Pagi berikutnya, Tara datang membawa map berisi surat-surat dan sepatu yang masih terkena lumpur. Gang di depan kafe tergenang semalam. Air tidak sampai masuk ke dalam, tetapi jejaknya meninggalkan garis cokelat pada dinding luar.
Bima sudah berdiri di kursi, menulis sesuatu di papan tulis menu.
“Kalau itu daftar utang, tulis namaku paling bawah,” kata Tara.
“Ini daftar barang yang perlu diperbaiki. Utangmu ada di buku kas.”
Tara melepas jaket. Di papan tertulis: saluran air, lampu belakang, engsel pintu, kaki kursi, kipas angin. Di sampingnya ada kolom nama.
“Kita tidak punya uang untuk mengerjakan semuanya.”
“Makanya ini daftar, bukan pesanan.” Bima turun dari kursi. “Kalau kita tahu siapa bisa mengerjakan apa, mungkin biayanya lebih ringan.”
Tara membuka buku kas. Pengeluaran listrik naik, sedangkan pemasukan turun sejak bibinya sakit. Ia mengusulkan menutup kafe pada hari Senin agar mereka bisa memperbaiki bagian belakang tanpa mengganggu pelanggan.
“Kalau tutup, kita kehilangan pemasukan satu hari,” kata Bima.
“Kalau kipasnya mati saat ramai, kita kehilangan pelanggan lebih banyak.”
Mereka sepakat tutup setengah hari dan menghubungi pemilik toko bangunan. Sebelum sempat menelepon, seorang laki-laki tua masuk sambil membawa tangga lipat. Namanya Pak Darto, tukang servis yang dulu rutin memperbaiki rumah-rumah di gang itu.
“Bu Mira bilang kalau ada masalah dengan engsel, cari saya,” katanya. “Saya dengar kafe ini dibuka lagi.”
“Bibi saya?” Tara memandangnya heran.
Pak Darto mengangguk. “Beliau pernah membayar saya dengan makan siang saat saya belum punya uang. Jadi kalau cuma engsel, saya bisa bantu.”
Tara tidak suka menerima bantuan tanpa tahu hitungannya. Ia menjelaskan bahwa mereka akan membayar ongkos kerja, meski mungkin tidak bisa membeli bahan hari itu.
“Bagus,” kata Pak Darto. “Saya juga tidak suka kerja tanpa dibayar. Tapi saya bisa menunggu sampai akhir minggu.”
Bima menambahkan nama Pak Darto di kolom daftar. Setelah engsel selesai diperiksa, mereka pergi ke belakang untuk membersihkan saluran. Tara mengenakan sarung tangan, sementara Bima mengangkat daun dan plastik yang menyumbat kisi-kisi. Pak Darto menunjukkan bahwa kemiringan selokan membuat air tertahan di sudut ruko.
“Ini harus dilaporkan ke pengelola lingkungan,” katanya. “Kalau cuma dibersihkan di depan kafe, airnya tetap datang dari gang atas.”
Tara mencatat nomor ketua RT dan mengirim foto genangan. Ia meminta tetangga bergabung untuk kerja bakti pada akhir pekan. Beberapa membalas, sebagian hanya membaca pesan.
Menjelang siang, seorang mahasiswa datang untuk mengerjakan tugas. Ia duduk di kursi rotan dan segera merasakan goyangannya.
“Kursinya memang begini?”
“Untuk sementara,” jawab Bima. “Kalau Anda bisa menyelesaikan tugas tanpa jatuh, minuman berikutnya gratis.”
Tara menatapnya. “Tidak ada minuman gratis.”
Mahasiswa itu tersenyum. “Saya bisa bantu memperbaiki kursi. Saya belajar desain produk.”
Namanya Galih. Ia memeriksa bagian bawah kursi dan menyarankan mengganti ganjal kayu, bukan mengencangkan baut yang sudah aus. Ia punya potongan kayu sisa proyek di rumah, tetapi meminta izin membawa kursi itu ke bengkel kampus selama sehari.
Tara ragu. Kursi itu milik kafe dan punya nilai kenangan bagi Bima. Bima sendiri mengangkat bahu.
“Bawa. Kalau kursinya kabur, kita duduk di lantai.”
Tara menulis nomor telepon Galih dan meminta tanda terima sederhana. Mahasiswa itu menerima aturan itu tanpa tersinggung.
Sore harinya, papan tulis sudah penuh nama: Pak Darto untuk engsel, Galih untuk kursi, Bima untuk kipas, Tara untuk menghubungi pengelola lingkungan. Di bawah daftar, Bima menulis: Jangan lupa makan.
“Itu bukan pekerjaan,” kata Tara.
“Justru yang paling sering dilupakan.”
Tara hendak menghapusnya, tetapi perutnya berbunyi lebih dulu. Mereka membeli nasi bungkus di warung sebelah dan makan di meja dekat jendela. Tanpa kursi rotan, meja itu tampak lebih luas.
“Kalau tiga bulan lagi kafe ini tetap rugi, kau akan bagaimana?” tanya Bima.
Tara memandang air di selokan yang mulai mengalir. “Aku belum tahu. Tapi sekarang aku tahu apa yang harus dikerjakan besok.”
Bima mengangguk. Untuk hari itu, daftar di papan sudah cukup.
Setelah pembicaraan itu, Tara menyusun langkah yang paling mungkin untuk membuka kembali Pendar sambil menghitung biaya dan tidak menganggap bantuan sebagai utang budi. Ia menuliskan apa
yang perlu diputuskan hari itu dan apa yang masih bisa menunggu. Bima membaca catatannya sebelum menambahkan
pendapat. Mereka tidak selalu sepakat, tetapi tidak ada keputusan yang diambil hanya karena seseorang paling
keras berbicara atau paling lama bekerja.
Di akhir jam kerja, mereka memeriksa dampak keputusan tersebut pada orang yang sehari-hari menjaga
kafe. Bila ada tugas tambahan, tugas itu dicatat bersama waktu dan upahnya. Bila sesuatu belum mampu dikerjakan,
mereka menyampaikannya kepada pelanggan atau pemilik bangunan dengan alasan yang jelas. Cara itu membuat Pendar
pelan-pelan terasa sebagai usaha bersama, bukan beban yang disembunyikan oleh satu orang.
Tara juga menghubungi pihak yang terkait sebelum membuat janji. Ia tidak ingin Bima, Riko, Sari, atau
Galih mengetahui perubahan penting dari kabar terakhir. Ketika ada perbedaan pendapat, ia meminta mereka
menerangkan risiko dan pilihan yang tersedia. Tidak semua orang langsung senang, tetapi semua orang tahu alasan
keputusan itu dibuat dan kapan mereka dapat mengevaluasinya kembali.
Malamnya, Tara mencatat judul hari itu, "Daftar di Papan Tulis", di buku kecil milik Pendar. Ia menulis bahwa
usaha yang sehat tidak selalu berarti ramai atau terus bertambah. Yang lebih penting, orang-orang di dalamnya
masih punya waktu untuk pulang, beristirahat, dan menyampaikan keberatan sebelum masalah berubah menjadi
kebiasaan. Catatan itu menjadi pegangan untuk langkah berikutnya.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.
Sebelum hari itu berakhir, aku menuliskan satu kesimpulan kecil: keputusan berikut harus tetap menghormati batas yang sudah dibuat Catatan itu tidak memaksa persoalan selesai malam ini. Ia hanya membantuku menentukan langkah berikut dengan lebih tenang dan tidak menjadikan orang lain penanggung jawab atas ketakutanku.