“Bintang itu siapa?”
Pertanyaan itu meluncur dari mulut Reza ketika dirinya dan Salini sudah duduk di mobil.
Percakapan sengit di antara mereka harus terhenti ketika Reza melihat Salini menangis. Perempuan itu bahkan menepis Reza yang berniat untuk menyentuh dan menenangkannya. Kala itu, bibir Salini hanya mampu menggumamkan satu kata, yaitu pulang.
Dengan wajah kalut dan keringat dingin yang membasahi kening, Salini menurut saja ketika Reza berjanji akan mengantarkannya. Sambil memeluk buku catatan hariannya, Salini duduk di samping kursi sopir.
“Aku telah berjanji dengan nama Tuhan enggak akan memberitahu siapapun tentang dia, Mas Re. Tolong hormati keinginanku jika kamu masih ingin pernikahan ini utuh!”
Hening. Reza tak langsung menimpali. Pria itu sibuk dengan kemudi, sedangkan ot