Tanah datang dengan benturan yang keras tapi benar — roda menyentuh aspal, pesawat melompat kecil sekali, lalu menempel, dan mesin meraung mundur, dan seluruh kabin ditekan ke depan melawan sabuk dengan suara serempak yang tidak bisa ditiru latihan mana pun: bunyi seratus delapan puluh tubuh yang diselamatkan fisika.
Pesawat melambat. Melambat. Berhenti.
Dan dalam sepersekian detik keheningan setelah berhenti — sebelum apa pun terjadi — terdengar bunyi yang tidak akan pernah dilupakan Tiara: napas. Seratus delapan puluh napas yang keluar bersamaan, seperti satu organisme raksasa yang akhirnya boleh bernapas.
'TETAP DUDUK!' suaranya memotong, karena inilah momen yang diperingatkan Pak Bima: orang berdiri terlalu cepat. 'TETAP DUDUK! TUNGGU PERINTAH!' Dan dari kokpit, segera setelahnya, pengumuman: awak siaga pintu, evaluasi kondisi, siapkan evakuasi terkendali. Di luar jendela, lampu merah kendaraan darurat sudah berputar-putar, bergerak mendekat di aspal malam — pemandangan paling indah yang pernah Tiara lihat dalam hidupnya: orang-orang yang datang.
Asap di kabin sudah tipis. Api di kompartemen tidak menyala kembali. Pilot memutuskan: evakuasi tidak perlu lewat seluncuran — tangga akan datang, penumpang diturunkan terkendali. Kabar itu disambut kabin dengan sesuatu antara tangis dan tepuk tangan yang tertahan.
Tapi keputusan itu tidak mengurangi pekerjaan. Justru di situlah bagian tersulitnya: menjaga seratus delapan puluh orang tetap duduk dan tenang di pesawat yang berhenti, sementara tubuh mereka berteriak minta keluar. Tiara berdiri di lorong — dan baru sekarang ia merasakan kakinya, gemetar yang bukan takut melainkan adrenalin yang kehabisan muara — dan berbicara, terus berbicara, mengalirkan informasi seperti menuang air: tangga sedang datang, beberapa menit lagi, tetap duduk, kalian hebat, tetap duduk.
Pintu depan kiri dibuka ketika tangga tiba. Udara malam masuk — udara darat, bau aspal dan rumput dan dunia — dan Tiara berdiri di mulut pintu mengatur arus keluar, baris demi baris, depan ke belakang. Penumpang melewatinya satu per satu, dan anehnya, hampir semua berhenti sepersekian detik: menyentuh lengannya, mengangguk, berkata terima kasih dengan suara yang masih gemetar oleh sisa takut. Seorang perempuan tua menggenggam tangannya dengan dua tangan dan tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk-angguk. Anak kecil yang ia tepuk bahunya tadi lewat dalam gendongan ayahnya, dan melambai kecil, dan Tiara melambai balik.
Pak Bima dievakuasi dengan tandu setelah arus penumpang menipis — protes, tentu saja, 'aku bisa jalan', dan tidak diizinkan oleh siapa pun, termasuk oleh tim medis dan terutama oleh Tiara. Resa menyusul dengan kantong es di pelipis, berjalan sendiri dengan angkuh yang rapuh.
Dan Tiara keluar terakhir.
Ia menyusuri kabin kosong itu sekali, sesuai prosedur, memeriksa setiap baris, setiap kolong kursi, toilet demi toilet — kabin yang dua jam lalu penuh manusia kini hanya penuh masker kuning yang menggantung dan barang-barang yang ditinggalkan: sebuah syal, satu sepatu anak, Al-Qur'an kecil di saku kursi yang nanti akan dicatat petugas lost and found. Kabin yang kosong terdengar berbeda. Kabin yang kosong terdengar seperti sesudah perang.
Lalu ia menuruni tangga itu — tangga biasa, anak tangga bandara, hal paling tidak heroik di dunia — dan kakinya menyentuh aspal, dan lututnya, tanpa permisi, melipat.
Ia tidak jatuh sepenuhnya. Ada tangan-tangan — petugas medis, petugas ground, seseorang — yang menahannya, memapahnya ke tepi, mendudukkannya di atas sesuatu. Selimut alumunium disampirkan ke bahunya, dan ia tidak pernah tahu bahwa selimut alumunium bisa terasa sehangat itu. Di sekelilingnya, apron sibuk: lampu berputar, penumpang digiring ke bus, radio berderik. Dan di tengah semua itu, Tiara duduk dengan selimut berkerisik, memandangi pesawat yang barusan ia tinggalkan — badan putih yang biasa saja, pesawat biasa, yang hari ini membawa seratus delapan puluh orang dan mengembalikan seratus delapan puluh orang.
Seorang petugas medis berjongkok di depannya, menyorot matanya dengan senter kecil, dan mengernyit. 'Suhu badan Anda tinggi,' katanya. 'Anda demam. Sejak kapan?'
Dan Tiara, yang sudah tidak punya tenaga untuk menyembunyikan apa pun, menjawab dengan jujur untuk pertama kalinya sejak pukul tiga pagi: 'Sejak semalam. Saya terbang dengan demam. Saya tahu aturannya. Saya tetap terbang.'
Petugas itu memandanginya — perempuan berselimut alumunium yang barusan mengomandoi sebuah kabin keluar dari langit — dan berkata pelan, 'Itu urusan besok. Malam ini, Anda pasien saya. Dan Anda hidup. Dan mereka semua—' ia menggerakkan dagu ke arah bus-bus penumpang, '—hidup. Besok urusan besok. Malam ini kita ke rumah sakit.'
Tiara dibawa ke ambulans dengan selimut berkerisik di bahu. Di pintu ambulans, ia menoleh sekali lagi ke pesawat itu — ke jendela-jendela gelapnya, ke pintu depan yang masih terbuka, ke arah ujung lorong di dalam sana yang tidak terlihat dari luar. Kursi lipat itu ada di dalam. Tempat ia duduk, tempat ia berdiri, tempat ia menjadi orang yang ia tidak tahu ia bisa menjadi.
Lalu pintu ambulans tertutup, dan malam itu menjadi sirine dan lampu, dan Tiara akhirnya — akhirnya — membiarkan dirinya demam. Dan hal terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya melunak adalah bunyi radio petugas yang berderik, angka-angka yang dilaporkan, jumlah yang dihitung dua kali oleh dua orang yang berbeda: seratus delapan puluh. Semua turun. Semua utuh.