Di dalam kamar Salini, Reza merebahkan tubuh istrinya di atas kasur dengan hati-hati. Sebelum sempat Reza menarik diri, Salini sudah terlebih dahulu menahan leher Reza. Perempuan itu seakan tak ingin menjauh dari Reza.
“Kenapa, Sayang?” tanya Reza lembut.
Kata Sayang yang keluar dari mulut Reza terdengar bagai sanjungan di telinga Salini. Perempuan itu ingin mendengarnya sekali lagi, namun gengsi menahannya.
Salini tersenyum malu-malu sebelum menimpali, “One more kiss, please?”
“Can I?”
Salini mengangguk dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
Senyum itu rupanya menular kepada Reza. Dengan satu tangan yang bertumpu pada kasur, Reza kembali mencumbu Salini. Sedangkan, satu tangannya yang bebas digunakan untuk membelai pipi Salini.
Sapuan lidah Reza terasa hangat di atas bibir Salini.