Rumah sakit bandara pada tengah malam itu dipenuhi orang-orang berselimut alumunium yang berkerisik setiap kali bergerak, sehingga bangsal darurat itu terdengar seperti sarang burung dari kertas timah. Seratus delapan puluh penumpang diperiksa bergiliran — sebagian besar hanya syok, telinga, dan ketakutan yang tertunda — dan di antara mereka, awak pesawat itu dikumpulkan di satu sudut: dengan perban, dengan kantong es, dengan wajah-wajah yang masih berada separuh di udara.
Tiara diperiksa paling lama, karena pengakuannya sendiri di apron. Tensi diukur, darah diambil, demam dicatat: tiga puluh delapan koma tujuh, turun dari puncaknya, tapi cukup untuk membuat dokter jaga menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca — antara kagum dan tidak setuju. 'Anda tahu Anda seharusnya tidak terbang,' katanya, bukan bertanya. 'Tahu, Dok,' jawab Tiara. 'Tapi malam ini saya tidak bisa membayangkan kabin itu tanpa satu orang lagi yang berdiri.' Dokter itu tidak menjawab, hanya menulis — dan Tiara memperhatikan pena itu dengan kekhawatiran yang dingin, karena ia tahu apa yang sedang ditulis akan berjalan jauh melampaui bangsal ini.
Di sudut bangsal, kru itu berkumpul dengan cara yang tidak diatur siapa pun. Resa dengan kepala diperban tipis, memegang kopi dengan dua tangan. Rani dan Gilang duduk berdampingan, masih pucat, masih sesekali saling menatap untuk memastikan yang lain masih ada. Dan Pak Bima — lengan dibidai resmi sekarang, wajah menahan nyeri yang tidak ia akui — duduk di kursi roda rumah sakit dan menolak dibawa ke kamar sebelum seluruh awaknya terkumpul dan terhitung. 'Headcount,' katanya kepada siapa pun yang lewat. 'Kru juga dihitung. Itu aturannya.'
Ketika semua sudah terhitung — enam awak, seratus delapan puluh penumpang, dua pilot — barulah purser itu membiarkan dirinya didorong ke kamar. Di ambang bangsal ia berhenti, menoleh ke Tiara, dan berkata di depan semua orang, dengan suara yang sengaja cukup keras: 'Untuk catatan semua yang ada di sini: malam ini saya jatuh di menit pertama. Dan kabin itu dibawa pulang oleh awak paling junior di pesawat. Kalau ada yang mau menulis laporan yang lain, silakan. Tapi saya akan menandatangani yang benar.' Lalu ia hilang di balik pintu, dan Resa menatap Tiara dengan mata yang basah, dan tidak ada yang berkata apa-apa karena semuanya sudah dikatakan.
Menjelang subuh, ketika bangsal itu mulai mengendur, seseorang — Rani, kalau tidak salah — mengusulkan mereka berfoto bersama. Bukan untuk diunggah; untuk disimpan. Maka berdirilah mereka di sudut bangsal itu: awak-awak dengan perban dan kantong es dan selimut alumunium, tidak ada satu pun yang terlihat seperti foto awak kabin di iklan, dan justru karena itu foto itu kelak menjadi foto yang paling berharga bagi semua orang di dalamnya. Mereka bertukar nomor malam itu — bukan nomor dinas, nomor pribadi — dan seseorang membuat grup percakapan dengan nama yang diusulkan Gilang dan disetujui tanpa perlu voting: 'Yang Turun Bersama'. Grup itu, dalam tahun-tahun berikutnya, tidak pernah sepi lebih dari seminggu. Karena ada ikatan yang hanya ditempa dalam delapan menit, dan tidak bisa ditiru oleh tahun-tahun biasa.
Pukul tiga pagi, di sudut bangsal yang paling sunyi, Tiara akhirnya menelepon rumah. Ibunya menjawab sebelum dering kedua — ibu-ibu tidak pernah benar-benar tidur ketika anaknya jauh — dan Tiara mendengar suara warung di latar, televisi yang masih menyala, dan ia tahu: berita sudah sampai. Kabar selalu sampai lebih cepat dari ambulans.
'Ibu lihat berita,' kata suara itu, serak. 'Ada pesawat... mereka bilang tidak ada korban. Mereka sebut nomor penerbangannya. Ibu hafal jadwalmu, Nak.'
'Aku selamat, Bu. Semua selamat. Tidak ada satu pun yang—' suaranya berhenti, karena tiba-tiba tenggorokannya tidak bisa diajak bekerja sama.
'Kamu di dalamnya,' kata ibunya. Bukan pertanyaan. 'Kamu yang kerja malam ini. Ibu tahu.'
Dan Tiara, yang sepanjang malam tidak goyah — yang memadamkan api, yang mengomandoi kabin, yang keluar terakhir — menangis di sudut bangsal rumah sakit dengan telepon di telinga, menangis dengan cara yang tidak bersuara, sementara ibunya di seberang sana menangis juga, dan keduanya tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama, karena tidak ada kalimat yang cukup kuat, hanya ada suara napas dua perempuan di dua kota yang sama-sama tahu betapa tipisnya malam tadi.
'Pulang kapan?' tanya ibunya akhirnya, pertanyaan yang selalu itu, pertanyaan ibu-ibu di seluruh dunia.
'Belum tahu, Bu. Masih ada pemeriksaan. Tapi aku sehat. Aku utuh.' Ia berhenti, lalu menambahkan hal yang paling penting, hal yang baru ia mengerti malam itu: 'Bu. Terima kasih sudah tidak pernah menyuruhku berhenti. Kalau Ibu dulu menyuruhku berhenti, malam ini seratus delapan puluh orang tidak punya siapa-siapa di lorong itu.'
Di seberang, ibunya diam sebentar, lalu berkata dengan suara yang bergetar tapi penuh: 'Ibu tidak pernah menyuruhmu berhenti karena Ibu tahu kamu anak yang berdiri paling akhir. Sejak kamu kecil. Pulanglah kalau sudah boleh pulang. Warungnya baik-baik saja. Ibu baik-baik saja. Kami menunggu, seperti biasa.'
Tiara menutup telepon dan duduk lama di sudut bangsal itu, dengan selimut alumunium yang masih berkerisik, dan untuk pertama kalinya sejak dentuman itu, ia membiarkan seluruh malam itu memukulnya sekaligus — bukan potongan-potongan, melainkan seluruhnya. Dan ia tetap utuh. Lelah, demam, gemetar, menghadapi entah-apa-esok-hari. Tapi utuh.