Pertemuan-pertemuan tim kecil itu berpindah tempat pada bulan kedua — dari ruang rapat dingin ke ruang arsip divisi keselamatan, karena data yang mereka butuhkan tertimbun di sana: laporan-laporan insiden bertahun-tahun, catatan pelaporan sakit, berkas-berkas yang tidak pernah dibaca lagi sejak disimpan.
Dan ruang arsip itu menjadi tempat yang tidak pernah Tiara bayangkan akan ia sukai: sunyi, berdebu, berbau kertas tua, dengan satu meja kerja di tengah tumpukan map yang tidak pernah selesai. Dimas bekerja di sana seperti ikan di air — lelaki itu, ia pelajari, adalah orang yang membaca laporan insiden untuk bersenang-senang, yang menganggap setiap berkas adalah cerita tentang manusia yang mencoba yang terbaik dengan keterbatasannya. 'Setiap laporan itu sebenarnya surat,' katanya suatu sore, sambil menurunkan map dari rak tinggi. 'Orang-orang mengira ini birokrasi. Tapi kalau kamu baca pelan-pelan, ini surat dari orang yang mengalami sesuatu kepada orang yang belum mengalaminya. Isinya selalu sama: jangan ulangi kesalahan kami.'
Baru pada minggu-minggu berikutnya Tiara mengerti dari mana cara pandang itu berasal. Sore itu hujan deras dan rapat ditunda, dan mereka terjebak lebih lama dari biasanya di ruang arsip, dan entah bagaimana pembicaraan sampai ke alasan-alasan — mengapa seseorang memilih pekerjaan membaca kecelakaan setiap hari. Dimas menjawabnya sambil memandangi rak, tidak menatapnya: 'Kakakku teknisi pesawat. Dua belas tahun lalu ada kecelakaan pesawat latih di tempatnya bekerja — bukan dia yang di dalamnya, tapi dia yang memeriksa mesinnya seminggu sebelumnya. Dia tidak bersalah; investigasinya jelas. Tapi dia menghabiskan tahun-tahun sesudahnya membaca ulang pekerjaannya sendiri, mencari kesalahan yang tidak ada. Aku menonton itu dari dekat. Dan aku memutuskan: kalau ada orang yang harus membaca berkas-berkas ini setiap hari, biarlah orang yang baca dengan hati. Bukan untuk menyalahkan yang sudah lewat — untuk menjaga yang belum terjadi.' Ia akhirnya menoleh. 'Makanya aku keras soal data. Data itu bukan angka bagiku. Data itu adalah caraku memastikan tidak ada lagi kakak-kakak yang menghukum dirinya sendiri di garasi, dan tidak ada lagi adik-adik yang menontonnya.' Tiara tidak menjawab dengan kata-kata besar. Ia hanya mengisi ulang cangkir kopi lelaki itu tanpa diminta — dan dalam bahasa ruang arsip yang sunyi itu, keduanya tahu, pengisian ulang itu adalah jawaban.
Tiara mulai datang lebih awal dari jadwal rapat, dengan alasan membaca bahan — alasan yang makin lama makin tipis dan makin tidak disoalkan siapa pun — dan ruang arsip itu perlahan menjadi tempat mereka berdua, lebih sering daripada tidak, hanya berdua, dengan kopi dari termos yang bergantian dibawa. Tidak ada yang romantis di dalamnya, setidaknya tidak ada yang diucapkan. Yang ada adalah pembicaraan-pembicaraan yang memanjang dari pasal ke pasal ke hal-hal lain: mengapa prosedur gagal mengubah perilaku, mengapa manusia lebih patuh pada cerita daripada aturan, mengapa kelelahan awak kabin tidak pernah menjadi berita sampai ada yang terbang demam dan menyelamatkan penerbangan.
'Kamu tahu apa yang paling menarik dari berkasmu?' kata Dimas suatu sore, dan langsung tampak menyesal mengatakannya, karena kalimat itu keluar dengan nada yang salah. 'Maksudku — secara profesional.'
'Secara profesional,' ulang Tiara, menunggu.
'Kamu satu-satunya kasus dalam sepuluh tahun di mana awak yang melanggar fit-to-fly justru berkinerja sempurna saat insiden. Biasanya pelanggaran dan kegagalan berjalan bersamaan — orang yang lalai di darat lalai di udara. Kamu mematahkan polanya. Dan pola yang patah adalah hal yang paling berharga bagi analis: karena pola yang patah memaksa kami bertanya kenapa.' Ia menatapnya sebentar, lalu kembali ke map. 'Jawabannya, menurutku: karena pelanggaranmu bukan kelalaian. Pelanggaranmu adalah keputusan yang diambil dalam kondisi yang tidak pernah disediakan sistem untukmu. Itu bukan cacat karakter. Itu cacat rancangan. Dan cacat rancangan diperbaiki dengan pasal, bukan dengan hukuman.'
Tiara diam cukup lama setelah kalimat itu. Bukan karena kalimat itu memuji — tapi karena kalimat itu meletakkan, dengan presisi teknis, sesuatu yang sudah berbulan-bulan ia rasakan tanpa kata: bahwa apa yang terjadi padanya bukan kegagalan moral, melainkan benturan antara manusia dan rancangan. Dan didengar oleh orang yang pekerjaannya membaca benturan itu setiap hari — didengar dengan benar, dengan angka, dengan bahasa yang tepat — adalah pengalaman yang menenangkan dengan cara yang tidak ia duga.
'Satu hal lagi,' kata Dimas, masih tanpa menatap, menutup map dengan gerakan yang sedikit terlalu rapi. 'Aku membaca semua berkas yang masuk ke divisi ini. Ribuan. Dan aku tidak pernah meminta tanda tangan siapa pun. Tapi—' ia ragu, dan keraguan itu sendiri adalah sesuatu yang jarang pada lelaki itu, '—kalau suatu hari kamu menulis tentang malam itu, tentang semuanya — aku ingin jadi pembaca pertama. Secara profesional. Atau tidak profesional juga tidak apa-apa.'
Kopi di ruang arsip sore itu terasa berbeda sesudahnya. Tiara tidak menjawab kalimat itu — tidak dengan kata-kata, karena kata-kata di ruang arsip selalu terdengar terlalu keras. Tapi malamnya, di buku catatannya, ia menulis satu baris yang tidak berhubungan dengan daftar apa pun: Ada orang yang meminta menjadi pembaca pertamaku. Dan aku sudah tahu jawabannya, sejak lama, sejak ruang arsip itu berhenti terasa dingin, sejak debu dan kertas tua mulai berbau seperti sesuatu yang kutunggu-tunggu setiap dua minggu.