Kerja bakti gang dimulai pukul tujuh pagi dan dihadiri lebih banyak orang daripada yang Tara perkirakan. Pak Darto membawa sekop, Sari datang dengan sarung tangan kebun, dan Galih muncul membawa kursi rotan yang sudah diperbaiki. Kaki kursinya kini rata; ketika diletakkan di lantai, kursi itu diam untuk pertama kalinya.
“Rasanya aneh,” kata Bima saat mencobanya. “Seperti baru sadar selama ini aku duduk sambil naik perahu.”
Galih tersenyum. “Kalau mau tetap bergoyang, saya bisa longgarkan lagi.”
“Jangan beri ide. Bos saya suka hemat.”
“Aku dengar,” kata Tara dari dekat pintu.
Mereka membersihkan saluran bersama. Warga mengangkat sampah, memotong ranting yang menutup kisi-kisi, dan menandai bagian yang harus diperbaiki pengelola lingkungan. Tidak semua masalah selesai. Pipa di ujung gang retak dan membutuhkan petugas kota. Namun, setidaknya air tidak lagi menggenang di depan Kafe Pendar.
Tara berterima kasih kepada semua orang dengan kopi dan roti panggang. Ia menghitung bahan yang dipakai dan menuliskan biaya sebenarnya pada papan kecil, supaya tidak membuat kafe rugi diam-diam.
“Kalau semua dibayar, kami juga bayar,” kata Sari.
“Untuk yang ikut kerja bakti, minuman pertama dari kafe,” kata Tara. “Kalau mau tambah, bayar seperti biasa.”
Pak Darto tertawa. “Begitu lebih jelas.”
Sore harinya, Tara membuka kembali map peninggalan bibinya. Ada kontrak sewa bangunan, tagihan yang belum dibayar, dan selembar surat tulisan tangan. Mira menulis bahwa Pendar pernah menjadi tempat warga menitipkan pengumuman, mencari pekerjaan sambilan, bahkan menunggu hujan reda. Ia tidak meminta Tara mempertahankan kafe selamanya. Ia hanya ingin keponakannya memutuskan setelah benar-benar melihat siapa yang menggunakan tempat itu.
Tara membaca surat tersebut dua kali. Kalimat itu tidak mengubah angka di buku kas, tetapi membuatnya merasa tidak perlu segera memilih antara menjual dan menyelamatkan segalanya.
Malam itu mereka mengadakan rapat kecil setelah kafe tutup. Sari membawa teh, Pak Darto duduk di kursi rotan yang kini tidak goyang, dan Galih ikut karena ingin melihat bagaimana kafenya akan menggunakan desain perbaikan itu.
Tara menjelaskan bahwa Pendar memiliki waktu tiga bulan. Ia menunjukkan keadaan keuangan dengan angka yang tidak dibuat lebih indah: pemasukan belum menutup semua biaya, dan sebagian peralatan perlu diganti. Jika mereka ingin mencoba bertahan, mereka perlu program yang bisa menarik pelanggan tanpa membebani staf.
“Bisa ada kelas kecil,” usul Galih. “Orang belajar memperbaiki barang sederhana. Saya bisa ajarkan cara memperbaiki kursi atau rak.”
Sari mengusulkan lokakarya merangkai bunga dengan bahan sisa yang masih layak. Pak Darto menawarkan sesi singkat tentang merawat engsel dan perabot, tetapi hanya satu kali sebulan karena lututnya tidak kuat berdiri lama.
Bima mengangkat tangan. “Aku usul semua acara punya batas peserta dan jam selesai. Jangan sampai kita membuat program yang terdengar menyenangkan tapi membuat semua orang kelelahan.”
Tara mengangguk dan menuliskan syarat itu: jadwal terbatas, biaya bahan jelas, pembagian tugas disepakati. Mereka akan mencoba satu acara setiap dua minggu, lalu melihat apakah peserta datang dan apakah hasilnya menutup biaya.
“Kalau gagal?” tanya Sari.
“Kita belajar bahwa acara itu tidak cocok,” jawab Tara. “Bukan menyalahkan orang yang datang atau yang tidak datang.”
Mereka memutuskan memulai dengan kelas memperbaiki barang kecil pada Sabtu depan. Galih akan membawa alatnya; Tara menyiapkan tempat; Bima mengatur minuman dan jumlah kursi. Pak Darto bersedia hadir sebagai tamu, tetapi tidak akan menjadi pengajar utama.
Setelah rapat selesai, Galih membantu Tara menyusun kursi. Mereka berdua merapikan meja tanpa banyak bicara. Ketika selesai, ia bertanya apakah Tara selalu tinggal di kota itu.
“Tidak. Aku bekerja di Surabaya. Aku pulang untuk mengurus surat-surat Bibi.”
“Berarti setelah tiga bulan kau pergi?”
“Bisa jadi.”
Galih menerima jawaban itu tanpa mencoba mengubahnya. “Kalau begitu, kita punya tiga bulan untuk membuat daftar yang bagus.”
Tara tersenyum. “Kau suka daftar?”
“Saya suka tahu kapan harus berhenti.”
Ia pulang membawa alatnya. Tara kembali menatap surat bibinya. Untuk pertama kalinya, tiga bulan terasa seperti waktu yang bisa digunakan, bukan ancaman yang sedang mendekat.
Setelah pembicaraan itu, Tara menyusun langkah yang paling mungkin untuk membuka kembali Pendar sambil menghitung biaya dan tidak menganggap bantuan sebagai utang budi. Ia menuliskan apa
yang perlu diputuskan hari itu dan apa yang masih bisa menunggu. Bima membaca catatannya sebelum menambahkan
pendapat. Mereka tidak selalu sepakat, tetapi tidak ada keputusan yang diambil hanya karena seseorang paling
keras berbicara atau paling lama bekerja.
Di akhir jam kerja, mereka memeriksa dampak keputusan tersebut pada orang yang sehari-hari menjaga
kafe. Bila ada tugas tambahan, tugas itu dicatat bersama waktu dan upahnya. Bila sesuatu belum mampu dikerjakan,
mereka menyampaikannya kepada pelanggan atau pemilik bangunan dengan alasan yang jelas. Cara itu membuat Pendar
pelan-pelan terasa sebagai usaha bersama, bukan beban yang disembunyikan oleh satu orang.
Tara juga menghubungi pihak yang terkait sebelum membuat janji. Ia tidak ingin Bima, Riko, Sari, atau
Galih mengetahui perubahan penting dari kabar terakhir. Ketika ada perbedaan pendapat, ia meminta mereka
menerangkan risiko dan pilihan yang tersedia. Tidak semua orang langsung senang, tetapi semua orang tahu alasan
keputusan itu dibuat dan kapan mereka dapat mengevaluasinya kembali.
Malamnya, Tara mencatat judul hari itu, "Rapat Setelah Tutup", di buku kecil milik Pendar. Ia menulis bahwa
usaha yang sehat tidak selalu berarti ramai atau terus bertambah. Yang lebih penting, orang-orang di dalamnya
masih punya waktu untuk pulang, beristirahat, dan menyampaikan keberatan sebelum masalah berubah menjadi
kebiasaan. Catatan itu menjadi pegangan untuk langkah berikutnya.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.