan Tiara mendengar bunyi warung di latar — bunyi kehidupan yang terus berjalan, yang tidak tahu bahwa hari ini bukan hari biasa — dan bunyi itu entah kenapa yang membuat mata Tiara panas: dunia yang tidak berhenti untuk kabar buruk — dan tidak pernah berhenti, dan tidak akan pernah, dan justru karena itu seseorang harus rela menjadi orang yang berhenti.
Dan kalimat itulah — Ibu tidak minta kamu pulang — yang menghancurkan pertahanan Tiara lebih dari jeritan mana pun. Karena ia mengenal kalimat itu; ia membesarkan dirinya di rumah yang penuh kalimat seperti itu: kami baik-baik saja, tidak usah kirim banyak-banyak, jangan khawatirkan kami. Kalimat-kalimat yang artinya selalu kebalikannya.
Ia duduk di ruang awak itu dengan telepon di tangan dan jadwal di kepala: dua penerbangan lagi hari ini, layover, dua penerbangan besok, baru pulang basis lusa. Ia bisa meminta pergantian — ada mekanismenya, ada pasalnya, pasal yang bahkan ia bantu tulis — tapi pergantian butuh waktu, dan pengganti butuh ditemukan, dan penerbangan sore ini berangkat dalam empat puluh menit. Seluruh sistem penerbangan bergerak di sekelilingnya dengan ketepatan yang kejam, dan di tengahnya, seorang anak sulung menghitung jarak antara dirinya dan ranjang bapaknya: seribu empat ratus kilometer, dan empat sektor penerbangan, dan dua malam.
Yustika — yang kebetulan satu rotasi — menemukannya di sudut ruang awak dan membaca wajahnya dalam satu detik. 'Keluarga?' Tiara mengangguk, menceritakannya dengan suara yang ia jaga tetap fungsional. Dan Yustika tidak berkata 'sabar ya' atau 'semoga membaik' — ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon penjadwal, di depan Tiara, dengan otoritas lima belas tahun: 'Saya butuh pengganti untuk Anindhita, dua sektor terakhir hari ini dan dua sektor besok. Alasan: darurat keluarga. Ya, darurat sungguhan. Saya yang menjamin.' Ia menutup telepon. 'Selesai. Kamu terbang sektor pertama ini — tidak mungkin diganti, terlalu mepet — dan dari bandara tujuan, kamu langsung pulang. Bukan ke basis. Ke kabupaten. Aku yang urus surat-suratnya.'
Tiara memandanginya dengan tenggorokan yang tidak bisa berkata-kata. 'Mbak—'
'Diam,' kata Yustika. 'Dua tahun lalu aku menulis catatan yang membuatmu hampir kehilangan pekerjaan. Itu benar dan aku tidak menyesal. Tapi hari ini aku bisa melakukan ini, dan ini juga benar. Prosedur tidak pernah minta kita berhenti jadi manusia, Tiara. Ia hanya minta kita menjadi manusia dengan cara yang tercatat.'
Sektor pertama itu adalah penerbangan terberat yang pernah Tiara jalani tanpa darurat apa pun di dalamnya — satu jam dua puluh menit melayani dengan senyum sementara di dadanya ada ranjang rumah sakit kabupaten. Ia bekerja, karena bekerja adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk seratus delapan puluh orang yang tidak tahu apa-apa. Dan ketika roda menyentuh runway, dan penumpang turun, dan tugasnya selesai, ia tidak ke ruang awak — ia ke loket, ke penerbangan pertama ke kota terdekat rumahnya, dengan seragam yang masih melekat, dengan koper dinas yang masih beroda, dengan doa yang ia ulang sepanjang jalan seperti checklist: tunggu aku. Tunggu aku. Tunggu aku.
Ada satu hal yang dipelajarinya di sektor itu yang tidak pernah tertulis di mana pun: betapa beratnya melayani orang yang bahagia ketika hatimu sedang robek. Di lorong itu ada sepasang pengantin baru yang bulan madu, ada anak kecil yang pertama kali naik pesawat dan menempelkan hidungnya ke jendela, ada bapak-bapak yang pulang kerja dengan oleh-oleh di pangkuan — dan Tiara melayani mereka semua, menuang kopi, menjawab pertanyaan, tersenyum dengan senyum yang sudah menjadi otot. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang boleh tahu. Dan di tengah putaran minuman itu, ia menemukan dirinya memikirkan sesuatu yang aneh: bahwa di suatu tempat di masa lalu, di penerbangan-penerbangan yang pernah ia naiki sebagai penumpang, pasti pernah ada awak yang melayaninya dengan hati yang sedang hancur — dan ia tidak pernah tahu, karena mereka profesional, karena mereka menutupnya rapat. Berapa banyak orang yang kutemui dalam hidupku, pikirnya, yang sedang menanggung sesuatu yang besar, dan melayaniku dengan rapi, dan tidak pernah kuberi tahu bahwa aku melihat mereka? Ia menyimpan pikiran itu, dan sejak sektor itu, ia tidak pernah lagi memperlakukan orang yang melayaninya — pramugari, pelayan, kasir, siapa pun — sebagai orang tanpa cerita. Di sektor terberatnya, ia justru diajari keramahan yang paling dalam: keramahan kepada orang yang luka-nya tidak terlihat. Karena semua orang sedang berjuang dengan sesuatu. Dan kopi yang kau tuangkan untuk mereka mungkin satu-satunya hal hangat yang mereka terima hari itu.