“Minumlah.” Papa Jun menyerahkan segelas teh hangat kepada Amara.
Sementara itu, Salini dan Reza duduk memperhatikan Amara dalam diam. Perempuan yang dulu pernah mereka sebut sebagai sahabat itu nampak kacau. Make up Amara luntur karena air mata, sedangkan keringat menitik di kening serta leher.
Bukan hanya itu saja, luka lebam di sepanjang lengan Amara berhasil meninggalkan rasa ngeri bagi siapapun yang melihatnya.
“Jadi, kamu melarikan diri dari ibumu, naik taksi, menunggu di apartemen suamiku, dan karena suamiku enggak datang-datang lantas kamu berinisiatif untuk datang ke sini?” Salini melemparkan pertanyaan beruntun kepada Amara.
Di dalam benaknya, Salini sedang mereka ulang adegan di mana Amara melarikan diri dari ibu kandungnya sendiri, duduk menunggu di depan pintu apartemen Re